
Seorang wanita yang terpaksa tidur di depan roku milik orang tiba-tiba saja terbangun. Dia merasa sangat mual bahkan ingin muntah.
"Hoekss .. Hoekss ..." Wanita itu memuntahkan isi perutnya yang tidak seberapa, sebab ia hanya makan sehari sekali itupun hasil ngorek di tong sampah.
"Hoekss .. Hoekss .. Hoekss ..."
Muntah nya berkelanjutan, kini tinggal cairan bening yang keluar.
"Oh my god, aku kenapa?" ujarnya lirih seraya menahan mual yang mendorongnya ingin terus muntah.
Refleks tangannya memegangi perut dan kedua matanya sontak membulat sempurna. Kemudian kepalanya menggeleng kuat.
"Tidak, tidak. Ini tidak mungkin. Aku tidak mungkin hamil, aku kan tidak bisa hamil."
Wajah wanita yang tidak lain adalah Ziva itu tampak menegang dan sedikit pucat tersorot lampu penerang jalan.
__ADS_1
"Aku tidak akan pernah bisa hamil, itu yang di katakan oleh Dokter saat aku periksa ke Dokter kandungan bersama Gavin. Lalu kenapa aku merasa mual bahkan muntah?"
Ziva kelihatan ketakutan sekali, tapi ia berusaha untuk positive thinking. Selama ia bermain dengan pria, ia tidak pernah hamil sebab ia memang di nyatakan tidak bisa hamil. Maka dari itu ia tidak takut melakukan hubungan badan dengan pria manapun.
"Apa aku hanya masuk angin biasa?" pikirnya. "Iya, sepertinya aku hanya masuk angin biasa. Sebab beberapa hari ini aku tidur di tempat seperti ini. Angin malam yang membuat aku seperti ini. Aku tidak mungkin hamil."
Wanita itu berusaha meyakinkan diri nya. Tapi itu tidak sepenuhnya mengurangi ketakutannya. Tetap saja yang ada di pikirannya saat ini adalah kata hamil.
"Tenang, Ziva. Kau tidak boleh panik seperti ini. Kau harus tenang."
Ziva menarik napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Namun rasa mual itu kembali membuatnya ingin muntah. Sekuat apapun ia menahan diri, pada akhirnya cairan putih bening itu berhasil keluar dari mulutnya.
Keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuhnya, ia benar-benar tersiksa oleh keadaan ini. Mual nya tak kunjung hilang dan muntah nya tak kunjung berhenti.
Setelah puas muntah-muntah, Ziva menyandarkan punggung dan kepalanya di rolling door ruko tersebut. Kedua matanya terpejam, napasnya terdengar memburu.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak mungkin hamil. Aku tidak mungkin hamil. Aku tidak ingin tersiksa setiap hari karena rasa mual dan muntah selama berbulan-bulan. Aku tidak mau."
Ia meng geleng-geleng kan kepalanya dan membiarkan matanya tetap terpejam. Tiba-tiba saja ia spontan membuka mata.
"Jika aku memang bisa hamil, maka anak ini ... "
Ziva sengaja menggantung kalimatnya begitu satu nama terlintas di pikirannya.
"Tidak, tidak. Aku pasti akan lebih tersiksa jika anak ini adalah darah daging Haidar. Aku tidak mau." Ia menggeleng dengan sangat kuat.
"Aku hanya ingin hamil anak Abian saja. Sebab aku akan merasa aman dan mendapatkan kebahagiaan jika anak yang aku kandung adalah anak Abian."
"Aku tidak mau hamil, aku tidak mau hamil anak Haidar."
Ziva memukuli perutnya kemudian meremmas nya. Ia tidak ingin hamil, apalagi jika itu anak Haidar. Ia bukan nya mendapat kebahagiaan, justru kesengsaraan yang akan ia dapatkan.
__ADS_1
Seketika ia menghentikan pukkullannya pada perut, kini tangannya memegang pelipis, ia merasa sangat pusing. Bahkan penglihatannya kini tampak memburam dan kini berubah hitam pekat. Sedetik kemudian ia jatuh terkulai dan tidak sadarkan diri. Malang sekali.
_Bersambung_