
Elona duduk sambil memeluk boneka nya nya di atas tempat tidur. Tadi ibunya memberi pesan sebelum berangkat bekerja.
"Kenapa ibu meminta aku untuk jangan terlalu dekat dengan bibi Ziva? Padahal ibu bilang bibi Ziva orang nya baik. Dan bibi Ziva memang sangat baik padaku," ujar bocah itu.
"Apa ibu dan bibi Ziva berantem, ya?"
"Bibi Ziva baik, tapi aku harus patuh dengan ibu."
Elona melirik pada buku dongeng yang sering Ziva bacakan untuknya sebelum tidur. Mungkin mulai saat ini ia tidak akan mendengar cerita dongeng itu lagi.
Perhatian Elona beralih pada pintu kamarnya yang di buka oleh seseorang. Dan seseorang itu tidak adalah Ziva.
"Hai, cantik. Bibi temani tidur siang ya?" tawar Ziva seraya berjalan ke arah ranjang tempat tidur Elona.
"Aku tidak mau," tolak Elona.
"Tidak mau kenapa, sayang? Bibi bacakan dongeng mau?"
"Tidak mau."
"Ya sudah, kalau begitu bagaimana kalau bibi buatkan susu. Mau?"
"Aku tidak mau, bibi."
Ziva merasa ada yang aneh dari Elona. Bahkan sikap Aruna pun berubah. Apa jangan-jangan Aruna mulai mencurigainya.
"Ah, rasanya Aruna tidak mungkin curiga," ujar Ziva dalam hati.
"Elona, sayang-"
Elona menepis tangan Ziva yang menyentuh lengan nya. Tentu saja Ziva terkejut.
"Pergilah, aku ingin tidur sendiri," usir bocah itu.
"Tapi, sayang. Memangnya bibi salah apa?"
"Aku ingin tidur sendiri, bibi. Jadi tolong pergilah. Aku mohon keluar dari kamar aku."
Elona membaringkan tubuhnya memunggungi Ziva. Wanita itu merasa ada yang tidak beres.
Suara mobil yang terdengar berhenti di halaman rumah membuat Ziva beranjak dari sana. Ia bergegas membukakan pintu depan guna menyambut Abian.
"Hai .." Ziva memberi sebuah kecupan di bibir Abian dan pria itu sama sekali tidak keberatan.
__ADS_1
"Tumben pulang awal? Kau pasti rindu padaku. Benar kan?"
Abian mengulas senyum. Ziva menarik tangan Abian dan membawa pria itu.
"Mau coba lagi gak?" tawar wanita itu dengan nada bicara terdengar godaan.
"Elona sudah tidur?"
"Sudah."
Ziva melucuti jas yang kenakan Abian. Kemudian mereka melakukan pemanasan berupa ciuman. Abian mengungkung tubuh Ziva di tembok.
Keduanya tampak agresif. Ziva tidak mau kalah. Ia membuka kancing Abian satu persatu sementara Abian sendiri masih asik menciumi bibir Ziva.
Abian melepaskan ciuman di bibir, ia mulai turun ke bawah telinga lalu pada bagian leher. Sementara tangan nya sudah liar mengguliri permukaan kulit dan berhenti pada gundukan kenyal di dada.
Di luar pagar , Aruna berdiri sambil memandang rumahnya. Ada keraguan di hatinya untuk memastikan apa yang saat ini ia curigai. Tapi ia harus memantapkan diri dan menguatkan diri, apapun yang terjadi di dalam rumahnya saat ini, ia harus kuat.
Ia memutuskan untuk mengambil jatah jatah liburnya minggu ini. Tadi ia tidak benar-benar bekerja. Ia pun tidak ke mana-mana. Ia menunggu mobil suaminya datang setelah itu melihat apa yang terjadi di dalam rumah selama ia tidak ada.
Perlahan Aruna melangkah, langkah yang terasa sangat berat. Kebetulan pintu depan tidak di tutup rapat, sehingga tidak menimbulkan bunyi saat di buka.
Aruna masuk, melangkah lebih dalam. Dan langkahnya terhenti begitu melihat pemandangan yang mengerikan.
Sekujur tubuh Aruna seketika mematung, beku layaknya es batu. Aliran darahnya seolah berhenti sementara jantungnya berpacu dengan cepat.
