GAIRAH TEMAN ISTRIKU

GAIRAH TEMAN ISTRIKU
Meminta Izin


__ADS_3

Seperti biasa, Aruna membuatkan susu untuk putrinya sebelum dia tidur. Begitu ia membuka pintu kamar, ia mendapati Elona tengah memeluk tas beserta pensil warna yang di belikan oleh Haikal.


Aruna tidak langsung masuk, ia sengaja berdiri di ambang pintu untuk melihat apa saja yang akan di lakukan oleh putrinya.


Elona tidak hanya mendekap tas dan pensil warna tersebut, dia juga sesekali mencium nya. Aruna segera berjalan menghampiri dan duduk di tepi ranjang.


Sadar ibunya datang, Elona segera meletakan tas dan pensil warnanya. Wajahnya berubah sedikit takut, namun ibunya membelai rambutnya dengan sangat lembut di sertai ulasan senyum kecil.


"Elona kenapa, sayang?" tanya Aruna kemudian, bocah itu menggeleng.


"Apa ibu pernah mengajari Elona untuk berbohong?" tanya Aruna dan lagi-lagi Elona menggeleng.


"Kalau begitu, sekarang Elona cerita pada ibu. Elona kenapa sampai peluk tas dan pensil warna pemberian paman Haikal?"


Elona menatap ibunya sekilas, sebelum akhirnya ia kembali menunduk.

__ADS_1


"Aku-"


"Kalau sedang bicara jangan menunduk, lihat ibu, sayang." Aruna mengangkat wajah putrinya sampai bocah itu berani menatap matanya. "Sekarang cerita pada ibu."


Elona mengangguk. "Aku rindu pada paman Haikal, ibu. Kemarin kira bertemu, namun tidak ada kesempatan untuk kami bicara. Dan tadi paman Haikal malah sudah pulang," ungkap Elona.


"Sebesar itu rindu Elona terhadap paman Haikal? Sampai Elona peluk dan cium barang-barang pemberian darinya."


"Dulu aku takut jika paman Haikal sama seperti bibi Ziva, yang akan mengambil ibu dari aku. Juga paman Haikal akan sama seperti ayah, menyakiti ibu. Tapi begitu aku sudah kenal dekat dengannya, justru aku yang takut kehilangannya," terang bocah itu.


Aruna menarik napas dalam-dalam, menghembuskan nya secara perlahan.


"Elona, sayang. Ibu kasih tahu, nak. Setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan. Dan semanis apapun perpisahan akan terasa menyakitkan. Kita harus belajar ikhlas jika harus kehilangan seseorang. Paman Haikal tidak bisa selamanya ada untuk Elona."


"Bisa, ibu," sahut Elona.

__ADS_1


"Caranya?"


"Ibu mengizinkan paman Haikal untuk jadi ayahku. Maka aku bisa selamanya dengan paman Haikal. Bagaimana, apa ibu mengizinkan?" tanya Elona penuh harap.


Mendengar permintaan Elona membuat Aruna bergeming seketika. Ia tidak tahu harus menjawab dan menjelaskan seperti apa pada putrinya. Karena jujur, ia masih takut untuk memulai kembali kisah baru.


Suara notifikasi membelah keheningan di antara mereka. Aruna meraih ponsel yang sebelumnya ia letakan di atas nakas samping tempat tidurnya sebelum membuatkan susu. Ia mendapat chat dari seseorang.


08xx:


Malam, Aruna. Ini nomor baruku, Abian. Apa besok aku boleh mengajak Elona jalan-jalan? Besok kan Elona libur sekolah. Aku ada rencana mengajaknya jalan-jalan sore setelah aku pulang kerja. Itupun jika kau mengizinkan.


Aruna kembali diam. Sebenarnya ia masih tidak rela jika Elona dekat-dekat dengan Abian, meski pria itu ayah dari putrinya. Sebab Abian tidak mengingat jika dia sudah memiliki malaikat kecil sewaktu mengkhianati nya dengan Ziva. Tapi ia jadi ingat kata-kata Haikal di sekolah saat mereka menghadiri acara pentas seni Elona, sebelum kejadian yang membuat pria itu tidak bisa jalan untuk beberapa waktu yang tidak bisa di tentukan.


"Dia hanya gagal menjadi suamimu, bukan berarti gagal menjadi ayah dari putrimu."

__ADS_1


Aruna sadar, jika Elona bukan hanya miliknya. Tapi milik Abian juga. Dan darah yang mengalir di tubuh Elona juga ada darah Abian.


_Bersambung_


__ADS_2