GAIRAH TEMAN ISTRIKU

GAIRAH TEMAN ISTRIKU
Ujung Aksara


__ADS_3

Hari demi hari telah Aruna lewati. Meski terasa berat, akhirnya ia bisa mengikhlaskan kepergian buah hatinya. Lagipula tidak baik juga jika berlarut-larut dalam kesedihan. Ia masih punya Elona dan juga Haikal.


Di depan hamparan pasir putih pantai, Aruna berdiri menatap lautan. Ia harus bisa membuang kesedihan dan menjemput kebahagiaan yang sudah Allah tetapkan untuknya. Baginya, memiliki malaikat kecil seperti Elona dan juga suami seperti Haikal merupakan kebahagiaan yang patut di syukuri. Jika Allah masih memberinya kesempatan, ia pasti bisa memberi adik lagi untuk Elona.


Awalnya Elona juga sedih begitu mendengar ia kehilangan dedek bayi nya. Tapi melihat ibunya lebih sedih, ia berusaha untuk menghapus kesedihannya demi menghibur sang ibu.


Aruna menoleh ke arah kanan begitu mendengar suara putri dan suaminya tengah tertawa lepas sambil lari kejar-kejaran. Keduanya saling menembakan gelembung pistol sabun. Seulas senyum terukir di kedua sudut bibir Aruna, menambah pesona kecantikannya.


Elona berlari ke arah ibunya, bocah itu bersembunyi di balik badan sang ibu.


"Ibu, tolong aku .."


"Ayo lawan ayah, sayang. Ayooo .."


"Aaaa ..." Elona mengaku kalau lantaran ayah Haikal nya terus menembakan gelembung sabun ke arahnya.


Elona berusaha melawan, tapi tetap saja ia kalah, terlebih sabun cair di dalam pistolnya kini habis.


"Ayah, stoopp ..!! Punyaku sudah habis .."


"Sudah, stop, stop. Sudah, ya .." kata Aruna.


Haikal pun berhenti menembakan gelembung sabunnya. Kemudian menghembuskan napas.


"Iya, sudah. Ayah capek kejar-kejar Elona terus. Tapi ayah menang kan?"


"Iya, ayah. Aku yang kalah. Tapi boleh tidak jika kita tukar pistol gelembung nya? Punya aku sedikit lagi," pinta Elona.


Haikal menyerahkan pistol gelembung tersebut pada putrinya.


"Main sendiri dulu, ya. Tapi ingat, jangan jauh-jauh, ok!?"

__ADS_1


Elona mengangguk paham. "Baik, ayah. Ibu, aku main dulu, ya."


"Iya, sayang. Jangan jauh-jauh, ya. Air lautnya sudah mulai pasang, bahaya."


"Iya, ibu." Elona pun sedikit menjauh dari sana dan kembali memainkan pistol gelembung nya sendirian.


Haikal menggenggam kedua tangan Aruna cukup erat dengan sepasang mata mereka yang saling menatap. Tatapan keduanya penuh cinta, kasih sayang.


"Aku masih tidak percaya, jika pada akhirnya kita akan menjadi sepasang suami istri. Jika aku tahu aku akan bersama dengan dirimu, maka dari awal aku tidak akan menikah dengan Abian. Tapi sayangnya, takdir terlalu indah dan rencana Allah yang paling terbaik," ucap Aruna.


"Mungkin aku di takdirkan sebagai pelindungmu di kala kau mendapat ujian berupa perpisahan rumah tanggamu yang tragis. Dan aku sangat bersyukur untuk itu," balas Haikal.


"Iya, kau benar. Kau di kirim Tuhan untuk aku dan Elona, kau benar-benar malaikat pelindung untuk keluarga kecilku. Buktinya kau mau melindungi Elona dan mengorbankan dirimu sendiri."


"Bahkan nyawa sekalipun aku rela pertaruhkan demi melindungi keluarga kecil ini. Aku menyayangi kalian di banding dengan diriku sendiri. Kalian terlalu berharga buat aku," ucap pria itu.


"Sekarang aku tahu kenapa Ziva di kirim Tuhan untuk datang ke rumahku dan aku membiarkannya masuk ke celah rumah tanggaku. Sepertinya aku juga harus berterima kasih pada Ziva, berkat dia aku di persatukan denganmu. Aku harap kau orang terakhir yang bersamaku."


