GAIRAH TEMAN ISTRIKU

GAIRAH TEMAN ISTRIKU
Perdebatan


__ADS_3

Aruna menjatuhkan dirinya di atas sofa ruang tamu. Bukan hanya tubuhnya saja yang lelah, batin nya juga.


Lima tahun bukanlah waktu yang singkat untuk mengarungi sebuah bahtera rumah tangga. Sudah, senang, ia lalui bersama dengan Abian.


Ia menikah dengan Abian karena menjalin hubungan sebelumnya. Bukan karena perjodohan, nikah paksa, ataupun menjadi pengantin pengganti. Tapi sayang nya, kisah cintanya berakhir dengan tragis karena kehadiran seorang temannya sendiri.


Aruna benar-benar menyesal sudah gegabah dan terlalu percaya pada Ziva. Siapa sangka, orang yang ia anggap paling baik pun sanggup mengkhianatinya. Ia seperti menolong seekor anjing, yang sudah di tolong malah balik menggigit.


Tapi Aruna yakin, luka nya pasti akan sembuh dengan sendirinya. Ini hanya perihal waktu. Dan ia berharap tidak berlarut dalam lembah kesedihan itu.


"Huffftt ..." Aruna menghembuskan napas seraya mengusap wajahnya.


"Aku tidak boleh kalah dengan keadaan. Aku tidak boleh lemah. Masih ada orang baik dan sayang di sekitarku."


"Demi Elona, aku harus semangat."


Aruna sedang berusaha meyakinkan diri. Bahwa ia mampu berdiri di kakinya sendiri.

__ADS_1


Sementara di tempat lain, seorang wanita yang sudah menjadi gelandangan itu kini tengah duduk di bahu jalan. Terdapat gelas plastik bekas minuman di sebelahnya, yang ia jadikan wadah uang jika ada orang lewat.


"Ah ya ampun, kenapa uangnya belum juga terkumpul. Aku lapar sekali," keluhnya.


Ia meringis menahan lapar. Beberapa hari ini ia terpaksa harus makan makanan yang ia dapat dari tong sampah. Yang tentunya bekas orang dan tidak jarang pula ada yang sudah basi.


"Malangnya nasibku. Bukannya jadi model, malah jadi gembel," desisnya.


Ya, siapa lagi dia kalau bukan Ziva.


Ziva menekuk lututnya dan membenamkan kepalanya di antara kedua lutut. Tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti tepat di hadapannya. Ia tidak terlalu memperdulikan mobil tersebut, paling itu mobil yang memang kebetulan berhenti.


Dua orang masing-masing mengangkat tangan Ziva agar bangun dari duduknya. Wanita itu tentunya terkejut dengan apa yang kedua orang itu lakukan.


"Ada apa ini?" seru Ziva sambil kebingungan.


Kedua orang itu tidak menjelaskan apa-apa, mereka menyeretnya untuk masuk ke dalam mobil di mana terdapat beberapa gelandangan juga di sana.

__ADS_1


Kedua mata Ziva membulat, sepertinya dua pria yang menyeretnya ini adalah seorang petugas yang mengamankan suatu tempat dari gelandangan.


"Lepaskan aku! Aku bukan gelandangan. Aku masih waras! Lepaskan aku!" seru Ziva dengan tubuh yang meronta.


Kedua pria itu tidak memperdulikan nya, mereka tetap memasukan dirinya ke dalam mobil untuk bergabung dengan yang lain.


"Tidak, tidak, tidak. Aku tidak ingin bersama mereka, aku masih waras! Tolong lepaskan!"


Ziva memberontak dan berusaha untuk kabur, namun tenaganya tidak sebesar kedua pria petugas yang badan besar.


"Tidak perlu takut, kami akan membawamu ke tempat yang layak," ujar salah satu dari kedua orang tersebut.


"Tidak, tidak. Aku tidak mau. Biarkan aku pergi, aku tidak ingin ikut dengan kalian."


Kedua orang itu tetap memasukan Ziva dan menggabungkan nya dengan gelandangan yang lain. Setelah itu mobil pun kembali di lajukan untuk mencari gelandangan lain.


Ziva sangat ketakutan, pasalnya gelandangan yang lain bukan orang yang masih waras seperti dirinya. Melainkan orang dengan jiwa yang sedikit terganggu.

__ADS_1


"Kenapa hidupku jadi seperti ini, sih?" desisnya.


_Bersambung_


__ADS_2