GAIRAH TEMAN ISTRIKU

GAIRAH TEMAN ISTRIKU
Diterima Kerja


__ADS_3

Siang ini Abian merasa senang, lantaran ia di terima kerja di perusahaan yang sebelumnya ia lamar. Dan ia harus segera datang ke kantor tersebut lantaran ia di panggil oleh bos besar perusahaan.


"Mari saya antar," tawar seorang wanita yang merupakan sekretaris bos perusahaan itu.


"Baik, terima kasih," ucap Abian.


Abian berjalan mengikuti langkah wanita tersebut, mereka masuk ke dalam lift dan berhenti di lantai teratas. Hanya beberapa langkah saja setelah keluar dari lift untuk sampai ke ruangan yang saat ini mereka tuju.


"Ini ruangannya." Sekretaris tersebut mempersilahkan Abian untuk masuk ke ruangan tersebut, Abian tak lupa mengucapkan terima kasih padanya.


Sebelum masuk ke dalam ruangan itu, Abian terlebih dahulu mengetuk pintu. Sebab itu merupakan dari bagian attitude yang pernah ia ajarkan di kantornya sebelumnya.


"Masuk!" teriak seseorang dari dalam.


Abian pun membuka pintunya, ia melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut, tak lupa menutup kembali pintunya rapat-rapat.


Abian terkejut begitu melihat siapa pria yang saat ini berada di depan matanya. Pria itu bangkit berdiri dari duduknya.


"Selamat bergabung di perusahaan ku," ucap pria itu menyambut kedatangannya.


"Gavin?"


Pria itu tersebut kemudian mengangguk membenarkan. "Iya. Kau pasti kaget, ya?"

__ADS_1


"Iya. Ternyata perusahaan ini milikmu? Terima kasih sudah memberi aku kesempatan untuk bekerja di sini," ucap Abian kemudian.


"Sama-sama. Silahkan duduk." Gavin memperagakan tangannya mempersilahkan Abian untuk duduk di bagian sofa yang terdapat di ruangannya.


"Aku juga tidak menyangka jika kau melamar kerja di kantorku. Begitu sekretaris ku mengatakan jika karyawan baru di sini bernama Abian, aku jadi teringat denganmu. Maka dari itu aku memintamu untuk menemuiku langsung untuk memastikan jika Abian yang melamar kerja di perusahaan ku itu sama dengan Abian yang aku kenal," jelas Gavin.


"Iya. Jadi waktu mobilku mogok, aku sedang mencari pekerjaan. Sebab perusahaan ku sebelumnya mengalami kebangkrutan. Maka dari itu aku memutuskan untuk melamar di perusahaan mu, sebab aku mendapat informasi dari seseorang."


Gavin tersenyum. "Kau pasti tidak mengenali orang yang memberimu informasi itu kan?"


Abian menggeleng. "Tidak, aku tidak mengenalinya. Tapi tunggu, kenapa kau bisa mengetahuinya?"


Gavin menghela napas panjang, lalu menghembuskan nya secara perlahan.


Abisan mengerutkan keningnya. Ia masih tidak begitu paham dengan ucapan Gavin.


"Kau bilang kau yang mengutus seseorang untuk memberiku informasi mengenai lowongan pekerjaan di sini, tapi kenapa kau tadi tidak menyangka jika aku melamar kerja di perusahaanmu?"


"Itu karena aku pikir kau tidak tertarik dengan penawaran seseorang yang ku utus untuk memberimu info lowker. Maka dari itu aku tidak menyangka jika kau memang beneran melamar kerja di sini," terang Gavin.


Abian mengangguk-anggukan kepalanya. Sekarang ia sedikit lebih paham.


"Tapi kenapa kau begitu baik padaku?"

__ADS_1


"Kau dan aku ini sama-sama korban Ziva. Jika orang lain mungkin akan bermusuhan, tapi justru aku merasa kasihan. Karena Ziva, keluargamu jadi berantakan."


Abian terdiam. Ia beruntung bisa kenal dengan pria sebaik Gavin. Pria itu benar, jika orang lain mungkin akan menjadi musuh. Tapi Gavin justru menjadikannya sebagai teman.


"Terima kasih atas kebaikanmu, aku janji akan membalas kebaikanmu suatu hari nanti," ucap Abian.


"Iya, sama-sama. Mulai besok, kau sudah bisa kerja di sini."


Satu sisi Abian merasa senang, tapi di sisi lain ia merasa bingung, besok ada acara penting di sekolah putrinya dan ia harus datang.


"Maaf sebelumnya, aku sangat berterima kasih sekali padamu lantaran besok aku sudah bisa mulai bekerja. Tapi besok aku harus datang ke acara sekolah putriku, sebab sekolah putriku sedang mengadakan acara yang mengharuskan kedua orang tuanya datang," terang Abian.


"Oh, begitu. Ya sudah, kalau begitu besok kau datang saja ke sekolah putrimu. Kau bisa mulai bekerja lusa. Bagaimana?"


"Sungguh?"


"Iya, tentu saja aku bersungguh-sungguh."


"Terima kasih banyak, Gavin. Terima kasih. Kau baik sekali," ucap Abian seraya menelungkupkan kedua tangannya.


"Iya, sama-sama."


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2