GAIRAH TEMAN ISTRIKU

GAIRAH TEMAN ISTRIKU
Berhutang Nyawa


__ADS_3

Usai di tangani Dokter, Haikal di pindahkan ke ruangan berikutnya. Barulah Aruna bisa menjenguk masuk ke ruangan tersebut.


Aruna melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut. Kedua matanya mendapati seorang pria yang tengah berbaring dengan kondisi kaki di perban dan menggunakan gips. Lagi-lagi perasaan bersalah nya muncul.


Aruna berjalan mendekat ke arah ranjang pasien, ia menarik kersi yang terdapat di sana, kemudian duduk di samping ranjang. Pandangannya masih tertuju pada kaki, hingga beralih pada wajah Haikal yang tengah tertidur.


"Haikal, aku minta maaf. Andai aku yang menolong putriku, pasti kau tidak akan ada di sini. Aku sangat berhutang nyawa padamu, Haikal."


Sebelumnya Aruna sudah menanyakan kondisi Elona pada Abian. Pria itu mengatakan jika Elona sudah lebih tenang dan kembali ceria. Setidaknya Aruna bisa bernapas lega.


Aruna merasa ngilu sendiri melihat kondisi kaki Haikal. Tidak terbayang seberapa luar biasa sakitnya. Alat yang menimpa kaki Haikal cukup berat, ia lebih tidak sanggup jika harus membayangkan Elona yang menjadi korban atas kelalaian orang yang bertugas membongkar pasang panggung.


Setitik air mata Aruna jatuh. Ia tidak pernah membayangkan akan mengalami kejadian ini sebelumnya.


Begitu suara pintu ruangan tersebut terbuka, Aruna segera menyeka air mata di pipinya. Dan melihat siapa yang datang.


"Permisi .." ucap seseorang itu.


"Iya, Miss Ayu. Silahkan masuk!"


"Baik, terima kasih."

__ADS_1


Miss Ayu melangkah masuk usai menutup kembali pintu ruangannya. Dia berjalan menghampiri Aruna.


"Maaf ibu Aruna, saya baru bisa datang ke sini. Karena tadi saya harus menyelesaikan urusan sekolah mengenai kejadian ini dengan pihak yang sudah tidak sengaja membuat bapak ini sampai harus masuk rumah sakit. Tapi tenang saja, pihak yang bersangkutan akan bertanggung jawab," ucap miss Ayu.


"Iya, terima kasih, miss Ayu."


"Sama-sama. Ah ya, jadi bagaimana kondisi yang di alami oleh beliau? Apa ini sangat fatal?" tanya miss Ayu kemudian.


"Kata Dokter, Haikal ini mengalami keremukan tulang di bagian bawah lututnya yang di gips ini. Dan katanya hal ini bisa mengakibatkan dia tidak bisa berjalan untuk beberapa waktu yang belum bisa di tentukan," jelas Aruna.


"Ah ya ampun, kasihan sekali. Apa jadinya jika alat berat itu sampai mengenai Elona?"


"Iya, ibu Aruna. Saya paham sekali perasaan anda. Berhubung ini kejadiannya di sekolah, ini juga menjadi bagian dari tanggung jawab saya juga. Ibu Aruna tenang saja, sesekali saya juga akan menjenguk beliau, saya pasti akan meluangkan waktunya."


"Ya, terima kasih, miss."


"Sama-sama."


Obrolan keduanya harus terpotong lantaran Haikal harus segera di periksa lagi oleh tim medis untuk melakukan observasi selanjutnya. Mau tidak mau Aruna dan miss Ayu keluar dari ruangan tersebut.


Sementara di tempat lain, Abian tidak membawa Elona pulang ke kontrakannya maupun ke ruang Aruna. Ia membawanya putrinya jalan-jalan agar bocah itu bisa sejenak melupakan kejadian tadi. Kebetulan mobilnya sudah selesai di perbaiki.

__ADS_1


Namun Elona kembali mengingatnya.


"Ayah, aku ingin menemui ibu. Bisakah ayah mengantarkan aku pada ibu sekarang?" pinta bocah itu.


"Iya, nanti ayah pasti akan antar Elona pada ibu. Tapi tidak sekarang ya, sayang."


"Tapi aku ingin sekarang saja, ayah. Aku ingin bertemu juga dengan paman Haikal. Aku takut paman Haikal kenapa-kenapa, ayah .."


Rasanya sakit sekali mendengar putrinya mengkhawatirkan pria selain dirinya. Tapi sepertinya kedekatan Elona dengan teman Aruna sudah membuat Elona merasa nyaman. Bahkan Elona tidak apa-apa ayahnya sendiri di gantikan oleh pria itu.


"Ayah, aku mohon. Antar aku pada ibu. Aku mohon ayah ..." Elona menelungkupkan kedua tangannya, berharap ayahnya mengabulkan permintaan nya.


Terpaksa Abian pun mengangguk. "Iya,sayang."


Senyum Elona terbit. "Terima kasih, ayah."


"Sama-sama, nak."


Abian juga harus memberi kabar pada Aruna jika Elona ingin datang ke sana. Jika Aruna mengizinkan, maka ia akan mengantar Elona ke rumah sakit, tapi jika tidak ia harus bisa membujuk putrinya, apapun caranya.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2