GAIRAH TEMAN ISTRIKU

GAIRAH TEMAN ISTRIKU
Penjelasan


__ADS_3

"Kau tenang saja, Abian. Kau tidak perlu mengkhawatirkan soal itu. Haikal itu orangnya baik dan aku yakin dia tidak akan tega memisahkan putrimu dengan dirimu."


Gavin tidak sadar dengan apa yang baru saja ia ucapkan.


"Dari mana kau tahu dia baik? Apakah kau mengenalnya?" seru Abian seketika menyadarkan Gavin jika dia baru saja keceplosan.


Untuk nama, Abian sudah pernah mengatakan sebelumnya jika pria yang sedang mendekati keluarga kecilnya itu namanya Haikal. Tapi yang membuat ia bingung, darimana Gavin bisa menyimpulkan kalau Haikal itu orang baik. Apa Gavin mengenalnya?


Gavin diam untuk beberapa saat. Sebelum kemudian ia memilih untuk berkata jujur saja.


"Pria yang selama ini kau ceritakan padaku sedang mendekati Aruna itu ternyata Haikal sepupu. Dan aku juga baru tahu kemarin."


Pernyataan Gavin sungguh mengejutkan. Hingga membuat iris mata Abian melebar.


"Tolong jelaskan padaku apa maksudmu? Apa selama ini kau berada di pihak pria itu dan berpura-pura untuk menjadi pendengar ceritaku? Oleh karena itu kau sampai mengutus seseorang untuk memberi lowongan pekerjaan untukku di perusahaanmu?"


"Tidak, Abian. Aku tidak seperti yang saat ini kau pikirkan. Aku juga kaget begitu mengetahuinya sama sepertimu. Dan aku baru tahu kemarin."


"Bisa jelaskan padaku sekarang agar aku tidak salah paham denganmu!?"

__ADS_1


"Ya, aku akan menjelaskannya padamu."


"Ok, sekarang tolong jelaskan padaku."


"Baik, jadi begini-"


"Permisi ..." Kedatangan seorang pelayan restoran yang mengantarkan makanan memotong kalimat Gavin.


Terpaksa Gavin harus menunda penjelasannya sementara pelayan itu masih ada di sana. Sedangkan Abian sudah tidak sabar mendengar penjelasan Gavin.


Setelah pelayan itu pergi, Abian kembali mencecar Gavin untuk segera menceritakan hal tersebut.


"Jadi begini, Abian. Kemarin sepupuku Haikal, memintaku untuk membelikan obat di apotek dan akupun membelikan nya. Aku datang ke rumahnya pagi-pagi dan ternyata di sana sudah ada Aruna."


Gavin mengangguk membenarkan.


"Maksudmu Aruna menginap di rumah pria itu?"


"Tidak, bukan seperti itu. Aruna datang ke sana atas permintaan Haikal lantaran Haikal butuh bantuan. Ya mungkin karena Aruna merasa jika Haikal seperti itu karena telah menyelamatkan putrinya, putrimu juga, jadi Aruna datang dan membantunya. Di sana, aku cukup terkejut dengan kehadirannya. Tapi Haikal menjelaskan jika Aruna adalah teman sekaligus ibu dari anak yang ia selamatkan."

__ADS_1


"Yakin dia hanya menjelaskan jika Aruna adalah temannya?" tanya Abian ragu.


Gavin mengangguk. Terpaksa ia berbohong meski ia tidak sedang berada di pihak siapapun termasuk Haikal sepupunya. Hanya saja ia tidak ingin membuat keadaan menjadi buruk jika berkata jujur.


"Kau yakin sepupumu tidak pernah cerita jika dia sedang mendekati seorang wanita dan wanita itu adalah Aruna?"


Gavin menggeleng. "Dia memang sepupuku, tapi kami tidak begitu dekat."


"Sungguh?"


"Ya, kau mulai ragu padaku?"


"Aku hanya memastikan saja."


"Ya kalaupun Haikal memang seperti apa yang saat ini kau pikirkan yaitu sedang berusaha mendekati Aruna, apa itu masalah bagimu? Bukankah kau sudah katakan sebelumnya kau akan ikhlas dan membiarkan Aruna menemukan kebahagiaannya meski kebahagiaan itu bukan bersumber dari mu."


Abian bergeming. Apa yang baru saja Gavin katakan itu ada benarnya. Jika ia masih belum bisa merelakan Aruan di dekati oleh pria lain, itu artinya ia belum bisa ikhlas. Baginya itu terlalu cepat.


"Iya, kau benar, Gavin. Mungkin sudah saatnya aku move on dari Aruna. Yang terpenting Aruna bisa bahagia. Karena aku gagal membahagiakan nya."

__ADS_1


Melihat Abian yang sudah seperti itu, Gavin kembali tidak tega. Ia berusaha mengalihkan pembicaraan dengan meminta Abian untuk melanjutkan makannya. Sebab jam makan siang akan segera selesai.


_Bersambung_


__ADS_2