"Kau tenang saja, sayang. Aku bisa menjaga perasaan ku selama bertahun-tahun untuk mu. Bahkan saat aku mengetahui kau sudah menikah dan mempunyai seorang anak saja aku masih menyimpan perasaanku rapat-rapat. Berulang kali aku berusaha untuk mengikis perasaan aku untukmu, tapi nyatanya aku tidak bisa. Selama itu juga, aku tidak pernah tertarik dengan wanita manapun. Di hatiku hanya ada satu nama saja, Aruna," ungkap Haikal membuat wanita itu tersipu malu.


"Terima kasih, ya. Terima kasih sudah mencintai aku sebesar itu," ucap Aruna merasa terharu.


"Iya, sayang. Bahkan aku pernah berpikir bagaimana jika aku menjadi bujangan tua, karena aku tidak pernah tertarik dengan wanita lain selain dirimu. Gavin sering kali meledekku seperti itu. Tapi begitu aku cerita padanya jika aku memiliki kesempatan untuk bisa memilikimu, Gavin orang pertama yang mendukung aku. Memberi semangat penuh untuk terus mendekatimu. Tapi sayangnya sekarang Gavin sudah tidak ada di sini, dia tetap pada keputusannya yaitu tinggal di Belanda."


Raut wajah Haikal sedikit sedih mengingat sepupunya yang paling baik itu. Ia berdo'a agar Gavin mendapat kebahagiaan nya di sana.


"Itu pilihan nya dan aku yakin Gavin pasti sudah memikirkan nya matang-matang. Dia pasti akan kembali ke sini untuk beberapa waktu, dia tidak selamanya tidak di sana."


"Iya, kau benar, sayang. Yang terpenting sekarang kita sudah di beri kebahagiaan dengan pasangan masing-masing. Aku bahagia sekali bisa bersamamu, bersama Elona. Terima kasih, sayang. Terima kasih, Aruna-ku. Aku mencintaimu, sangat." Haikal menatap Aruna dengan serius.


"Iya. Love you more, Haikal. Suamiku sayang."

__ADS_1


Semburat kebahagiaan terpancar di wajah keduanya. Mata mereka tampak berbinar-binar.


Haikal menoleh ke arah Elona bermain, sepertinya Elona aman. Tidak akan terjadi bahaya pada bocah itu, lantaran Elona tidak terlalu dekat dengan air.


Haikal kembali menatap wajah istrinya. Dengan tatapan cukup lekat. Jakunnya tampak naik turun menahan saliva. Aruna sudah bisa menebak apa yang saat ini ada di dalam pikiran suaminya.


Perlahan Haikal menarik tengkuk Aruna sampai akhirnya bibir keduanya menempel. Haikal mencium bibir Aruna cukup lembut sampai keduanya merasa terbuai. Namun tidak berlangsung lama, sebab khawatir Elona melihat adegan mereka barusan.


Kedua menoleh ke arah Elona, lalu Aruna memanggil putrinya untuk mendekat.


"Hati-hati, sayang," seru Aruna begitu Elona lari ke arahnya.


Haikal berjalan dua langkah untuk menyambut putrinya dan berlutut di pasir untuk mensejajarkan diri.


"Elona happy, sayang?"


"Happy, ayah," jawab bocah itu.


Haikal mencium pipi Elona lalu menggendong tubuh mungil bocah itu. Ketiganya memandang lepas ke arah lautan sembari menembakan gelembung sabun. Jika saja ada tolak ukur kebahagiaan di dunia, mungkin saat ini orang yang paling bahagia adalah keluarga kecil tersebut. Aruna, Elona dan Haikal.


...TAMAT ... ...


___


NOTE: Huuaaaa😭😭😭 Gak terasa ya GAIRAH TEMAN ISTRIKU sudah di penghujung cerita. Semoga kalian semua terhibur dengan cerita receh ku ini. Jangan lupa untuk follow akun Noveltoon ku ini, dan baca cerita-cerita novel ku yang lainnya.


Kalau boleh tahu, apa saja pembelajaran yang kalian dapat dari cerita ini? Tulis di kolom komentar, ya.


Dan yang ingin melihat video Aruna, Elona dan Haikal di pantai barusan bisa langsung cek ke instagram @wind.raham atau ke YouTube Windy Rahmawati.


In sya Allah besok atau lusa aku rilis novel baru lagi, jangan lupa di cek, ya. Pokoknya harus follow akun ini.

__ADS_1


See you💜


__ADS_2