
Seorang wanita hamil yang orang lain sebut sebagai wanita gelandangan tengah berjalan menyusuri bahu jalan seperti biasanya untuk mencari sisa makanan di setiap tong sampah yang ia temui. Perutnya sudah semakin besar, sehingga ia akan merasa sangat kelelahan ketika jalan lebih dari satu kilometer.
Ia berhenti di sebuah halte yang tidak terpakai, meski awalnya ia trauma dengan halte lantaran ia pernah di kejar oleh manusia tidak waras yang menggiring nya menuju tempat neraka itu, yaitu tempat orang-orang yang memiliki gangguan jiwa.
"Aku lelah sekali .." keluhnya seraya mengelap keringat yang bercucuran di pelipis dan bagian leher.
Cuaca siang ini cukup terik, sehingga membuatnya sangat haus sekali. Mana hari ini ia belum juga mendapat makanan, membuat tubuhnya terasa semakin lemas.
Wanita itu mengusap perutnya yang menonjol besar, sekuat apapun ia memukul perutnya agar bayi yang ada di dalam kandungan bisa keluar dan ia keguguran, akan berakhir dengan sia-sia. Andai ia punya uang banyak, mungkin ia sudah melakukan abbor si lantaran tidak sudi mengandung anak dari Haidar, pria yang membuatnya jadi seperti ini.
"Jika aku datang ke apartemen Haidar, yang aku dapatkan bukanlah sebuah pengakuan. Melainkan caci maki dan hinaan. Sama saja aku menjerumuskan diriku sendiri ke dalam lubang kesengsaraan," ujarnya.
"Jika anak ini terlahir nanti, aku berjanji akan menaruh anak ini di panti asuhan. Atau aku tinggal saja di tong sampah, aku tidak mau hidupku akan lebih sengsara karena kehadiran anak ini."
Ziva kembali memukuli perutnya sekuat tenaga yang masih ia miliki. Namun, seperti biasanya, akan berakhir sia-sia.
__ADS_1
Tiba-tiba saja ia di buat terkejut usai memukuli perutnya. Ia merasa ada yang bergerak dari dalam sana.
"Ada yang bergerak," ujarnya.
Ia menempelkan telapak tangannya di perut untuk merasakan gerakan yang barusan ia rasakan. Dan ia kembali rasakan gerakan dari dalam sana.
"Apa ini respon bayinya karena aku sudah memukuli perutku?" pikirnya.
Ziva menempelkan kedua telapak tangannya untuk memastikan kembali jika gerakan yang ia rasakan itu memang berasal dari bayi yang ada di dalam kandungannya.
Sampai gerakan dari dalam perutnya tidak lagi ia rasakan. Entah kenapa ia merasa sangat sedih dan ingin sesuatu yang ada di dalam sana kembali bergerak.
"Apa aku harus memukuli nya lagi supaya dia memberi respon?" pikirnya.
"Ah iya, sepertinya iya. Aku harus memukul dulu perutnya agar dia bergerak lagi."
__ADS_1
Ziva memukuli perutnya, namun sekuat apapun ia memukul perutnya, sesuatu di dalam sana tidak lagi memberinya respon berupa gerak.
"Kemana dia? Kenapa dia tidak merepon? Apa aku terlalu keras memukul nya? Ah, ayolah cepat gerak lagi."
Ziva kembali memukul perutnya, tapi kini lebih pelan agar tidak sampai melukai sesuatu yang ada di dalam perutnya. Sampai akhirnya perhatiannya teralih begitu ia mendengar sayup-sayup suara banyak orang yang teriak panik.
"Suara apa itu?" Ziva menghentikan pukulannya dan bangkit berdiri dari sana.
Di depan sana terdapat sebuah pertigaan, dan ia mendengar suara riuh orang-orang dari tikungan jalan sebelah kanan.
"Aku harus ke sana untuk mengeceknya."
Ziva bergegas pergi dari sana, ia khawatir terjadi sesuatu di sana.
_Bersambung_
__ADS_1