"Ahh .. Baby .. Ahhh .. Mmpphhh .."
Suara rintihan Ziva terdengar menusuk di telinga Aruna. Ia membungkam mulutnya yang menganga saat melihat suaminya tengah mencumbu teman nya sendiri.
"ABIAN..!!!" seru Aruna.
Sontak Abian dan Ziva melepaskan tautan bibirnya. Abian terkesiap begitu Aruna berdiri sejauh lima meter darinya tengah menyaksikan hubungan nya dengan Ziva.
"Aruna," ucap pria itu lirih.
Ziva menyeka bibirnya yang basah, keduanya membenarkan pakaian masing-masing. Setelah itu mereka menghampiri Aruna.
"Aruna, tolong dengar penjelasanku, Aruna," ucap Abian sambil berlutut di kaki istrinya.
"Aruna, ini tidak seperti yang kau lihat. Tolong dengarkan dulu penjelasan kami!" timpal Ziva.
Kedua mata Aruna memerah menahan amarah. Ia masih tidak menyangka jika Abian setega itu padanya.
__ADS_1
Abian bingung harus menjelaskan apa, Aruna memergoki dirinya.
Ziva menghambur ke dalam pelukan Aruna.
"Aruna, maafkan aku. Aku bisa jelaskan ini. Sungguh, tidak ada hubungan di antara kami. Tolong, maafkan aku," ucap Ziva mengiba.
Tangan Aruna perlahan bergerak, bukan niat ingin membalas pelukan Ziva, tanpa di duga, Aruna menarik rambut panjang Ziva dan mendorong nya sampai wanita itu jatuh terpentok ke laci.
"Aawww .." rintih Ziva merasa kesakitan.
"KAU BILANG MINTA MAAF? APA SEMUA KESALAHAN BISA SELESAI DENGAN KATA MAAF, HAH!?"
Aruna menarik kembali rambut Ziva kemudian ia melayangkan sebuah tamparan dan mendarat mulus di pipi wanita itu.
"TEMAN TIDAK TAHU DIRI! AKU SUDAH MEMBERI MU TEMPAT TIDUR, MAKAN. DAN KAU AMBIL SUAMIKU JUGA. TEMAN MACAM APA KAU INI, ZIVA!"
Aruna semakin membabi buta. Ia berusaha untuk tidak menangis agar tidak di anggap lemah oleh mereka.
"Aku minta maaf, Aruna. Aku minta maaf," ucap Ziva.
"Aruna, stop, Aruna! Jangan seperti ini. Aku tahu, aku dan Ziva salah. Tapi tolong, maafkan kami."
Abian berusaha melepaskan tangan Aruna dari rambut Ziva. Bagi Abian, Aruna sudah sangat keterlaluan.
Aruna mendorong tubuh Ziva sampai wanita itu jatuh tersungkur ke lantai, kemudian ia melayangkan tamparan keras pada pipi suaminya.
Plaakkk ..
Setelah itu tiba-tiba suasana berubah menjadi hening. Aruna melihat setetes darah segar dari sudut bibir Abian. Kemudian ia melihat tangan yang baru saja gunakan untuk menampar Abian.
"Sayang, please. Maafkan aku, sayang."
"Pergi kalian dari sini. PERGIIII ..!!" usir Aruna dengan amarah yang meluap-luap.
"Sayang-"
"AKU BILANG PERGI! PERGIIII ...!!!"
Sepertinya Aruna sangat marah dan kecewa. Abian benar-benar menyesal dengan apa yang sudah terjadi. Dan sekarang, ia tidak tahu harus melakukan apa untuk mendapatkan maaf dari Aruna.
Abian dan Ziva pun beranjak dari sana. Abian sengaja melambatkan langkah nya, berharap jika Aruna akan mengubah keputusan dan berusaha menahan kepergian nya. Akan tetapi tidak sama sekali. Aruna tetap menginginkan nya pergi dari rumah itu.
Setelah mereka pergi, Aruna menekuk lutut nya di lantai. Barulah ia menumpahkan tangis nya atas pengkhianatan yang di lakukan oleh suami dan teman nya.
__ADS_1
"Aaaarrrggghhh .. " jeritan Aruna melengking dan sampai menembus langit sangat cakrawala.
_Bersambung_