GAIRAH TEMAN ISTRIKU

GAIRAH TEMAN ISTRIKU
Teguran


__ADS_3

Abian tersenyum getir. Ia menyudahi tangisnya dan menyeka air mata yang mengalir deras di pipinya. Rasanya percuma jika ia menangis darah sekalipun, itu tidak akan berpengaruh baginya untuk bisa kembali bersama Aruna. Tapi ia sangat bersyukur lantaran hari ini di beri kesempatan untuk berduaan dengan putrinya.


Abian jadi berpikir, andai yang berhasil menolong Elona tadi itu dirinya. Mungkin yang saat ini Elona peluk, dan Aruna temani di rumah sakit bukan pria itu, melainkan dirinya. Sekaligus menjadi kesempatan untuknya bisa berkumpul dengan keluarga kecilnya.


"Sayangnya aku kalah cepat dengan dia. Aku yakin, dia pasti memanfaatkan kesempatan ini untuk mencari perhatian Aruna."


Abian mengepalkan tangannya lalu ia memukul stir dengan cukup keras.


"Aku saja belum rela jika harus kehilangan Aruna, apalagi jika aku harus kehilangan Elona dari pelukanku. Aku tidak sanggup."


Abian memegang kedua sisi kepala nya, kepala nya sangat sakit sekali. Sepertinya ia harus segera pulang untuk istirahat, lantaran besok pagi ia sudah harus mulai bekerja. Siapa tahu besok ia bertemu dengan Gavin, mengobrol dengan pria itu agar hatinya bisa sedikit lebih lega.


Kembali ke ruangan tempat Haikal dan Elona berada. Bocah itu masih mengungkapkan rasa bahagia nya melihat pria di hadapannya sudah bisa tersenyum.


"Paman Haikal beneran baik-baik saja?" tanya bocah itu sambil duduk di tepi ranjang pasien.


"Paman Haikal baik-baik saja, cantik. Elona tidak usah khawatir, ya," jawab pria itu.


"Aku sangat mengkhawatirkan paman. Paman terluka karena harus menolongku. Terima kasih ya, paman. Cepat sembuh, ya, paman."


"Iya, makasih ya do'a nya."


"Sama-sama, paman."


Keduanya saling menatap dengan binar bahagia. Haikal jadi berpikir, andai saja harapannya untuk bisa menjadi bagian keluarga kecil mereka terwujud, makan hidupnya akan terasa lebih lengkap. Ia tidak akan lagi merasa hampa meski bergelimang harta.


"Maaf ya ibu lam-" Kalimat Aruna terhenti begitu melihat putrinya tengah bercanda dengan pria yang terbaring di atas ranjang.

__ADS_1


Dan bercanda keduanya terhenti begitu Aruna datang. Wajah Elona tegang seketika.


"Elona, sayang. Kenapa Elona bangunkan paman Haikal, nak? Elona kan sudah janji sama ibu untuk tidak mengganggu paman Haikal," tegur Aruna sambil berjalan menghampiri Elona yang kini menunduk.


"Maaf, ibu," ucap bocah itu tak berani menatap ibunya.


"Jangan marahi Elona ya, Aruna. Elona tidak membangunkan aku, aku yang terbangun sendiri," sahut Haikal.


Elona menatap ibunya sekilas, sebelum akhirnya ia kembali menunduk.


Aruna memegang kedua sisi bahu putrinya. Ia tatap wajah Elona.


"Maafkan ibu ya, sayang. Ibu tidak marah pada Elona, ibu hanya ingin Elona bisa menepati janji. Lihat ibu, nak."


Elona perlahan mendongakan wajahnya dan memberanikan diri membalas tatapan sang ibu.


"Iya. Tapi lain kali, Elona harus bisa menepati janji. Ok!?" Aruna memberikan jari kelingkingnya, Elona pun menautkan jari kelingking miliknya dengan sang ibu.


"Iya, ibu."


Aruna lekas mencium putrinya. Sungguh pemandangan yang luar biasa bagi Haikal.


Aruna menegakkan lagi berdirinya. Pandangannya beralih pada Haikal.


"Haikal, ini sudah terlalu malam untuk Elona. Besok Elona harus kembali ke sekolah, dan Aku juga harus kembali bekerja. Aku pamit pulang dulu, ya. Besok kalau aku ada waktu, aku akan kembali ke sini. Tidak apa-apa kan?"


Haikal mengangguk mengerti. "Iya, Aruna. Tidak apa-apa. Terima kasih sudah menemaniku di sini."

__ADS_1


"Aku yang seharusnya berterima kasih padamu, Haikal. Terima kasih sudah menyelamatkan Elona sampai harus mengorbankan dirimu sendiri."


"Iya, sama-sama."


"Aku pamit, ya."


"Naik apa?"


"Nanti aku pesan taksi online."


"Ya sudah, hati-hati, ya."


"Iya," jawab Aruna.


"Paman, aku pulang dulu, ya," pamit Elona.


"Iya, cantik. Hati-hati di jalan, ya."


"Baik, paman. Ayo, bu."


"Iya, ayo."


Aruna dan putrinya pun bergegas keluar dari ruangan tersebut. Lagipula waktunya sudah habis menjenguk Haikal di waktu jam istirahatnya.


Haikal memandang ke arah perginya mereka, seulas senyum terbit dari kedua sudut bibirnya.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2