
"PERGI DARI SINI ..!! PERGIII ...!!!" Haidar mengeluarkan semua barang-barang Ziva.
Wanita itu berlutut di depan kaki Haidar seraya memohon agar tidak mengusirnya dari sana.
"Haidar, aku mohon. Jangan usir aku, aku mohon. Aku tidak tahu harus tinggal dimana. Aku mohon jangan usir aku. Aku janji tidak akan menggangu lagi privasimu."
Haidar menghentakkan kakinya sehingga tubuh Ziva terdorong jauh. Wanita itu memekik kesakitan lantaran tubuhnya terpentok ke tembok.
"Aku sudah memberimu kesempatan untuk tidak mengatur hidupku. Tidak ada seorang pun yang bisa mengatur hidupku. Sepenuhnya aku yang memegang kendali hidupku. Kenapa kau selalu saja ikut campur? Sekarang cepat pergi dari sini!"
Haidar melempar seluruh barang-barang Ziva dan juga mendorong tubuh wanita itu hingga keluar dari unit apartemennya.
"Haidar, aku mohon ... Haidar ..."
Ziva berusaha bangkit berdiri dan dan menggedor-gedor pintu tersebut cukup keras. Namun Haidar tidak juga membukakan pintunya.
"Aarrgghhh ..."
Ziva mengacak seluruh barang-barang nya. Padahal ia sudah memohon bahkan rela berlutut di hadapan pria itu, sesuatu yang paling anti ia lakukan. Ia memelas dan berpikir Haidar akan kasihan padanya, tapi ternyata Haidar berbeda dengan pria lainnya. Dia bukan pria sembarang yang mudah masuk ke perangkap tipu dayanya.
"Awas saja kau, Haidar. Kau pasti akan menyesal telah menyia-nyiakan aku." ucap Ziva dengan geram.
Ia memunguti lagi barang-barangnya dan memutuskan untuk pergi dari sana. Berjalan menyusuri bahu jalan berharap ada seseorang yang kasihan melihatnya. Namun sepanjang perjalanan, tidak ada satupun orang yang menyapanya. Apalagi kasihan.
__ADS_1
Lantaran cuaca cukup terik, ia memutuskan untuk berhenti sejenak di bawah pohon rindang. Menyeka keringat yang bercucuran di pelipis. Dahaganya sangat haus, tapi sepeser pun ia tidak punya uang untuk membeli minum.
Tiba-tiba saja ia melihat sebuah mobil yang dulu pernah membawanya ke tempat yang baginya beraka. Ia di anggap wanita gelandangan yang punya masalah jiwa.
Ia langsung bersembunyi di balik pohon tersebut dengan perasaan takut. Jujur ia trauma melihat mobil itu. Jangan sampai ia mengalami hal buruk serupa untuk kedua kali. Susah paya ia keluar melarikan diri dari tempat itu, ia tidak boleh tertangkap lagi.
"Aku mohon cepatlah pergi, jangan sampai berhenti di sini," ucap Ziva penuh harap.
Tangannya sudah mengeluarkan keringat dingin, ia benar-benar ketakutan. Sialnya, mobil itu justru berhenti di sebrang pohon. Iris mata wanita itu melebar, dengan cepat ia membungkam mulutnya agar tidak sampai mengeluarkan suara. Sebisa mungkin ia juga tahan napas.
"Kenapa berhenti?" tanya salah satu petugas pada petugas lain yang bertugas mengemudikan mobil.
"Ada barang-barang di sana?" tunjuk nya pada barang-barang berupa koper dan yang lainnya di bawah pohon besar.
Petugas tersebut mengikuti arah pandang temannya.
"Tidak, tidak mungkin seseorang meninggalkan barang-barangnya sementara di pinggir jalan. Itu pasti sengaja di buang. Bagaimana kalau kita ambil saja dan di berikan pada orang yang lebih membutuhkan?"
"Kalau begitu kita tunggu saja lima menit. Jika tidak ada orang yang kembali untuk mengambil barangnya, maka barang itu memang sengaja di buang."
Petugas yang bagian mengemudikan mobil itu mengangguk setuju. Mereka memilih untuk menunggu selama lima menit di sana.
"Ah ya ampun, kenapa mobilnya tidak bergerak? Kenapa mereka diam di sana?"
__ADS_1
Seorang petugas kebersihan berjalan ke sama dengan membawa gerobaknya. Tiba-tiba saja raut wajahnya yang sedih dan murung berubah senang begitu melihat ada banyak barang di bawah pohon besar. Ia membawa gerobaknya menuju tempat dimana ada barang tersebut dengan semangat.
"Alhamdulillaaah ... Rejeki orang baik." ucapnya.
Ziva kembali membulatkan matanya sempurna mendengar suara orang tersebut.
"Ah ya ampun, barang-barangku," ujarnya kemudian mengintip ke belakang.
Ziva cukup di buat terkejut begitu melihat seorang petugas kebersihan tengah mengangkut barang-barangnya ke dalam gerobak sampah. Ingin rasanya ia keluar dari tempat persembunyian dan menegur orang tersebut. Hanya saja keberadaannya jauh lebih penting di bandung barang-barang itu saat ini.
"Sial, mobil itu masih saja di sini."
Ziva terpaksa tetap diam di tempat, tidak ada pilihan lain selain itu.
"Oh ternyata barang itu milik petugas kebersihan," ujar petugas yang mengemudikan mobil.
"Ya sudah, kalau begitu kita lanjut cari gelandangan lain." kata temannya.
"Iya."
Petugas itupun kembali melakukan mobilnya setelah petugas kebersihan pergi membawa barang-barang tadi.
Ziva menghela napas lega begitu mobil itu sudah pergi dari sana. Ia keluar dari tempat persembunyian nya dan mencari petugas kebersihan yang membawa barangnya. Akan tetapi petugas kebersihan itu sudah tidak ada lagi di sana.
__ADS_1
"Oh my god, kenapa hidup aku selalu saja sial!?" gerutu wanita itu.
_Bersambung_