
Di depan sana terdapat sebuah pertigaan, Ziva mendengar suara riuh orang-orang dari tikungan jalan sebelah kanan.
"Aku harus ke sana untuk mengeceknya."
Ziva bergegas pergi dari sana, ia khawatir terjadi sesuatu di sana. Hanya seratus meter dari tempatnya istirahat di halte tadi, ia belok ke arah kanan. Lima puluh meter dari sana, ia melihat sebuah kecelakaan mobil dengan truk. Beberapa orang berkerumun di sana.
"Ada kecelakaan?"
Awalnya ia tidak tertarik dengan apa yang terjadi di depan matanya. Tapi entah kenapa ada sesuatu yang mendorongnya untuk pergi ke sana.
Sampai di tempat kejadian peristiwa, ia membelah kerumunan orang-orang yang tampak panik.
"Permisi ... Permisi .. Ada apa ini?"
Semua orang menyingkir begitu ia datang, lantaran mereka pikir ia adalah seorang gelandangan.
Begitu melihat siapa orang yang menjadi kecelakaan tersebut, Ziva membungkam mulutnya. Kedua bola matanya membulat sempurna.
"Haidar???"
Ziva menggeleng kuat. "Tidak, tidak, tidak. Ini pasti hanya mimpi."
__ADS_1
Ia berusaha menampar pipinya sendiri untuk memastikan apa yang di lihatnya saat ini adalah sebuah kenyataan.
"Oh my god, ini beneran Haidar?"
Ziva masih tidak menyangka jika pria yang merupakan ayah dari bayi yang saat ini ia kandung sudah tidak bernyawa. Pria itu berlumuran darah di bagian kepala dan juga telinga akibat benturan keras.
Ziva memutuskan untuk pergi dari sana, menjauh dari tempat itu dengan lari kecil.
Setelah pergi jauh dari sana, ia duduk di bahu jalan. Napasnya tersengal dan wajahnya terlihat seperti orang linglung.
"Apa yang aku lihat tadi beneran Haidar? Lalu bagaimana nasib anak ini?" Ziva refleks mengusap perutnya.
"Tidak, tidak. Kenapa aku memikirkan pria itu dan bayi ini? Haidar pantas mati, itu balasan baginya atas perbuatannya. Dan aku akan tetap membuang anak ini ke panti asuhan. Ya, aku akan membuangnya."
"Kenapa dia selalu merespon ketika aku akan mengatakan akan membuangnya ke panti asuhan? Apa ini pertanda jika dia tidak mau kubuang?" pikirnya.
Ziva mengusap perutnya. "Maaf, ya. Aku terpaksa harus membuangmu. Aku tidak ingin sengsara karena harus mengurus bayi seorang diri dalam keadaan seperti ini. Kau lebih aman berada di panti asuhan. Aku janji akan kembali menemuimu setelah besar nanti."
Ziva mengecup telapak tangannya lalu ia gunakan untuk mengusap perut buncit nya. Berharap jika kecupan itu sampai pada bayi yang ada di dalam sana.
Seketika pandangannya tertuju pada tong sampah besar yang tidak jauh darinya. Ia berharap di sana ia bisa mendapatkan makanan dan juga minuman lantaran ia sudah sangat lapar.
__ADS_1
"Semoga di sana ada makanan," ucapnya penuh harap.
Ziva bangkit berdiri dan berjalan beberapa langkah menuju tong sampah besar. Ia membuka tutup tong sampahnya dan ia langsung menutup hidung. Baunya menyengat sekali, saking baunya ia tidak tahan dan hampir muntah.
Ternyata di sana terdapat sampah busuk yang di belatungi. Namun di antara sampah-sampah tersebut, pandangannya tertuju pada kantong keresek putih bening yang terdapat kotak makanan di dalamnya.
"Ada makanan. Semoga saja masih ada sisa."
Ziva mengambil kotak makanan tersebut, dan di bawahnya terdapat air mineral kemasan gelas yang masih baru.
"Ada minumnya juga."
Ziva pergi beberapa langkah dari sana, dan duduk di bawah pohon agar terhindar dari sinar matahari yang membuat kulitnya panas dan nyaris terbakar.
Ia buka kotak makanan tersebut dan ternyata dalam nya terdapat makanan yang masih utuh. Begitu ia cium baunya, memang sudah sedikit basi. Tapi setidaknya masih layak untuk di makan.
Dengan cepat ia makan makanan tersebut dengan lahap, tidak perduli dengan bau yang menyengat berasal dari kantong keresek yang terjelajah belatung di tong sampah. Yang terpenting ia bisa makan dan kenyang.
"Alhamdulillaah ... Akhirnya aku bisa makan dan minum sampai perutnya kenyang," ucapnya di akhiri dengan sendawa.
Ziva menghemuskan napas kecil, lalu ia mendongakan wajahnya menatap langit.
__ADS_1
"Terima kasih, Tuhan. Kau masih baik padaku yang pendosa ini," ucapnya di tutup dengan setetes air mata.
_Bersambung_