
Malam ini Aruna hendak membuatkan susu untuk Elona, tapi stok susunya habis.
"Ah ya ampun, aku sampai lupa membeli susu Elona. Biasanya tidak pernah kehabisan seperti ini," keluh wanita itu.
Ini sudah jam delapan malam, tidak mungkin ia meninggalkan Elona sendiri di rumah untuk pergi membeli susu ke supermarket. Ia juga tidak enak jika harus menitipkan lagi Elona pada ibu Zahrana. Takutnya akan mengganggu ibu Zahrana yang tengah beristirahat.
"Semoga saja Elona bisa mengerti dan tidak merengek meminta susu hanya untuk malam ini."
Aruna meletakkan kembali wadah susu nya dan kembali ke kamar putrinya.
Aruna duduk di tepi ranjang sebelah Elona yang sedang melihat beberapa gambar di bukunya.
"Ibu, mana susunya?" tanya bocah itu.
"Mmm ... Maaf ya, sayang. Ibu lupa, susu Elona habis. Tidak apa-apa kan? Besok ibu akan belikan lagi, sekarang sudah malam. Ibu tidak mungkin meninggalkan Elona sendiri di rumah."
"Iya, ibu. Tidak apa-apa. Kalau Elona tidak perlu minum susu lagi juga tidak apa-apa. Elona sudah besar juga kan?"
"Tidak, tidak. Elona masih harus minum susu, ya. Ibu masih sanggup juga belikan susu untuk Elona. Ibu janji akan belikan susu nya lagi besok. Ok!?"
Elona mengangguk.
__ADS_1
"Ya sudah, kalau begitu sekarang Elona tidur, ya."
"Iya, ibu. Tapi Elona boleh minta sesuatu tidak pada ibu?"
Elona mengernyitkan dagunya. "Apa, sayang?"
"Ibu temani aku tidur, ya. Semalam aku mendengar aku mendengar suara burung yang menakutkan." pinta Elona penuh harap, dan itu bukan sesuatu yang sulit untuk Aruna.
"Iya, sayang. Ibu temani Elona. Sekarang Elona tidur, ya."
"Iya, ibu."
Tidak membutuhkan waktu lama, Elona sudah tertidur pulas. Aruna mengecup puncak kepala putrinya cukup lama. Lalu membaringkan tubuhnya di sisi kosong yang lain.
Aruna menatap langit-langit kosong. Tiba-tiba saja ia kepikiran soal foto dirinya beberapa tahun lalu di kamar Haikal.
"Apa alasan Haikal menyimpan fotoku selama ini?" Aruna masih penasaran.
"Apa benar dia memiliki perasaan lebih dari sekedar teman untukku?"
Aruna mengingat lagi masa-masa saat ia dekat dengan Haikal dulu. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk memutuskan komunikasi dengan pria itu lantaran ia sudah dekat dengan Abian. Juga menjadikan Abian sebagai suaminya.
__ADS_1
Dari dulu sampai sekarang Haikal sangat baik padanya. Tapi ia sama sekali tidak pernah memiliki perasaan lebih dari sekedar seorang teman. Namun begitu Abian hadir dalam kehidupannya, ia bisa begitu mudahnya jatuh cinta dan memberikan hatinya pada pria itu.
Kala itu, ia menjadi wanita yang paling beruntung dan sangat bersyukur. Memiliki suami yang baik dan juga idaman banyak wanita. Baginya, ketampanan hanyalah bonus, yang terpenting orang itu baik dan menghargainya sebagai pasangan.
Tapi sayangnya, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Hanya bertahan sekitar lima tahun dan kebahagiaan itu di gantikan oleh sebuah kesengsaraan.
Aruna masih tidak menyangka jika semua akan berakhir seperti ini. Ketika Abian adalah satu-satunya orang tempat ia bergantung, lantaran kedua orang tuanya sudah tiada, justru Abian malah membuatnya menderita.
Kemudian Tuhan hadirkan kembali Haikal ke dalam hidupnya. Dan ini pasti bukan sebuah kebetulan. Ini semua pasti sudah Tuhan takdirkan. Dan apakah jodoh dia yang sebenarnya adalah Haikal?
Aruna mengerjapkan matanya sekali, lalu melihat jam dinding yang menempel di tembok kamar tersebut.
"Ah ya ampun, aku berpikiran terlalu jauh. Sampai tidak sadar jika sekarang sudah jam sepuluh lewat lima menit."
Aruna mengusap wajahnya dan berusaha menepis pikiran-pikiran tersebut.
"Aku harus segera tidur, aku tidak boleh terlambat bekerja."
Aruna mencoba untuk memejamkan mata, alih-alih masuk ke dalam mimpi. Malah bayangan wajah Haikal yang terlintas di kepalanya.
_Bersambung_
__ADS_1