
Tiga hari sebelumnya Aruna kerja bagian shift siang. Jadi ia pulang malam. Dan hari ini ia kerja bagian pagi. Rencananya nanti sore ia akan mengajak Elona untuk pergi ke rumah Haikal. Sebab bocah itu tak kunjung berhenti menanyakan kapan dia bisa bertemu dengan pria itu. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan seseorang yang telah menyelamatkannya dari bahaya yang nyaris menghilang kan nyawanya.
Dan sore pun tiba. Aruna sengaja tidak memberi kabar Haikal bahwa ia akan pergi ke sana. Begitupula dengan putrinya yang tidak tahu ibunya hendak membawanya untuk pergi kemana.
"Ibu, sebenarnya kita akan pergi kemana?" Ini adalah pertanyaan yang kesekian kali keluar dari mulut bocah itu. Dan Aruna selalu memberikan jawaban yang sama.
"Nanti Elona tahu sendiri."
Lagi-lagi Elona di buat cemberut dan kini dirinya di selimuti oleh rasa penasaran. Hingga sepuluh menit berikutnya mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan pagar rumah seseorang.
Begitu mereka turun dari mobil tersebut, Elona mengedarkan pandangannya menatap takjub rumah besar tersebut.
"Ini rumah siapa, ibu?" tanya bocah itu tanpa melepaskan pandangannya.
"Nanti Elona akan tahu sendiri."
Aruna masuk ke dalam pintu pagar yang kebetulan sedikit terbuka. Elona masih tidak melepaskan pandangannya dari rumah yang saat ini ada di hadapannya.
Begitu sudah sampai di depan pintu rumah, Aruna mengetuk pintunya. Pemilik rumah pernah memberi tahu jika sore hari ada asisten rumah tangga.
Tok tok tok ..
"Permisi ..."
Aruna mengetuk pintunya sekali lagi dan tidak lama kemudian pintu di buka dan muncul sosok wanita paruh baya di baliknya.
Aruna melirik ke arah putrinya yang masih fokus mengedarkan pandangan.
"Haikal nya ada?" tanya Aruna lirih agar Elona tidak sampai mendengarnya.
"Ada, silahkan masuk." Wanita paruh baya itu mempersilahkan Aruna untuk masuk menggunakan gerakan tangannya
"Terima kasih," ucap Aruna. "Ayo, sayang."
Aruna menuntun putrinya untuk masuk ke dalam rumah tersebut, wanita paruh baya tadi juga mempersilahkan untuk duduk di sofa ruang tamu. Aruna tidak lupa kembali mengucapkan terimakasih.
__ADS_1
"Saya panggilkan dulu tuan rumahnya," ujar wanita itu.
"Iya."
"Mau di buatkan minum apa? Dingin atau hangat?" tawar wanita paruh baya itu kemudian.
"Apa saja," jawab Aruna.
"Baik, tunggu sebentar."
Wanita paruh baya itupun melipir pergi.
"Ibu, ini rumah siapa? Kenapa ibu tidak mau menjawab pertanyaan ku juga?"
"Sebentar lagi Elona akan tahu sendiri."
"Apakah ibu tidak bisa beri tahu sekarang?"
"Sabar ya, sayang." Aruna mengusap pangkal rambut Elona lembut agar bocah itu bisa sedikit lebih sabar.
"Paman Haikal," ujarnya lirih.
Pria itupun surprise melihatnya.
"Elona?"
"Pamaaaannn ..." Elona berlari kecil dan menghampiri pria itu.
Haikal merentangkan kedua tangannya dan Elona menghambur ke dalam pelukannya.
"Hati-hati, sayang," ucap Aruna melihat kondisi Haikal yang masih belum stabil.
Elona memeluk Haikal begitu erat dan tidak sengaja mengenai bagian kakinya yang sakit. Haikal berusaha menahan sakitnya dengan menggigit bibirnya sendiri.
"Paman aku rindu sama paman," ungkap bocah itu di dalam pelukan.
__ADS_1
"Paman juga rindu, cantik." balas Haikal dengan nada bicara menahan sakit.
Mereka berpelukan untuk beberapa saat, sebelum kemudian mereka melepaskan pelukannya.
"Paman apa kabar? Apa kaki paman masih sakit?" tanya Elona kemudian.
"Paman baik. Elona tenang saja, sebentar lagi paman sembuh. Elona sendiri apa kabar?"
"Aku baik, paman. Aku lebih baik setelah bertemu dengan paman," jawab bocah itu.
Jawaban Elona terdengar begitu menyejukan.
"Paman tahu, aku menahan rindu berhari-hari untuk paman?"
"Benarkah?"
"Iya, aku ingin bertemu dengan paman memastikan jika paman baik-baik saja."
Haikal mengusap pipi gemoy Elona lembut. Dan menatap wajah bocah itu cukup lekat.
"Terima kasih sudah perduli dengan paman. Terima kasih sudah merindukan paman," ucapnya kemudian.
"Sama-sama, paman. Aku juga akan berterima kasih pada ibu karena ibu sudah membawaku ke sini dan mempertemukan kita." Elona menoleh ke arah ibunya yang berdiri lima meter jauh darinya. "Terima kasih ya, ibu."
Aruna mengangguk dengan seulas senyum. "Sama-sama, sayang."
Aruna ikut senang melihat putrinya tampak bahagia seperti sekarang.
"Terima kasih juga karena kau sudah datang ke sini dan membawa putrimu, Aruna," ucap Haikal di angguki oleh Aruna.
"Iya, sama-sama."
Haikal menatap wajah Aruna untuk beberapa saat, sebelum kemudian beralih lagi pada bocah yang berdiri di hadapannya.
_Bersambung_
__ADS_1