GAIRAH TEMAN ISTRIKU

GAIRAH TEMAN ISTRIKU
Menciptakan Pengalaman Bersama


__ADS_3

"Terima kasih sudah memberiku tumpangan tempat tinggal selama beberapa hari ini," ucap Ziva.


"Sama-sama," balas Haidar.


Setelah di antar ke klinik untuk mengobati kaki Ziva yang berlumuran darah tempo hari, Haidar mengizinkan Ziva untuk tinggal di unit apartemennya.


"Jika di lihat-lihat, dia ini sangat cantik dan body nya bagus. Tidak ada salah nya jika aku membiarkan dia untuk tetap tinggal di sini," batin Haidar.


"Ah ya, memangnya kau tinggal dimana?" tanya Haidar kemudian.


"Aku tidak tahu sekarang harus tinggal dimana setelah ini, sebeb sebelumnya aku di usir oleh keluargaku."


"Why?"


"Aku tidak tahu, padahal aku tidak pernah membuat kesalahan pada mereka," jawab Ziva mengarang.


Haidar menatap iba Ziva. "Kasihan sekali. Kau sudah di usir oleh keluargamu, dan di sekap oleh komplotan orang jahat. Dan mirisnya, kau adalah korban salah sasaran."


"Ya, begitulah aku. Nasibku malang dan selalu sial."


"Beruntungnya kau bertemu dengan aku."


"Iya, terima kasih sudah menolongku."


"Sama-sama. Dan jika kau mau, kau bisa tetap tinggal di sini," tawar Haidar.


Kedua mata Ziva berbinar. Tidak sia-sia dirinya mengiba pada Haidar.


"Sungguh?"

__ADS_1


Haidar mengangguk. "Tentu saja. Aku justru senang jika kau tetap di sini."


"Terima kasih, kau baik sekali, Haidar."


Haidar membalasnya dengan senyum yang mengembang.


"Ah ya, apa kau ini single atau sudah beristri?" tanya Ziva baru saja kepikiran.


"Setelah berhari-hari kita bersama di sini, kau pikir aku sudah memiliki istri?" Haidar balik bertanya.


"Jadi kau masih single?"


"Lebih tepatnya duda," ralat Haidar.


"Owh .. Duda, ya?"


"Iya. Kenapa?"


Setelah mendengar status Haidar, semangat Ziva untuk menjalankan aksinya kembali berkobar. Suami orang memang lebih menantang, tapi duda juga tidak kalah menarik. Ia menyunggingkan sebelah sudut bibirnya.


"Kau sendiri?" tanya Haidar.


"Aku juga sudah pernah menikah sebelumnya."


"Wow, benarkah?"


"Iya. Kenapa kau terkejut?"


"Bukan terkejut, hanya saja sedikit tidak percaya."

__ADS_1


"Aku berkata jujur."


"Aku pikir kau belum berpengalaman."


"Bagaimana kalau kita menciptakan pengalaman bersama?" tawar Ziva di akhiri dengan gigitan bibir bawahnya.


Haidar meneguk salivanya dengan susah payah, jakun nya tampak naik turun.


"Kau yakin?"


"Tentu. Kau meragukanku?" Ziva mendaratkan sebuah ciuman singkat di bibir Haidar.


"Bagaimana, apa sekarang kau masih meragukanku?"


Haidar menggeleng. "Sekarang aku percaya."


"Mau mencobanya sekarang?"


"Tentu."


Ziva bangun dari duduknya, ia berjalan lebih dulu ke kamar. Sebab mereka barusan duduk di sofa bagian ruang tamu yang terdapat di unit apartemen tersebut.


Haidar merasa tertantang, ia bangkit berdiri dan berjalan menyusul langkah Ziva dengan senyum sumringah.


"Tidak sia-sia aku menolongnya, jika sekarang dia akan memberi imbalan."


Haidar masuk ke kamar dimana Ziva berada, kemudian menutup pintu kamar tersebut rapat-rapat.


Begitu masuk ke kamar, dengan cepat Haidar menghampiri Ziva dan menerkam wanita itu. Ziva yang merasa memiliki mangsa baru, dengan senang hati melayaninya. Begitu pula dengan apa yang ada di pikiran Haidar. Sebeb pikiran keduanya hampir sama, hal seperti itulah yang selalu ada di pikiran mereka. Bersenang-senang.

__ADS_1


Dan kini, hanya suara jarum jam dan dessahan Ziva yang terdengar saling bersahut-sahutan. Mereka merasa jika dunia saat ini hanya milik berdua. Tidak perduli dengan apapun dan siapapun.


_Bersambung_


__ADS_2