GAIRAH TEMAN ISTRIKU

GAIRAH TEMAN ISTRIKU
Dunia Selebar Daun Kelor


__ADS_3

"Haikal, apa ini maksudnya. Kenapa tadi kau bilang jika sepupumu tidak bisa datang? Tapi Gavin yang ternyata sepupumu ini datang atas permintaanmu. Kenapa?"


Aruna merasa jika dirinya di bohongi. Haikal menunduk. Ia mengaku bersalah.


"Aku minta maaf, Aruna. Aku tidak bermaksud untuk membohongimu. Maaf jika aku sudah membuang waktumu hanya untuk menemui aku. Aku minta maaf," ucap Haikal memohon.


"Aku tidak mempermasalahkan aku datang ke sini nya, Haikal. Tapi kenapa kau harus berbohong?"


Gavin jadi merasa tidak enak berada di tengah-tengah antara perdebatan mereka. Dari sini ia bisa melihat betapa besarnya cinta Haikal pada Aruna meski Haikal masih menggunakan cara yang salah. Di sisi lain, ia juga dapat melihat begitu besar perjuangan Abian untuk bisa kembali pada wanita itu.


"Sudah, sudah." Gavin berusaha melerai perdebatan mereka. "Haikal, Aruna, aku minta maaf jika kalian merasa aku ini ikut campur. Terutama buatmu Aruna, aku bisa jelaskan padamu. Haikal memang memintaku untuk belikan dia obat, tapi aku tadi sempat bilang tidak bisa karena akan ada meeting dadakan di kantor. Tapi setelah sekretaris ku bilang jika meeting nya batal, aku tidak jadi datang ke kantor. Karena sudah di jalan, aku memutuskan untuk langsung datang ke sini dan mampir ke apotek dulu," jelas pria itu.


"Sungguh? Apa kau tidak ikut membohongiku?" tanya Aruna ragu.


"Apa untungnya aku berbohong? Tidak ada."


Setelah Gavin berhasil meyakinkannya, ia tatap wajah Haikal lagi. Pria itu sedikit menunduk.


"Haikal, aku minta maaf ya sudah menuduhmu. Karena aku paling tidak suka di bohongi," ucap Aruna.


Haikal mengangguk. "Iya, tidak apa-apa, Aruna."

__ADS_1


Gavin menghela napas lega lantaran ia berhasil meyakinkan Aruna. Begi pun dengan Haikal karena Aruna tidak jadi marah padanya.


"Kalau begitu aku permisi keluar sebentar, ya," pamit Gavin.


"Mau kemana?" tanya Haikal.


"Aku tahu kalian butuh ruang," jawab pria itu lalu pergi dari sana.


Kini hanya ada Aruna dan Haikal saja berdua di sana, namun pintu kamarnya sengaja tetap di buka. Aruna duduk di tepi ranjang, sementara Haikal masih berada di kursi roda.


"Elona kemana?" tanya Haikal setelah beberapa saat mereka saling diam.


"Elona di ajak ibu Zahrana, orang yang selalu menjaga dia di saat aku bekerja, untuk datang ke sebuah acara pesta keluarga."


Aruna menggeleng.


"Padahal aku juga ingin sekali bertemu dengan putrimu. Terakhir ketemu di rumah sakit, tapi tidak sempat saling bicara."


"Sebenarnya Elona juga merindukanmu."


"Benarkah?"

__ADS_1


"Iya. Dia memintaku untuk menanyakan alamat rumahmu saking ingin bertemu denganmu."


"Lalu kenapa kau tidak bilang?"


Aruna diam.


"Lain kali, bawa Elona ke sini, ya. Aku rindu dengannya," pinta Haikal penuh harap.


"Iya."


Haikal merasa senang begitu Aruna mengatakan jika Elona pun merindukan nya.


Sementara di ruang tamu, Gavin masih tidak percaya dengan apa yang terjadi hari ini.


"Dunia ini sempit, ya. Aku menikah dengan Ziva, Ziva itu teman Aruna, Aruna mantan istri Abian yang aku temui di jalan, dan sekarang Haikal sepupuku mencintai wanita, dan ternyata wanita itu Aruna."


Gavin menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Jadi pria yang selama ini Abian ceritakan sedang dekat dengan putrinya itu Haikal, sepupuku. Dan wanita yang selalu Haikal ceritakan ini ternyata Aruna, mantan istrinya Abian. Oh Tuhan, ternyata memang benar apa kata pepatah jika dunia hanya selebar daun kelor."


Gavin menyandar kan punggungnya di sandaran sofa.

__ADS_1


"Kira-kira bagaimana ya reaksi Abian kalau tahu jika pria yang saat ini sedang mendekati Aruna dan putrinya itu adalah sepupuku?" pikirnya.


_Bersambung_


__ADS_2