
Cahaya mentari yang menyelinap masuk lewat celah jendela membangunkan Haikal dari tidur panjangnya semalam. Kelopak mata pria itu bergerak-gerak dan perlahan mulai terbuka. Ia mengerjapkan matanya begitu cahaya mentari serasa menusuk pada bagian kornea mata.
"Huaaahhh ..." Haikal menutup mulutnya yang terbuka lebar akibat menguap.
Pandangan nya tertuju pada ponsel yang tergelatak di atas nakas samping tempat tidur. Ia mengecek notifikasi yang masuk ke dalam ponselnya. Dan begitu melihat ada chat masuk dari Aruna, Haikal melebarkan matanya.
"Aruna chat aku?" Haikal mendekatkan ponselnya dengan wajah, takutnya ia salah lihat.
"Iya, benar. Aruna chat aku."
Begitu di lihat dari waktunya, Aruna mengirimkan chat tadi malam. Sekitar pukul sembilan lebih. Dan kebetulan semalam ia memang sudah tidur di jam segitu. Ia merasa lelah lantaran pekerjaannya lumayan banyak.
Haikal membenarkan posisi duduknya, sebelum kemudian ia membuka chat tersebut.
Aruna:
Selamat malam, Haikal. Maaf jika aku mengganggu waktumu. Baru saja Elona memintaku untuk mengajakmu ikut hadir dalam acara sekolahnya. Jika kau tidak sibuk dan tidak keberatan, apa kau berkenan untuk ikut hadir?
Seulas senyum terbit dan mengembang begitu sempurna di bibir Haikal. Ia mengepalkan kedua tangannya di udara, lalu menariknya ke bawah.
"Yes .. Yes ... Yesss ... Sepertinya Elona berhasil membujuk ibunya," ujarnya girang.
__ADS_1
"Aku harus berterima kasih pada Elona, dia sudah memberiku peluang untuk dekat dengan ibunya," ujarnya lagi.
Lalu Haikal menatap kembali ke layar hp, ia mengerikan balasan di room chat Aruna.
Haikal:
Aku pasti akan datang, Aruna. Besok aku akan datang ke rumahmu untuk berangkat bersama.
Usai mengetikkan balasan, Haikal mendekap ponselnya di dada. Dia sudah seperti anak ABG yang sedang kasmaran dan baru saja jatuh cinta.
"Aku sudah tidak sabar untuk ketemu Aruna dan Elona besok."
***
Kanaya mengantar putrinya ke sekolah seperti biasanya. Ia tidak sengaja melihat seseorang berdiri di samping body mobil yang terparkir tidak jauh dari gerbang sekolah tengah celingukan. Begitu pandangan mereka bertemu, seseorang itu berjalan menghampiri.
"Hai, kau mengantar putrimu ke sekolah?" tanya pria itu basa-basi.
"Iya. Kau juga mengantar Elona?" Kanaya bertanya balik.
"Tidak, aku justru datang ke sini karena ingin bertemu dengan putriku. Aku pikir Elona sudah berangkat, ternyata belum."
__ADS_1
"Oh, begitu. Ah ya, kau sudah tahu jika besok sekolah ini mengadakan suatu acara yang mengharuskan orang tua lengkap hadir?"
Pria yang tidak lain adalah Abian itu menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak tahu. Bahkan aku baru tahu darimu."
"Memangnya Aruna atau putrimu tidak ada menghubungi mu? Miss Ayu bilang jika kedua orang tua murid harus hadir. Aku pikir kau sudah tahu."
Abian bergeming. Ia tahu kenapa Aruna tidak ada menghubunginya. Mungkin Aruna sengaja.
"Kalau begitu, aku duluan," pamit Kanaya.
"Iya, silahkan. Terima kasih atas informasinya."
"Ya, sama-sama."
Setelah Kanaya pergi, Abian pun kembali ke mobilnya.
"Jadi besok sekolah Elona mengadakan acara yang mengharuskan kedua orang tua hadir? Aku harus hadir untuk Elona. Kasihan Elona jika aku sebagai ayahnya tidak hadir di acara pentingnya. Semoga dengan ini, juga bisa memperbaiki hubungan antara aku dengan Aruna," ucap Abian penuh harap.
Abian menyalakan mesin mobilnya. Berniat untuk pergi dari sana, dan mengurungkan niat untuk bertemu dengan putrinya hari ini. Biarlah besok menjadi kejutan untuk Elona.
_Bersambung_
__ADS_1