
Hari ini Aruna kerja bagian shift siang. Jadi ia bisa menjemput Elona terlebih dahulu. Bocah itu keluar dari kelas dan menghambur ke dalam pelukan sang ibu.
"Ibuuuu ..." teriak bocah itu girang.
"Sayang ..." Aruna membawa Elona ke dalam dekapannya. "Bagaimana harimu? Apa menyenangkan? tanya Aruna usai melepaskan pelukannya.
Tiba-tiba saja wajah Elona berubah sedih. Entah apa yang membuat bocah itu tampak murung seperti sekarang.
"Ada apa, sayang? Ceritakan pada ibu, nak," pinta Aruna sedikit cemas.
"Lusa ada kegiatan sekolah lagi, ibu. Tapi miss Ayu bilang kalau ayah dan ibu harus datang. Bagaimana ayah bisa datang, sedangkan aku tidak menginginkannya?"
Aruna ikut sedih mendengarnya, tapi ia harus bisa menghibur putrinya. Untuk urusan itu, biar nanti ia konfirmasi pada guru Elona.
"Sayaaang ... Tidak boleh bicara seperti itu, nak. Elona jangan sedih, ya. Sekarang, Elona ikut ibu, ya," bujuk Aruna.
"Kemana?"
"Elona mau beli mainan baru? Pensil warna lagi? Buku gambar? Atau apa yang saat ini Elona inginkan, ibu akan belikan. Bagaimana, Elona mau?"
Elona dengan cepat mengangguk, semangatnya kembali terpancar. "Iya, ibu. Aku sedang menginginkan tas baru. Apa ibu akan membelikannya untukku?"
"Tentu, sayang. Kalau begitu, ayo kita ke tempat penjual tas. Nanti Elona bisa pilih tas mana yang Elona inginkan."
__ADS_1
"Ok, ibu. Aku sayang ibu." Elona memberi sebuah kecupan singkat di pipi sang ibu.
Setelah itu Aruna memesan taksi online untuk pergi ke tempat penjual tas yang sebelumnya pernah mereka datangi.
Sementara di tempat lain, tiba-tiba saja Haikal kepikiran dengan Aruna dan Elona. Entah kenapa ia merasa rindu pada mereka berdua. Mungkin karena ia sudah bertemu dengan mereka beberapa kali, sehingga kerinduan itu ada.
"Aku coba telepon Aruna saja. Siapa tahu dia bisa di ajak bertemu."
Haikal meraih ponsel yang tergeletak di atas meja di yang ada di hadapannya. Posisinya sekarang dia sedang duduk di sofa panjang yang terdapat di ruangan kerja kantor nya.
Sambungan telepon pun terhubung.
"Halo, Aruna. Apa kau sedang sibuk?"
"Tidak, tidak ada apa-apa. Ah ya, toko tas yang ingin kau datangi di jalan mana?"
"Jalan xx dekat Apotek Farma," jawab Aruna dari sebrang telepon.
"Kalau begitu, aku akan menyusul ke sana. Apa kau sudah sampai di sana?"
"Aku masih di perjalanan. Kurang lebih lima menit lagi aku akan sampai."
"Ok, aku on the way ke sana sskarang, ya. Dua belas menit aku sampai."
__ADS_1
Belum sempat Aruna menanyakan alasan kenapa Haikal ingin menyusulnya, tapi pria itu sudah lebih dulu menutup sambungan telepon nya.
"Kenapa Haikal ingin menyusul kami, ya?" pikir Aruna.
"Paman Haikal ya, bu?" Pertanyaan Elona membuyarkan pikiran Aruna.
"I-iya, sayang."
"Ada apa paman Haikal telepon ibu?"
"Paman Haikal mau pergi ke toko tas yang ingin kita datangi juga, sayang."
"Paman Haikal ingin membeli tas juga? Tapi toko itu kan menjual tas khusus untuk anak sekolah. Memangnya paman Haikal ingin membeli untuk siapa? Apa paman Haikal sudah memiliki seorang anak?" tanya Elona secara berbondong-bondong.
"Entahlah, ibu juga tidak tahu, sayang. Setahu ibu, paman Haikal belum menikah. Jadi belum memiliki seorang anak. Mungkin paman Haikal ingin membelikan untuk saudaranya, atau keluarganya yang lain."
"Oh begitu ya, bu."
"Iya, sayang."
Elona mengerucutkan bibirnya. Ia pikir pria yang ia panggil dengan sebutan paman Haikal itu akan membelikan tas untuknya, seperti saat membelikan pensil warna baru. Elona berharap nya begitu. Semoga saja.
_Bersambung_
__ADS_1