
"Hai .."
Sapaan seseorang membuat Abian yang tengah duduk bangku besi taman bawah pohon rindang menoleh. Sosok pria yang beberapa jam lalu ia temui di depan resto Aruna kini berdiri di hadapan nya.
Abian bangkit berdiri, menghadap pria tersebut.
"Kenapa kau mengikutiku?" tanya Abian dengan sorot mata tajam.
Haikal tersenyum simpul. "Maaf, aku tidak pernah mengikutimu. Kebetulan aku memang sedang di sini."
"Benarkah?"
"Ya, untuk apa aku mengikutimu."
"Aku tidak percaya. Kau pasti sudah mendengar pembicaraan aku dan Aruna tadi kan? Maka dari itu kau mengikutiku untuk cari tahu apa permasalahan nya. Dasar tukang kepo!" Cibir Abian.
"Sorry, tapi aku tidak seperti yang kau pikirkan. Jika aku seperti apa yang baru saja kau katakan, maka aku akan menanyakannya pada Aruna, bukan padamu."
Abian semakin menghunus kan tatapan tajam pada Haikal. Bahkan kedua tangan nya kini mencekeram erat kerah kemeja hitam yang di kenakan oleh Haikal.
"Jangan pernah dekati Aruna, dia istriku!" ancam pria itu.
"Tapi Aruna sudah tidak ingin menjadi istrimu!"
Abian semakin mengeratkan cengkraman nya. "Jangan bicara kurang ajar!" sentak Abian.
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Aku bisa lihat Aruna tidak nyaman berada di dekatmu. Bahkan dia sudah tidak ingin kau menyentuhnya. Dan tadi aku juga dengar kalau Aruna sedang menggugat perceraian denganmu."
__ADS_1
Bugg.
Sebuah pukulan keras Abian layangkan dan mendarat mulus di pipi sebelah kiri Haikal. Tubuh Haikal sedikit oleng lantaran kehilangan keseimbangan. Setitik darah segar menetes dari sudut bibirnya.
"Jangan ikut campur masalah kami!" Abian memberi sebuah peringatan.
"Aku tidak pernah mencampuri urusanmu. Aruna itu temanku, aku hanya kasihan padanya. Tentunya aku tidak tega melihatnya di sakiti oleh seseorang, termasuk kau suaminya," balas Haikal.
"Lalu kau mau apa? Mau menjadi orang yang sok perhatian untuk mengambil hati Aruna? Tidak bisa. Aku akan tetap memperjuangkan Aruna."
"Tapi sayangnya, sudah tidak ada lagi tempat untukmu di hati Aruna."
Untuk kedua kalinya Abian melayangkan pukulan pada Haikal, namun gagal. Haikal dengan cepat menangkis tangan nya.
"Aku tahu kau orang baik, maka dari itu Aruna memilihmu menjadi suaminya. Tapi sayang, kebaikanmu mudah di manfaatkan oleh wanita lain, sehingga wanita itu dengan mudahnya menyelinap masuk ke dalam kehidupan pribadimu," bisik Haikal sebelum akhirnya pergi dari sana.
"Dia pasti bukan orang sembarangan. Aku harus hati-hati dengannya." gumam Abian.
***
Matahari sudah condong ke barat. Langit sudah memerah menandakan senja. Elona belum juga pulang. Tapi Aruna tidak begitu khawatir, sebab Elona pergi bersama ibu Zahrana. Tentu saja ia percaya dengan wanita itu.
Aruna memutuskan untuk masuk ke rumah, menunggu Elona di dalam saja. Baru membalikan badan belum sempat melangkah dari tempat berdirinya, suara yang menggemaskan itu terdengar.
"Ibuuu ..."
Aruna membalikan badannya. Elona lari dari depan pintu pagar ke arahnya. Sementara ibu Zahrana berjalan di belakang Elona.
__ADS_1
Aruna merentangkan tangan menyambut kepulangan putrinya dengan tubuh sedikit di bungkukan.
"Elona, sayang." Peluk Aruna. "Bagaimana di sana? Apa menyenangkan?" tanya Aruna kemudian usai melepaskan pelukannya.
"Sangat menyenangkan. Di sana aku menemukan banyak teman. Mereka semua baik-baik," jawab Elona.
Aruna mendongakan wajahnya melihat ke arah ibu Zahrana, wanita itu tersenyum sambil mengangguk membenarkan. Aruna lekas bangkit berdiri.
"Terima kasih sudah menjaga Elona, ibu Zahrana. Saya tidak tahu harus membalas kebaikan ibu seperti apa," ucap Aruna.
"Kembali kasih, Aruna. Sudah mengizinkan Elona ke acara bersama saya."
"Iya, bu."
"Kalau begitu, saya pulang dulu, ya. Elona, ibu Za pulang dulu, ya," pamit beliau.
"Iya. Kalau ada acara lagi, aku boleh ikut lagi tidak?" Jawab dan tanya bocah itu.
"Elona .." Aruna memberi peringatan segan.
Sementara ibu Zahrana tersenyum. "Boleh sekali, sayang. Nanti ibu Za ajak Elona lagi."
"Yeay ... Asiiikkk ..." Soraknya girang.
Aruna ikut senang melihat putrinya bahagia. Meski ia harus merasa segan terhadap ibu Zahrana.
_Bersambung_
__ADS_1