
"Ini pak uang nya." Aruna memberikan selembar uang tersebut usai menerima sebotol air mineral dari bapak tersebut.
"Ini, bu, kembaliannya." Bapak itu memberikan kembalian lima ribu dan Aruna menerimanya.
"Terima kasih, pak," ucap Aruna.
"Sama-sama," ucap bapak itu kemudian pergi untuk mejajakan dagangan nya pada pengunjung taman yang lain.
Aruna membuka segel penutup air mineral nya lalu di berikan pada Elona. Ia membantu putrinya minum.
"Elona haus, nak."
"Iya, ibu, hehe ..."
"Ya sudah, minum lagi yang banyak, sayang."
"Iya, ibu."
Elona meneguk lagi minumannya.
Tiba-tiba saja pandangan Aruna tertuju pada seseorang yang berdiri tidak jauh darinya. Seketika ia membulatkan matanya sempurna.
__ADS_1
"Ziva?" ucapnya lirih dengan bibir gemetar.
Pandangan mereka akhirnya bertemu dan dengan cepat Aruna mengalihkan pandangannya, pura-pura tidak melihat keberadaan wanita itu.
"Aruna?" ucap Ziva lirih lalu ia segera menghampiri Aruna.
Aruna hendak membawa Elona untuk pergi dari sana, namun sayang Ziva sudah lebih dulu menghampiri.
"Bibi Ziva?" ucap Elona lirih.
"Hai, sayang ..." sapa wanita itu tanpa dosa.
"Elona, ayo kita pergi, sayang," ajak Aruna seraya meraih pergelangan tangan putrinya.
Aruna sedikit terheran, kenapa sikap wanita itu berbeda sekali dengan sikap yang ia temui saat di rumah sakit bersama Haidar.
Aruna menyipitkan matanya menatap wanita di hadapan nya dengan tatapan menyelidiki.
"Sepertinya kau sudah tidak lagi di butuhkan oleh Haidar," tebak Aruna.
"Jangan bahas lagi Haidar di depanku. Aku meminta bantuanmu untuk menyatukan aku dengan Abian. Bisakah kau membantuku?"
__ADS_1
"Dasar wanita tidak tahu diri!" seru Aruna.
"Aku mohon, Aruna. Tolong bantu aku untuk bisa bersatu dengan Abian."
"Bibi Ziva, tolong jangan ganggu ibu aku lagi. Ibu sudah cukup menderita karena perbuatan bibi Ziva. Bibi sudah merebut ayah dari kami. Pergilah, kami tidak ingin melihat wajah bibi Ziva lagi," cetus Elona tanpa Ziva duga sebelumnya.
"Elona ... Memangnya Elona tidak mau bibi bacakan dong lagi?"
"Aku tidak suka cerita dongeng, bahkan fizza makanan favorit aku sekalipun aku tidak lagi menyukainya karena saat itu kita pernah makan bersama," terang bocah itu dengan lantang.
Ziva benar-benar tidak menyangka jika bocah polos itu bisa mengucapkan kalimat demikian.
"Bibi Ziva tidak hanya mengambil ayahku. Bibi Ziva juga telah merenggut kebahagiaan kami. Bibi tahu apa yang terjadi setelah bibi mengambil ayah dari kami? Ibu jadi harus melakukan semua tugas yang sebelumnya ayah lakukan. Ibu kehilangan senyumannya dan hanya tangis yang aku lihat di wajahnya."
Bisa-bisanya Ziva di buat tidak bisa berkata-kata oleh ucapan seorang bocah.
"Bibi Ziva adalah orang paling jahat yang pernah aku temui. Jangan pernah menampakan diri lagi di hadapan kami. Aku tidak ingin melihat ibu menderita dan ibu sampai kehilangan senyum lagi." ucap bocah itu lalu mengajak ibunya pergi dari sana.
Ziva terheran-heran.
"Selama aku tinggal di rumah Aruna, aku mengenal Elona adalah bocah polos yang normal di seusianya. Kenapa sekarang bocah itu tiba-tiba berubah memiliki pemikiran lebih dari orang dewasa?"
__ADS_1
Ziva menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia bingung sekarang ia harus kemana lagi. Ia tidak punya uang sepeser pun dan mungkin terpaksa harus tidur di depan ruko milik orang lain malam ini.
_Bersambung_