GAIRAH TEMAN ISTRIKU

GAIRAH TEMAN ISTRIKU
Pengkhianat di Khianati


__ADS_3

Seorang wanita kelihatan sedang panik begitu melihat chat yang masuk ke dalam ponsel kekasihnya.


"Hani? Siapa itu Hani?" pikirnya.


Dia menggenggam ponselnya erat-erat sebagai bentuk menyalurkan emosi. Meski ia sering menjadi orang ketiga dalam hubungan orang lain, entah kenapa ketika ada orang ketiga yang mencoba masuk ke dalam hubungannya, ia sangat marah bahkan benci.


"Ziva, kau kenapa?" Seorang pria yang baru saja keluar dari kamar mandi mendapati kekasihnya dengan raut wajah tak biasa.


Ziva mengangkat ponsel tersebut ke udara.


"Jadi kau memiliki wanita lain selain aku, Haidar?" seru Ziva berakhir dengan membanting ponsel tersebut ke lantai guna meluapkan emosinya.


Tentu saja hal itu membuat Haidar sangat marah.


"Berani sekali kau membanting barang milikku?" seru pria itu.


"Oh jelas aku berani. Sebab kau memiliki wanita lain selain aku. Benarkan?"

__ADS_1


"Ya," jawab Haidar cepat.


"Kenapa kau mengkhianati aku? Apa selama ini yang aku berikan untukmu belumlah cukup? Aku selalu memberikan tubuhku setiap kau mau."


"Karena aku memang tidak pernah cukup dengan satu wanita. Kenapa? Kau mau marah? Silahkan! Itu tidak akan membuatku rugi. Dan apa kau lupa, kalau kau juga seorang pengkhianat, hah? Kau mengkhianati sahabatmu sendiri untuk memuaskan hasratmu. Kau juga mengkhianati suamimu hingga rumah tanggamu berakhir dengan perpisahan. Kau sendiri yang mengatakannya bukan?"


Ziva di buat tidak bisa berkata-kata.


"Kau tidak punya hak untuk marah padaku. Kau ini memangnya siapa, Ziva? Kau hanya seorang wanita gelandangan yang beruntung bertemu denganku."


"Seharusnya kau berterima kasih padaku. Berkat diriku, kau masih bisa hidup sampai sekarang. Kau bisa makan enak, tidur enak, kau masih bisa menikmati hidup. Jika kau keberatan aku dengan wanita lain, silahkan angkat kaki dari sini. Lagipula, aku sudah tidak lagi membutuhkanmu."


Haidar melipir pergi dari sana. Sementara Ziva masih mematung di tempat. Ia menghentakkan kakinya ke lantai dengan kedua tangan mengepal.


"Aaargghh ... "


Ziva juga mengacak rambutnya frustasi.

__ADS_1


"Jika aku pergi dari sini, aku harus pergi kemana? Tapi jika aku tetap bertahan di sini, maka Haidar akan menginjak-injak diriku."


"Sebaiknya aku bertahan dulu saja di sini untuk beberapa waktu sampai aku mendapatkan tempat tinggal baru."


Ziva kembali melirik ponsel yang sudah retak di lantai. Ia menginjak ponsel tersebut agar ponsel itu benar-benar hancur sebagai luapan emosi nya.


Haidar berdiri di balkon dan untuk menangkan dirinya.


"Kau pikir kau bisa mengatur hidupku, wanita gelandangan? Tidak akan pernah bisa. Kau ini hanya seorang wanita gelandangan. Jika bukan karena body mu itu, mungkin aku tidak akan tertarik menolongmu. Hanya saja, terlalu di sayangkan jika tidak aku coba."


Haidar tersenyum menyeringai. Tidak ada seorang pun yang berhak mengatur dirinya. Ia sudah terlalu muak untuk di atur-atur dan di kekang seperti saat masih menjadi suami di pernikahannya dulu. Cukup sekali dan tidak boleh lagi terjadi.


"Sekali lagi kau berani mengatur hidupmu, maka aku tidak akan segan-segan mengusirmu secara paksa."


Haidar tidak pernah macam-macam dengan ucapannya. Siapapun yang berani mengganggu hidupnya, maka orang itu sudah siap di hempaskan ke dalam jurang kesengsaraan.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2