
"Selamat pagi, ibu."
"Selamat pagi, sayang. Ibu kira Elona masih tidur. " Aruna meletakan dua piring nasi goreng mentega yang baru saja ia buat ke atas meja makan, satu piring di letakan di hadapan putrinya.
"Terima kasih, ibu," ucap bocah itu.
"Sama-sama, sayang. Sudah cuci muka kan?"
"Sudah, ibu. Aku juga sudah mrnggosok gigiku." Elona memamerkan sederet gigi kecilnya yang putih dan bersih.
"Jangan sering makan coklat, ya. Agar giginya tetap putih dan bersih tanpa ada yang berlubang."
"Sesekali boleh?"
"Boleh, tapi jangan terlalu keseringan."
"Baik, ibu."
"Ya sudah, kita makan sarapannya. Jangan lupa berdo'a."
"Iya, ibu," jawab Elona menurut.
Setelah berdo'a, ibu dan anak itu memulai sarapannya.
"Ibu, nanti ayah jadi mengajakku jalan-jalan?" tanya Elona di sela-sela sarapannya.
"Tunggu saja kabar berikutnya."
"Kalau jadi, aku minta maaf ya, bu."
"Minta maaf kenapa?"
__ADS_1
"Aku takut sebenarnya ibu terluka jika aku pergi dengan ayah," jawab bocah itu.
Aruna menghela napas panjang.
"Tidak, sayang. Ibu akan mengizinkan selama Elona mau. Elona jangan berpikir seperti itu lagi, ya. Ibu sudah baik-baik saja."
Elona mengangguk. "Iya, ibu. Terima kasih."
"Sama-sama, sayang. Lanjut lagi sarapannya dan habiskan."
"Baik, ibu."
Begitu sarapan mereka selesai, terdengar suara pintu depan di ketuk oleh seseorang.
"Ibu, ada yang datang. Apa itu ayah?"
Aruna menggeleng. "Ibu tidak tahu. Tapi ayahmu ke sini nanti sore setelah pulang kerja. Ini masih pagi sekali, tidak mungkin ayahmu yang datang."
"Lalu siapa yang datang, ibu?"
Aruna meletakan dua piring kotor di tangannya yang hendak di cuci pada wastafel. Kemudian beranjak dari sana guna membukakan pintu depan.
Begitu pintu di buka, muncul sosok wanita dengan senyum seulas senyum.
"Selamat pagi, Aruna. Maaf saya mengganggu sarapannya, ya," sapa wanita itu.
"Iya, pagi, ibu Zahrana. Ah tidak, saya sudah selesai sarapan. Silahkan masuk, bu!" Aruna mempersilahkan wanita itu dengan gerakan tangannya.
"Oh tidak usah, Aruna. Saya ke sini mau minta izin, hari ini Elona kan libur sekolah, jadi saya berencana mengajak Elona untuk datang ke acara keluarga saya. Apa boleh?"
"Mm .. Hari ini rencananya ayah Elona mau mengajaknya jalan-jalan. Tapi sore sekitar jam tiga."
__ADS_1
"Kau tenang saja, Aruna. Saya bisa pulang sebelum jam tiga nanti. Lagipula di sana tidak akan lama."
"Oh begitu. Iya, boleh, bu. Kalau begitu saya mau tanya Elona dulu, mau atau tidaknya."
"Ah iya silahkan, silahkan. Kalau tidak mau juga tidak apa-apa."
"Iya, bu. Sebentar, ya."
"Iya, Aruna."
Aruna melipir masuk ke dalam, tidak berapa lama ia kembali bersama putrinya.
"Hai, cantik," sapa ibu Zahrana.
"Halo, ibu. Ibu mau mengajak aku ke pesta lagi, ya?" tanya bocah itu.
"Iya. Elona mau?"
Elona mengangguk. "Mau, ibu juga mengizinkan. Tapi nanti sore aku harus jalan-jalan sama ayah. Bisakah kita pulang sebelum ayahku menjemput?"
"Tentu saja."
"Ah ya, pergi jam berapa, bu?" tanya Aruna.
"Setengah jam lagi. Nanti keponakan saya yang jemput."
"Oh ya sudah kalau begitu Elona harus segera siap-siap."
"Iya, saya juga mau siap-siap dulu. Terima kasih ya, Aruna," ucap ibu Zahrana.
"Iya, sama-sama."
__ADS_1
Ibu Zahrana pergi kembali ke rumahnya, sementara Aruna dan putrinya masuk ke dalam rumah.
_Bersambung_