
Seorang pria berdiri di depan rumah besar dengan senyum yang mengembangkan sempurna di bibirnya. Akhirnya, apa yang selama ini ia impikan menjadi kenyataan.
"Alhamdulillaah ... Akhirnya aku bisa membeli rumah yang besar," ucapnya penuh rasa syukur.
Seketika terlintas dua wajah perempuan di kepalanya. Yakni Aruna dan juga Elona.
"Aruna, sekarang aku sudah bisa mewujudkan apa yang selama ini kita impikan. Memiliki rumah besar dua lantai dan memiliki balkon di atasnya. Apakah kalian masih bisa menerimaku?"
Abian tersenyum getir.
"Semoga saja pria itu belum memiliki kalian, maka aku akan berusaha memperjuangkan untuk bisa di terima oleh kalian kembali," ucapnya penuh harap.
Selama beberapa bulan ini Abian sudah tidak lagi bekerja di perusahaan Gavin. Pria itu fokus pada bisnis kecilnya yang sekarang sudah besar. Oleh karena itu ia mampu membeli rumah besar tersebut dan juga mobil baru.
"Aku rindu sekali pada Elona. Aku harus menemuinya sekarang."
Abian bergegas masuk ke dalam mobil barunya, dan mobil yang ia kemudikan pun melesat pergi dari halaman rumah.
***
"Besok kita tinggal di rumah ayah lagi. Nanti kalau rindu tinggal di rumah ini, kita bisa menginap lagi untuk tiga hari. Bagaimana?" tawar Haikal dan di angguki setuju oleh Aruna maupun Elona.
"Iya. Bagaimanapun rumah ini adalah tempat tinggal kami sebelum akhirnya menikah denganmu. Jadi tidak ada salahnya jika rumah ini tetap kita tinggali meskipun hanya beberapa hari," sahut Aruna.
__ADS_1
"Iya, aku setuju, ibu. Terlalu banyak kenangan di rumah ini. Jadi rumah ini tidak boleh di jual."
"Iya, sayang. Ibu tidak akan pernah menjualnya." Aruna membelai rambut Elona dan meninggalkan kecupan singkat di puncak kepala.
"Ah ya, bu. Dedek bayi kapan keluar nya, bu? Apakah masih lama?" tanya bocah itu polos.
"Masih lama, sayang."
"Aku sudah tidak sabar, ibu. Aku ingin menggendong dedek bayinya."
"Sabar, ya. Tunggu saja."
Elona mengangguk. Ia menatap perut ibunya yang sudah tampak menonjol. Kemudian ia peluk perut sang ibu di sertai dengan kecupan.
"Apa ada yang saat ini kau inginkan?" tanya Haikal memastikan, mengingat apa yang di katakan oleh Dokter.
Aruna menggeleng. "Tidak ada."
"Coba pikir-pikir, apa yang saat ini kau inginkan? Sejenis makanan? Minuman? Atau apa? Katakan saja, tidak usah sungkan."
Aruna tampak memikirkan sesuatu yang enak untuk di makan atau di minum. Tapi sepertinya tidak ada yang sedang ia idamkan.
"Saat ini tidak ada. Tapi kalau nanti ada, aku pasti bilang," jawab wanita itu.
__ADS_1
"Janji ya harus bilang. Jangan di pendam."
"Iya, aku pasti akan bilang. Aku memang tidak terlalu banyak yang di inginkan sama halnya seperti pada saat hamil Elona. Aku hanya ingin tidur, tidur, dan tidur. Apalagi di pagi hari, rasa kantuk datang berbondong-bondong," terangnya.
"Tapi tidur pagi itu tidak baik, sayang."
"Ah iya aku tahu. Oleh karena itu aku selalu mengalahkan dengan beres-beres rumah."
"Tapi harus ingat juga, jangan sampai kecapean."
"Iyaaa ..."
Suara ketukan pintu seketika mengalihkan perhatian mereka.
"Ibu, ada yang datang," ujar Elona.
"Iya, mungkin itu ibu Zaharana. Sebentar, ibu bukakan dulu." Aruna hendak bangkit berdiri, namun segera di cegah oleh Haikal.
"Biar aku saja." Haikal bangkit berdiri dan berjalan beberapa langkah untuk sampai ke pintu depan.
Begitu pintu di buka, muncul seorang pria di baliknya.
"Kau-" tunjuk pria itu ke arah Haikal.
__ADS_1
_Bersambung_