
Di ruangan kantornya. Abian duduk termenung. Pikirannya tidak terlepas dari wajah Ziva. Mulai dari sentuhan di dada, sentuhan berupa gesekan di kaki. Pelukan dan ciuman. Ia sudah berusaha mengontrol diri, tapi gagal. Ia mulai tertarik dengan teman istrinya.
Abian menyandarkan punggung nya di sandaran kursi. Kedua matanya terpejam namun bibirnya mengulas senyum. Sebentar lagi anniversary pernikahan nya dengan Aruna yang ke lima tahun. Selama lima tahun menikah dengan Aruna, baru kali ini ia tertarik dengan wanita lain. Dan itu sudah tidak bisa lagi ia pungkiri.
Ia tahu jika apa yang di rasakan saat ini sangatlah salah. Salah besar. Selama ini ia berusaha untuk menghindar, tapi Ziva terus membuatnya jatuh ke dalam pelukan nya.
"Woyyy .." Gebrakan meja membuat Abian sadar dan membuka mata. Ternyata pelakunya adalah Haidar.
"Pagi-pagi kau terlihat bahagia, senyum-senyum sendiri. Ada apa?" tanya pria itu seraya duduk di kursi yang terdapat di sebrang meja hadapan Abian.
Abian menggeleng. "Tidak, tidak apa-apa."
"Benarkah? Kau yakin tidak ingin bercerita?"
"Apa yang harus aku ceritakan padamu?"
"Mengenai hal yang membuatmu senyum-senyum di pagi hari."
Abian diam untuk beberapa saat. Sebelumnya ia bilang kalau ia adalah suami yang sangat setia terhadap sang istri. Tidak mungkin jika ia katakan kalau saat ini ia sedang tertarik dengan wanita lain, apalagi wanita yang ia maksud adalah teman istrinya sendiri. Haidar pasti akan mentertawakan nya.
"Apa kau sedang jatuh cinta lagi?" tebak Haidar dan membuat Abian terkejut.
__ADS_1
"Dari mana kau bisa menyimpulkan hal itu?" Abian balik bertanya.
"Karena aku pernah merasakan nya, Abian. Kau lupa jika tempo hari aku pernah bilang kalau aku di tuduh selingkuh dan aku pun melakukannya? Nah, begitu aku jatuh cinta lagi dengan wanita lain selain istriku, aku sering senyum-senyum sendiri. Sama seperti kau barusan. Makanya aku tanya apa kau sedang jatuh cinta lagi?"
"Entahlah, Haidar. Aku tidak tahu apa yang aku rasakan saat ini."
Haidar memetik jarinya. "Fiks. Kau sedang jatuh cinta lagi dengan wanita lain."
Abian mengerutkan dahinya.
"Abian, kita ini laki-laki. Kita bebas mencintai banyak wanita dan yang terpenting istri kita hanya satu. Selama kau tidak ketahuan selingkuh, maka rumah tanggamu akan baik-baik saja."
"Kita ini masih muda, Abian. Dan rasa bosan itu pasti ada. Sebelum kita turun mesin, kita bebas mencoba. Yaaa, itung-itung memanjakan diri dengan sesuatu yang berbeda. Kau akan menemukan rasa yang baru. Jika kau menikmati, lanjutkan. Tapi jika tidak, tinggalkan. Mudah bukan?"
Abian bergeming. Sebenarnya ia masih ragu. Tapi dengan sikap Ziva padanya selama ini pun sedah membuatnya berkhianat pada Aruna.
"Tidak usah banyak berpikir, Abian. Ikuti saja apa kata hatimu. Jika kau ragu, kau tidak perlu lanjutkan."
"Masalahnya, dia teman istriku, Haidar."
"What?"
__ADS_1
"Jadi dia itu tinggal di rumahku. Dia bermasalah dengan suaminya dan datang ke rumahku. Aruna mengizinkannya tinggal di rumah kami. Awalnya biasa-biasa saja. Tapi semakin ke sini dia kerap menggodaku."
"Dan kau tergoda?"
"Aku tidak tahu. Aku berusaha menahan diri tapi dia terus saja menggodaku. Dia menyentuh dadaku, memelukku, bahkan berani menciumku," terang Abian.
"Owh owh owh .. Luar biasa," ucap Haidar seraya bertepuk tangan.
"Maka dari itu aku bingung. Aku sudah tidak bisa lagi mengontrol diriku."
Haidar mencondongkan wajahnya.
"Anggap saja kau seperti kucing yang di beri daging. Ambil dan nikmati. Kau layani saja maka kau akan mendapat kepuasan."
"Tapi-"
"Aku pergi dulu. Bye."
Haidar meninggalkan ruangan Abian. Entah kenapa ucapan Haidar selalu bisa mempengaruhinya.
_Bersambung_
__ADS_1