GAIRAH TEMAN ISTRIKU

GAIRAH TEMAN ISTRIKU
Telat Pulang


__ADS_3

Jam tujuh malam, Aruna sedikit cemas lantaran Elona belum juga pulang. Meski Elona pergi bersama ayahnya sendiri, tetap saja Aruna merasa tidak tenang.


"Seharusnya Abian sudah mengantarkan Elona pulang. Dia janjinya sebentar, tapi kenapa sudah jam segini dia belum juga mengantarkannya pulang."


Aruna berjalan mondar-mandir layaknya setrikaan. Ia di selimuti kegelisahan, khawatir terjadi sesuatu pada putrinya. Berulang kali menatap jam dinding yang menempel di tembok ruang tengah.


Lima menit berikutnya, ia mendengar suara mobil yang memasuki halaman rumah. Lalu ia bergegas keluar rumah. Aruna bisa sedikit bernapas lega, lantaran yang datang adalah mobil Abian.


Pria itu keluar dari mobil dan membukakan pintu samping. Elona turun dari mobil dan langsung di gendong depan oleh Abian.


"Ibuuu ..." panggil bocah itu dengan ekspresi wajah tampak senang.


Abian menurunkan Elona saat dia sudah berdiri di depan Aruna.


Aruna membungkukan badannya dan menangkup kedua pipi sang putri.


"Elona dari mana saja, sayang? Kenapa lama sekali? Ibu khawatir," ungkap Aruna.


"Maaf, ibu. Aku terlalu senang sampai lupa waktunya pulang. Aku minta maaf ya, bu," ucap bocah itu.


"Iya, Aruna. Aku minta maaf karena sudah membuatmu cemas dan juga tidak menepati janji pergi sebentar. Tadi Elona tidak mau di ajak pulang saat di tempat bermain," sahut Abian.

__ADS_1


"Iya, tidak apa-apa. Tapi lain kali, bawa Elona pulang sebelum matahari terbenam."


"Iya, aku janji." Abian berharap dengan ini Aruna tidak akan melarangnya untuk membawa Elona jalan-jalan di lain hari.


"Kalau begitu aku pamit pulang. Sekali lagi aku minta maaf karena sudah membuatmu khawatir," pamit Abian.


"Iya."


"Elona, sayang. Ayah pulang dulu, ya. Lain kali kita jalan-jalan lagi."


"Iya, ayah. Terima kasih sudah membuatku senang hari ini. Maaf jika aku tadi sampai membuat ayah kesal."


"Iya, hati-hati, ayah."


Abian pergi usai meninggalkan sebuah kecupan singkat di kening Elona. Elona melambaikan tangan seiring ayah beserta mobilnya berlalu meninggalkan halaman rumah.


Setelah Abian benar-benar pergi, Aruna segera mengajak Elona untuk masuk ke dalam. Selain Elona harus makan malam, Elona juga harus bersih-bersih badan dulu.


Lima belas menit berikutnya, Elona sudah berada di meja makan. Aruna menyiapkan makan malam dengan menu sederhana yang seadanya.


"Memangnya tadi Elona jalan-jalan kemana?" tanya Aruna sembari menaruh makanan ke piring yang ada di hadapan putrinya.

__ADS_1


"Ke tempat bermain anak-anak, ibu."


"Elona senang?"


"Tentu. Banyak sekali wahana permainan di sana. Banyak juga anak-anak seusiaku. Kita saling berkenalan dan aku mendapat banyak teman. Mereka baik-baik dan aku sangat senang bisa kenal dengan mereka, walaupun hanya sebentar." Elona menceritakannya dengan semangat.


"Bagus kalau Elona mudah berbaur dengan orang lain. Yang terpenting Elona harus tetap jaga etika apalagi dengan orang yang baru saja kita kenal," pesan Aruna.


"Iya, ibu."


"Ya sudah, sekarang berdo'a dulu lalu makan dan habiskan makanannya."


"Baik, ibu. Terima kasih."


"Sama-sama, sayang."


Aruna meletakkan gelas berisi air putih yang baru saja ia tuangkan untuk putrinya. Setelah itu, barulah ia mengambil makan beserta minum untuk dirinya sendiri.


Di sela-sela makan berlangsung, Elona masih saja semangat menceritakan apa yang di laluinya tadi bersama sang ayah. Aruna ikut senang jika putrinya senang. Dan memang benar apa kata Haikal, Abian mungkin hanya gagal sebagai suaminya, tapi tidak sebagai ayah dari putrinya.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2