GAIRAH TEMAN ISTRIKU

GAIRAH TEMAN ISTRIKU
Perasaan Sudah Berubah


__ADS_3

Suara notifikasi membelah keheningan di antara mereka. Aruna meraih ponsel yang sebelumnya ia letakan di atas nakas samping tempat tidurnya sebelum membuatkan susu. Ia mendapat chat dari seseorang.


08xx:


Malam, Aruna. Ini nomor baruku, Abian. Apa besok aku boleh mengajak Elona jalan-jalan? Besok kan Elona libur sekolah. Aku ada rencana mengajaknya jalan-jalan sore setelah aku pulang kerja. Itupun jika kau mengizinkan.


Aruna kembali diam. Sebenarnya ia masih tidak rela jika Elona dekat-dekat dengan Abian, meski pria itu ayah dari putrinya. Sebab Abian tidak mengingat jika dia sudah memiliki malaikat kecil sewaktu mengkhianati nya dengan Ziva. Tapi ia jadi ingat kata-kata Haikal di sekolah saat mereka menghadiri acara pentas seni Elona, sebelum kejadian yang membuat pria itu tidak bisa jalan untuk beberapa waktu yang tidak bisa di tentukan.


"Dia hanya gagal menjadi suamimu, bukan berarti gagal menjadi ayah dari putrimu."


Aruna sadar, jika Elona bukan hanya miliknya. Tapi milik Abian juga. Dan darah yang mengalir di tubuh Elona juga ada darah Abian.


Sebelum membalas pesan Abian, Aruna bertanya terlebih dahulu pada putrinya.


"Sayang, ayahmu mengajak jalan-jalan sore besok. Apa Elona mau? Jika tidak makan ibu akan katakan Elona tidak mau."


"Apa ibu mengizinkan?" Elona balik bertanya.


"Jika Elona mau, ibu akan mengizinkan. Tapi jika tidak, ibu juga tidak akan maksa."


Elona terdiam sejenak. "Ya, aku mau, ibu."

__ADS_1


"Ya sudah, ibu akan balas pesan ayahmu."


"Iya, ibu."


Aruna mengetikan balasan dan memberi tahu jika ia mengizinkan putrinya untuk jalan-jalan besok. Setelah itu ia meletakan kembali ponselnya di tempat semula.


"Ah ya, ini susu Elona. Minum dan habiskan, ya. Masih hangat, nanti keburu dingin. Setelah itu Elona tidur."


"Tapi ibu belum menjawab pertanyaan aku."


"Jangan pikirkan hal itu. Ini sudah terlalu malam, cepat habiskan susunya lalu tidur."


Elona mengangguk patuh. "Baik, ibu."


Setelah Elona benar-benar pulas, Aruna mengambil ponselnya. Baru akan beranjak dari sana, ponselnya kembali mengeluarkan notifikasi. Ia pikir Abian yang mengirimkan pesan lagi untuknya, melainkan Haikal.


Haikal:


Selamat malam, Aruna. Maaf jika aku mengganggumu malam-malam. Apa benar tadi kau ke rumah sakit untuk membesukku?


Aruna mengetikan balasan.

__ADS_1


Aruna:


Ya, Elona yang minta.


Haikal:


Maaf ya, aku langsung pulang begitu Dokter sudah mengizinkan. Aku pulang bersama sepupuku.


Aruna tidak lagi mengirimkan balasan. Ia memilih untuk kembali ke kamar untuk istirahat. Meski besok jadwalnya libur kerja juga, tapi ia harus bangun pagi-pagi untuk bersih-bersih rumah.


Sementara di tempat lain, seorang pria tengah menunggu balasan chat dari seseorang. Sudah hampir sepuluh menit, ia belum juga mendapat balasan. Padahal centang dia abu-abu sudah berubah menjadi warna biru. Akan tetapi tulisan online berubah menjadi terakhir dilihat.


"Kenapa Aruna tidak membalas chat ku lagi, ya? Padahal aku sudah beri tahu dia kalau aku pulang bersama sepupuku, agar dia tidak berpikir aku pulang dengan orang lain."


Haikal merasa Aruna terlihat aneh semenjak dia melihat guru Elona menyuapi nya di rumah sakit kemarin.


"Apa iya Aruna cemburu pada guru Elona?" pikir pria itu.


"Ah tapi kan Aruna selalu bilang jika di antara kita tidak akan pernah lebih dari hubungan seorang teman. Apa mungkin perasaan Aruna sudah mulai berubah ya? Oleh karena itu dia kesal saat melihat aku di suapi oleh guru Elona. Hanya saja dia belum mengakui perasaannya."


"Jika benar perasaan Aruna sudah berubah, maka itu kabar baik untukku. Dan aku yakin, dalam hati kecil Aruna, hubungan di antara kita bukan lagi hanya sebatas teman. Dan aku akan pastikan itu besok."

__ADS_1


Haikal mengulas senyum kecil. Ia sudah tidak sabar menunggu hari esok tiba.


_Bersambung_


__ADS_2