GAIRAH TEMAN ISTRIKU

GAIRAH TEMAN ISTRIKU
Cukup Mengejutkan


__ADS_3

Abian menepikan mobilnya sejenak. Jujur, ia sedikit terganggu dengan permintaan putrinya.


"Kenapa berhenti, ayah?" tanya bocah itu.


Abian tidak langsung menjawab pertanyaan putrinya, ia tatap wajah Elona cukup lama.


"Memangnya tidak ada hal lain selain itu, nak?"


"Ayah tidak suka ya?" Wajah Elona tiba-tiba berubah sedih dan menunduk.


"Bukan begitu, sayang. Lihat ayah, nak." Abian mengangkat dagu Elona agar bocah itu mau menatapnya. Setelah itu ia tangkup kedua pipi gemoy Elona.


"Sayang ... Ayah ajak Elona jalan-jalan itu agar ayah bisa punya waktu berdua dengan Elona. Ayah rindu sekali pada Elona. Dan situasinya sekarang juga sudah berbeda dengan dulu. Ayah tidak bisa mengajak Elona pergi kapanpun ayah mau. Jadi ayah hanya ingin menghabiskan waktu ayah dengan Elona saja, tanpa ada orang lain, sayang."


Elona diam. Ia tidak tahu harus berkata apa.


"Elona boleh merindukan orang lain. Tapi tolong hargai ayah juga yang sedang merindukan Elona. Apa Elona memang tidak rindu pada ayah? Sehingga yang ada di pikiran Elona hanya orang itu?"


Elona menggeleng. "Bukan begitu, ayah. Aku juga rindu pada ayah. Tapi aku kepikiran sama paman Haikal karena paman Haikal yang sudah menyelamatkan aku dari bahaya itu. Aku sudah membuat paman Haikal luka sampai tidak bisa jalan."


"Tolong jangan sebut nama itu lagi di depan ayah, Elona. Ayah tidak suka dengar nama itu. Bisa?" ucap Abian tegas


Bibir Elona sudah sedikit mengerucut menahan tangis. Baru kali ini ia mendengar nada bicara ayah nya seperti barusan.


"Elona minta maaf, ayah," ucap bocah itu dengan nada bicara terdengar menahan tangis.

__ADS_1


Pelupuk mata Elona sudah memupuk cairan putih bening yang siap turun kapan saja. Melihat Elona demikian, membuat Abian sadar jika ia baru saja melakukan hal yang seharusnya tidak ia lakukan.


"Sayang, sayang. Ayah minta maaf, ayah minta maaf. Ayah tidak bermaksud bicara seperti itu pada Elona, maaf jika ucapan ayah sampai melukai perasaan Elona. Ayah minta maaf, ya."


Abian membawa Elona ke dalam pelukannya. Ia membelai rambut putrinya dengan sangat lembut dan sesekali memberi kecupan di bagian puncak kepala.


"Maafin ayah ya, sayang."


Elona mengangguk. Meski sebenarnya ia ingin sekali menumpahkan tangis yang sudah tidak dapat lagi ia tahan.


Abian melepaskan pelukannya dan kembali menangkup pipi gembul Elona.


"Kalau begitu kita lanjut jalan-jalan lagi saja, ya. Ayah akan bawa Elona ke tempat yang pastinya bisa buat Elona senang."


"Kemana, ayah?"


"Iya, ayah."


"Senyumnya mana?"


Elona mengangkat sudut bibirnya sekilas.


"Senyum yang cantik, sayang."


Elona kembali mengangkat kedua sudut bibirnya membentuk senyum yang mengembang.

__ADS_1


"Itu baru putri ayah." Abian mengacak pangkal rambut bocah itu dengan gemas, sebelum kemudian ia mengemudikan mobilnya kembali.


Sementara di tempat kediaman Haikal. Gavin tengah mengajak bicara pria itu.


"Aku baru tahu jika wanita yang selama ini kau cintai itu ternyata Aruna," ujar Gavin.


"Iya. Memangnya kenapa? Dan kau belum menjawab pertanyaanku, Vin. Dari mana kau mengenal Aruna?"


"Sedikit rumit, sih."


"Jangan katakan jika kau juga menaksir Aruna!"


Gavin menatap Haikal yang wajahnya tampak serius sekali.


"Apa yang kau simpulkan dari aku dan Aruna?"


"Cepat katakan saja, sejak kapan dan bagaimana kau bisa mengenal Aruna!?" Haikal sudah tidak sabar menunggu jawaban Gavin.


"Ceritanya cukup sensitif, Kal. Itu alasan kenapa aku tidak mengatakannya tadi sejak masih ada Aruna."


"Maksudmu?" Haikal di buat semakin penasaran.


"Begini, Kal. Jadi sahabat Aruna yang berkhianat dengan suaminya seperti yang pernah kau ceritakan padaku itu adalah Ziva, mantan istriku."


Iris mata Haikal melebar seketika. Jujur ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2