GAIRAH TEMAN ISTRIKU

GAIRAH TEMAN ISTRIKU
Angin Segar


__ADS_3

Jam tujuh malam mobil Abian memasuki pelataran rumahnya. Tadi ia ada meeting dadakan dengan dua klien.


"Huft .. Melelahkan sekali .." keluh pria itu.


Abian turun dari mobil dan berjalan beberapa langkah menuju teras rumah. Begitu membuka pintu, suasana rumah cukup sepi. Ia berpikir mungkin Ziva sedang menidurkan Elona.


Abian bergegas masuk ke dalam rumah menuju kamar. Menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Hari yang cukup melelahkan. Pekerjaan menumpuk.


Ia memutuskan untuk mandi, siapa tahu sesudah mandi tubuhnya akan lebih segar.


Sementara di kamar Elona, Ziva menggibas-gibaskan tangan nya di depan wajah bocah itu.


"Rupanya Elona sudah pulas," ujarnya.


Ziva memastikan sekali lagi jika Elona sudah benar-benar tertidur.


"Aman. Elona sudah tidur."


Ziva menutup buku cerita dongeng nya dan menaruh kembali di tempat semula. Ia bergegas keluar dari kamar tersebut dan pergi menuju kamar tuan rumah. Kebetulan pintunya sedikit terbuka.


Terdengar suara gemericik air dari arah kamar mandi, rupanya Abian sedang mandi.


Seulas senyum terbit sudut bibirnya.


Ziva keluar dari kamar Abian dan pergi ke dapur. Ia mengambil cangkir serta wadah gula dan kopi hitam. Ia mencium aroma kopi dari asap yang mengepul.


"Hmm .. Abian pasti suka," ujarnya.

__ADS_1


Ziva mengambil piring kecil sebagai alas cangkir kopi tersebut. Setelah itu ia kembali ke kamar tuan rumah guna mengantar kopi tersebut. Ia mendapati pemilik kamar baru saja selesai memakai kaos putih ketat dengan celana sebatas lutut.


"Hai .. Aku buatkan kopi untukmu. Apa aku boleh masuk?"


Abian sedikit terkejut. Ia belum sempat menyisir rambutnya.


"Taruh saja di meja ruang televisi, nanti aku aku menyusul ke sana," jawab pria itu.


"Ok. Aku tunggu." Ziva melipir pergi.


Abian mengambil sisir dan menatap pantulan wajahnya di cermin.


"Kita ini masih muda, Abian. Dan rasa bosan itu pasti ada. Sebelum kita turun mesin, kita bebas mencoba. Yaaa, itung-itung memanjakan diri dengan sesuatu yang berbeda. Kau akan menemukan rasa yang baru. Jika kau menikmati, lanjutkan. Tapi jika tidak, tinggalkan. Mudah bukan?"


Lagi-lagi ucapan Haidar terlintas di kepalanya. Sebelumnya Abian jarang bercermin. Dan kali ini begitu ia lihat pantulan wajahnya, ia memang masih muda.


Setelah rambutnya cukup rapi, Abian mengambil parfum dan menyemprotkan nya beberapa kali di tubuhnya. Barulah ia pergi menghampiri Ziva di ruang televisi.


"Maaf ya aku lama," ucap Abian kemudian duduk di samping Ziva.


"Its okay, tidak apa-apa."


Ziva mencium aroma parfum Abian.


"Kau wangi sekali."


"Oh ya?"

__ADS_1


"Iya. Aku belum pernah mencium aroma parfum mu sewangi ini."


Abian tersenyum. Memang sebelumnya ia tidak pernah menyemprotkan parfum sebanyak tadi.


"Ah ya, minum dulu kopinya. Nanti keburu dingin." Ziva memberikan cangkir kopi tersebut.


"Terima kasih," ucap pria itu.


"Ya, sama-sama. Jangan lupa di habiskan."


Abian menyeruput kopinya beberapa kali, kemudian ia taruh ke meja.


"Kemanisan tidak?" tanya Ziva memastikan.


"Pas."


"Manisan mana dengan bibirku?"


Pertanyaan Ziva membuat Abian tampak salah tingkah. Ia sampai mengalihkan pasangan nya ke arah lain.


"Mau coba lagi?" tawar Ziva kemudian.


"Hm?"


Ziva mendekatkan posisi duduknya lebih rapat dengan Abian. Ia menatap pria itu dengan tatapan penuh godaan.


"Bersenang-senang denganku, sayang," bisik Ziva terasa seperti angin segar.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2