GAIRAH TEMAN ISTRIKU

GAIRAH TEMAN ISTRIKU
Haikal Bisa Jalan


__ADS_3

Tidak terasa waktu berlalu, detik berganti menit, berubah menjadi jam, hari, minggu dan juga bulan. Hari ini bertepatan dengan dengan hari ke enam bulan Aruna resmi berpisah dengan Abian. Meski sendiri, ia tidak pernah merasa sepi apalagi sunyi.


Selama itu juga, aktivitas Aruna tidak hanya bekerja mencari nafkah dan mengurus Elona saja. Ia juga merawat Haikal sebisa mungkin meluangkan waktu untuk pria itu. Menemani Kontrol setiap satu minggu sekali ke rumah sakit, sampai akhirnya Haikal bisa berjalan kembali. Dan ini hari merupakan hari pertama Haikal bisa berjalan kembali setelah beberapa bulan tidak berdaya di kursi roda.


Aruna, Dokter, dan suster lainnya ikut terharu melihat Haikal melakukan sujud syukur di lantai. Berkat Allah pria itu di beri kesempatan lagi untuk bisa jalan.


"Asyiiiikk .. Paman bisa jalan lagi ..." Elona bersorak kegirangan.


Haikal bangkit berdiri dan langsung menghambur memeluk Aruna.


"Aruna, terima kasih banyak, Aruna. Terima kasih karena semua ini juga tidak terlepas dari berkat dirimu. Terima kasih sudah menjadi penyemangatku agar aku bisa secepatnya sembuh. Hari ini aku bisa berjalan kembali. Terima kasih, Aruna. Terima kasih."


Haikal meneteskan air mata haru di bahu Aruna dan memeluk erat wanita itu. Sementara Aruna masih mematung, tubuhnya membeku dan napasnya tertahan, masih terkejut tiba-tiba saja Haikal memeluk dirinya.


Setelah sadar, Haikal melepaskan pelukannya dan tidak lupa meminta maaf.


"Maaf, Aruna. Aku sama sekali tidak ada maksud untuk-"

__ADS_1


"Iya, tidak apa-apa," pangkas Aruna tanpa Haikal duga, ia pikir Aruna akan marah.


"Terima kasih," ucap Haikal lagi.


"Iya, ama-sama, Kal."


Aruna dan Haikal saling bertatapan untuk seperkian detik, sampai akhirnya Aruna mengalihkan pandangan lebih dulu karena malu menjadi pusat perhatian Dokter dan suster yang ada di sana.


Haikal beralih pada bocah kecil yang selama ini ikut andil dalam proses penyembuhannya. Ia membungkukan badan dan menangkup kedua pipi Elona.


Haikal kecup kening Elona dalam dan cukup lama. Elona bahagia melihat paman Haikal nya sudah sembuh dan bisa berjalan lagi.


Elona mengangguk. "Sama-sama, paman. Terima kasih karena paman juga sudah menepati janji kita. Setelah ini, bagaimana kalau kita bermain?" pintanya penuh harap.


Haikal menoleh ke arah Aruna.


"Elona, sayang. Jangan dulu, ya. Paman masih dalam proses pemulihan. Ini kan baru hari pertama paman bisa jalan. Lain kali saja, ya," bujuk Aruna.

__ADS_1


Ada binar kekecewaan di kedua manik mata bocah itu, tapi ia berusaha untuk mengertikan keadaan.


"Iya, ibu. Tidak apa-apa," jawab bocah itu. "Paman, lain kita kita bermain, ya."


Haikal mengangguk. "Iya, nanti kita main bersama. Bersama ibu juga. Bagaimana?"


Elona langsung menoleh pada sang ibu. "Mau kan, bu?"


Tadinya Aruna ingin menolak, tapi jika Elona yang minta, ia takut membuat putrinya sedih.


"Iya," jawab Aruna kemudian.


"Yeayy .. Asyiiiikk ... Terima kasih ibu, terima kasih paman Haikal." Elona berdiri di tengah-tengah ibu dan paman Haikal nya, sebelah tangannya menggenggam tangan sang ibu, dan sebelah nya lagi menggenggam tangan Haikal.


Wajah Elona tampak berseri-seri saking bahagianya. Begitupula dengan Aruna yang tidak bisa menyembunyikan ekspresi bahagianya sekarang.


"Terima kasih, Tuhan. Kau telah melimpahkan kebahagiaan padaku hari ini. Terima kasih telah menyembuhkan aku hingga hari ini aku bisa kembali berjalan." ucap Haikal dalam hati.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2