
"Elona .. Ibu sudah pulang, nak. Ayo bangun, kita kembali ke rumah." Aruna menepok-nepok pipi putrinya pelan, bocah itu harus tidur di rumah ibu Zahrana sementara ibunya belum pulang.
Lantaran Aruna kerja bagian siang, jadi dia harus kerja sampai sekitar jam delapan malam.
Kelopak mata Elona mulai bergerak, dan matanya mulai terbuka.
"Ibu ..." ucap bocah itu lirih.
"Iya, sayang. Ayo bangun, nak."
Elona mengucek kedua matanya guna menghilangkan rasa kantuk yang masih melanda. Lalu ia bangun di bantu oleh sang ibu.
"Aku pikir ibu masih lama, jadi aku tidur dulu."
"Maafkan ibu, ya. Nanti Elona bisa lanjutkan tidurnya di rumah ya, sayang."
Elona pun mengangguk. "Iya, ibu."
Bocah itu bangun berdiri meski masih sedikit sempoyongan.
"Hati-hati, sayang."
"Iya, ibu."
Keduanya keluar dari kamar tersebut dan mendapati ibu Zahrana yang menunggu di ruang tamu.
"Terima kasih selalu menjaga Elona, bu. Maaf jika saya terus menerus membuat ibu Zahrana kerepotan. Maaf juga sampai mengganggu waktu tidur ibu," ucap Aruna.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Aruna. Saya senang menjaga Elona. Justru saya sedih dan akan merasa kesepian jika tidak ada Elona."
"Iya, sekali lagi saya ucapkan terima kasih. Kami pamit pulang dulu."
"Iya, iya. Silahkan."
Ibu Zahrana mengantar mereka sampai depan pintu, setelah memastikan mereka sampai di rumah, barulah beliau masuk.
"Elona mau susu? Ibu buatkan, ya," tawar Aruna dan Elona mengangguk.
"Kalau begitu, Elona tunggu saja di kamar. Ibu mau bersih-bersih dan mengganti pakaian ibu dulu, setelah itu ibu buatkan susu untukmu."
"Iya, ibu."
Elona bergegas masuk ke kamarnya. Begitupun dengan Aruna masuk ke kamarnya.
Hanya membutuhkan waktu kurang dari lima menit, susu sudah jadi. Aruna langsung menuju kamar Elona.
"Ini susunya, sayang. Jangan lupa di habiskan, ya."
Elona menerima susu tersebut dari tangan sang ibu. "Baik, ibu. Terima kasih."
"Sama-sama, sayang."
Elona meminun susu tersebut hingga setengahnya.
"Ah ya, bu. Untuk acara di sekolahku, ayah tidak mungkin datang bersama ibu. Bagaimana kalau paman Haikal saja yang datang bersama ibu?"
__ADS_1
Aruna kaget mendengar permintaan Elona.
"Sayang, biar ibu datang sendirian saja. Tidak apa-apa kan?"
"Ibu keberatan ya jika harus datang bersama paman Haikal?" Elona mengerucutkan bibirnya.
"Bukan begitu, sayang. Kenapa tiba-tiba Elona meminta paman Haikal yang datang? Apa paman Haikal yang menginginkannya?"
Elona diam, ia menatap ibunya dengan rasa bersalah.
"Maaf ibu jika aku harus berkata bohong, tapi aku ingin paman Haikal datang untuk menggantikan ayah," ucap Elona dalam hati.
"Aku sendiri yang menginginkannya, ibu. Kalau ibu keberatan, aku tidak apa-apa."
"Elona, sayang-"
"Aku tidur ya, bu. Aku mengantuk sekali." Elona membaringkan tubuhnya dan tidur dengan posisi membelakangi sang ibu.
"Sayang .. Susu nya tidak di habiskan dulu?"
Elona meraih wadah susu yang masih tersisa setengahnya. Kemudian ia habiskan, setelah itu lanjut berbaring dengan posisi masih memunggungi sang ibu.
"Elona marah pada ibu?"
Elona menggeleng. "Tidak, aku hanya mengantuk saja."
Aruna menghela napas panjang. Sepertinya Elona memang marah padanya, lantaran menginginkan Haikal ikut datang ke acara sekolahnya untuk menggantikan ayahnya.
__ADS_1
_Bersambung_