GAIRAH TEMAN ISTRIKU

GAIRAH TEMAN ISTRIKU
Kebangkrutan


__ADS_3

Perusahaan Abian kini tengah di ambang kebangkrutan dan sudah berada di ujung tanduk. Itu terjadi karena pengeluaran dana perusahaan yang sangat besar namun pemasukan sangat kecil. Selain itu hutan perusahaan mengalami pembengkakan.


"Kenapa ini bisa terjadi? Kenapa hutang perusahaan bisa sebesar ini?" seru Abian pada sekretaris dan karyawan kantornya.


Mereka semua menundukan kepalanya. Tidak ada yang berani menyahut. Sebelum nya mereka belum pernah melihat ataupun mendengar Abian marah. Abian terkenal sebagai atasan yang baik dan ramah.


"Kenapa kalian semua diam? JAWAB!"


Sentakan Abian membuat tubuh mereka tersentak kaget. Merasa takut. Padahal selama ini mereka bekerja dengan sebaik mungkin. Bekerja sesuai dengan prosedur.


"Jika seperti ini cara kerja kalian, lebih baik kalian angkat kaki saja dari perusahaan ini!" seru Abian lagi.


Mereka tampak bisik-bisik lalu meninggalkan ruangan ruangan tersebut.


"Aarrgghhh ..."


Abian menyapu bersih apa yang ada di mejanya. Meluapkan kekesalan nya. Satu masalah saja belum tuntas, sekarang sudah muncul lagi masalah baru. Hidupnya sedang berada di ambang kehancuran. Keluarga, pertemanan, pekerjaan, hancur semua.


"Kenapa hidupku jadi sesial ini?"


"Aarrgghhh ..."


Abian menendang meja kerjanya. Napasnya kini tersengal, emosinya kian memuncak. Tapi ia berusaha untuk tetap mengontrol diri agar tidak melakukan hal yang merugikan diri sendiri lagi.


Tubuh Abian jatuh merosot ke lantai. Penyesalan kembali datang menghampiri.


"Setetes air mata yang jatuh dari mata Aruna yang di sebabkan olehku, menghancurkan segalanya. Aku tidak hanya kehilangan keluargaku, aku juga harus kehilangan pekerjaanku."


Abian mengusap wajahnya di iringi dengan hembusan napas kasar.


"Perusahaanku sudah hancur. Impian memiliki rumah yang lebih layak, juga sekolah terbaik untuk Elona pun ikut terkubur. Sekarang aku harus bagaimana?"

__ADS_1


Jika ia boleh berandai, andai waktu bisa di putar kembali. Maka ia tidak akan melakukan kesalahan fatal itu.


"Pantas Elona membenciku, akupun membenci diriku sendiri. Aku suami yang buruk, aku ayah yang buruk, aku pemimpin yang buruk."


Abian memukuli dirinya sendiri. Ia benar-benar marah, kecewa, dan benci pada dirinya sendiri.


"Andai saat itu aku bisa mengontrol diriku, mungkin kejadian seperti ini tidak akan pernah ada. Dan jika masalah perusahaan tetap mengalami hal seperti ini, setidaknya aku masih memiliki keluarga yang lebih dari segalanya."


Jika ada sesuatu yang bisa menebus kesalahannya, maka akan Abian lakukan meski harus menaruhkan nyawa sekalipun.


***


Aruna membawa sesuatu di tangannya, ia memutar knop pintu kamar putrinya dan masuk ke sana. Ia mendapati Elona tengah mewarnai gambar.


"Belum tidur anak ibu?" Aruna duduk di tepi ranjang, pandangan nya tertuju pada gambar yang sedang Elona warnai.


Gambar tersebut merupakan gambaran seorang ibu dan anak perempuan. Yang saling tertaut dan memeluk.


"Elona. Ini aku, ini ibu. Aku sayang ibu, ibu sayang aku. Aku buat gambar kita berpelukan, supaya aku bisa jaga ibu dari orang yang mau berbuat jahat. Bagus kan?"


Aruna terharu mendengarnya, meski bagi orang lain mungkin itu hanya hal kecil.


"Iya, sayang. Bagus. Kau pintar sekali menggambarnya."


"Terima kasih, ibu."


Elona melanjutkan kembali mewarnai gambarnya. Sebuah hal yang yang memiliki makna yang dalam.


Aruna tiba-tiba melupakan sesuatu di tangan nya.


"Ah ya, Elona, ini ada hadiah dari paman Haikal teman ibu." Aruna memberikan sesuatu tersebut pada Elona.

__ADS_1


Elona menerimanya, dan begitu di lihat isinya ternyata pensil warna yang selama ini ia inginkan. Tapi ia tidak berani meminta.


"Waw, bagus sekali ibu. Dari mana paman Haikal tahu jika aku menginginkan pensil warna ini?"


"Memangnya Elona menginginkan pensil warna seperti ini? Kenapa tidak bilang pada ibu?"


"Elona tidak berani minta, bu. Sebab pensil warna Elona masih ada," jawab bocah itu.


"Ya ampun, Elona. Lain kali jika ada yang kau inginkan, bilang pada ibu. Ok!?"


"Tapi, bu-"


"Jika ibu sanggup belikan, maka ibu akan belikan. Tapi jika tidak, akan tetap ibu usahakan. Yang terpenting Elona harus jujur dengan keinginan Elona."


Elona pun mengangguk. "Baik, ibu."


"Jadi gimana, Elona suka?"


"Tentu, ibu. Sampaikan rasa terima kasih Elona pada paman Haikal."


"Pasti, sayang."


Aruna membawa putrinya ke dalam pelukan, mendekap nya dengan erat. Tiba-tiba Elona melepaskan pelukannya.


"Ah ya, bu. Apa ini cara paman Haikal mengambil hati ibu?"


Pertanyaan Elona sontak menciptakan tawa Aruna.


"Elona, sayang. Kau masih kecil, nak. Kenapa pikiranmu bisa sejauh ini, sayang."


Aruna mengacak pangkal rambut Elona dengan gemas. Sementara Elona hanya tersenyum dengan memamerkan sederet gigi kecilnya yang tersusun rapi.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2