
"Ibu, kenapa lama sekali?"
Pertanyaan Elona menyambut kepulangan Aruna dari minimarket. Wanita itu lalu mengajak putrinya masuk.
"Maaf ya, sayang. Pembelinya sedang ramai. Jadi ibu harus mengantri panjang. Ah ya, ibu juga belikan sereal dan cemilan untuk Elona."
Aruna memperlihatkan apa yang baru saja ia beli di tas jinjing pada Elona.
"Yeay .. Asiikk .. Aku boleh makan yang ini?"
Elona menunjuk salah satu cemilan yang di belikan oleh ibunya.
"Tentu saja. Ini." Aruna memberikan nya.
"Terima kasih, ibu."
"Sama-sama, sayang."
"Aku ingin menonton televisi sambil makan cemilan ini, bu. Boleh?"
"Bo .." Aruna menggantung kalimatnya.
Tiba-tiba ingatan buruk itu terlintas di kepalanya. Semenjak kejadian itu, ia tidak pernah lagi memasuki ruang televisi.
"Boleh kan, bu?"
"Tidak boleh, sayang," larang Aruna dengan spontan.
"Kenapa, ibu? Kenapa aku tidak boleh menonton televisi?" raut wajah Elona tampak sedih.
"Bukan begitu, sayang. Ibu tidak bermaksud melarangmu untuk menonton televisi. Hanya saja ibu lupa belum membersihkan ruangan itu. Sebab banyak sekali kotoran di sana. Ibu akan membersihkan nya besok. Sekarang jangan dulu, ya."
Bocah itupun mengangguk. Meski sejujurnya ia sedih lantaran ingin menonton televisi setelah beberapa hari ini tidak menyaksikan acara kesayangan nya.
"Iya, ibu."
__ADS_1
"Elona ikut ibu ke dapur, yuk. Ibu mau masak untuk makan malam kita nanti."
"Baik, ibu," jawab Elona menurut.
Mereka pergi ke dapur. Elona duduk di kursi makan sambil menunggu ibunya selesai membuatkan susu, ia memakan cemilan nya.
"Di habiskan, ya." Aruna meletakan wadah susu Elona di atas meja hadapan bocah itu.
"Iya, ibu. Terima kasih."
"Sama-sama, sayang."
"Ibu .." panggilan Elona mencegah langkah ibunya yang hendak kembali ke pantry.
"Iya, sayang?"
"Ayah pulang jam berapa?"
Deg.
Aruna membelai rambut Elona.
"Nanti malam, sayang. Ayah sedang sibuk. Jadi kemungkinan ayah pulang di waktu Elona sudah tidur."
"Benarkah?"
"Iya."
"Kalau begitu aku mau tunggu ayah pulang dulu saja, baru aku mau tidur."
"Jangan!"
"Kenapa, bu?" tanya Elona kebingungan.
"Mmm ... Elona kan masih kecil, sayang. Jadi tidak baik kalau begadang. Apalagi besok nya Elona harus sekolah. Elona mau jadi anak yang pintar, bukan?"
__ADS_1
Elona mengangguk. "Iya, ibu."
"Kalau begitu, Elona harus menurut apa kata ibu. Ok!?"
"Ok, ibu."
"Ya sudah, habiskan cemilan dan susu nya. Ibu masak dulu ya, sayang." Aruna meninggalkan sebuah kecupan di kening Elona, setelah itu ia kembali ke pantry.
Sesekali Aruna menoleh ke belakang, melihat putrinya yang tengah asik makan cemilan kesukaan nya.
"Maafkan ibu, sayang. Ibu terpaksa harus bohong pada Elona. Elona masih kecil, Elona belum tahu apa-apa." Aruna kembali memupuk cairan putih bening di pelupuk matanya, namun segera ia usap agar air mata nya tidak sampai menetes.
Aruna mulai mengiris bawang merah dan bawang putih.
"Ibu kenapa menangis?"
Aruna terkejut begitu Elona sudah berdiri di samping nya.
"Mm, ibu tidak menangis, sayang. Ini ibu sedang mengiris bawang, jadi matanya terasa sedikit perih." Aruna menyeka air mata nya menggunakan lengan baju nya.
"Sungguh, ibu tidak menangis?"
"Tidak, sayang. Elona kenapa di sini? Ibu kan minta Elona untuk tunggu saja di sana."
"Aku buang sampah bekas cemilan ibu. Ah ya, aku mau pamit ke kamar saja, ibu. Mau belajar menggambar lagi," jawab bocah itu.
"Ah ya sudah. Susu nya sudah di habiskan?"
"Sudah, ibu."
"Bagus, sayang."
Setelah Elona pergi, Aruna menghela napas lega. "Aku harus lebih hati-hati lagi. Aku tidak boleh terlihat meneteskan air mata di depan Elona."
_Bersambung_
__ADS_1