
Pagi ini Aruna mendapat telepon dari Nabila, teman satu kerjanya itu meminta untuk bertukar jatah cuti dengan Aruna. Seharusnya besok jatah libur Aruna dan hari ini masih tetap bekerja, tapi lantaran Nabila meminta bertukar jatah libur, maka hari ini Aruna libur, besok kembali bekerja.
"Iya, Nabila. Tidak masalah jika kau memiliki kepentingan besok. Sudah dulu, ya. Aku harus mengantar putriku ke sekolah."
"Baik, Aruna. Terima kasih."
"Sama-sama."
Sambungan telepon pun berakhir. Aruna merapikan pakaian seragam Elona sebelum akhirnya keluar rumah lantaran taksi online yang ia pesan sudah hampir datang.
Sebuah klakson mobil terdengar dan berhenti tepat di depan pagar rumah Aruna.
Aruna pikir mobil itu taksi online nya yang ia pesan, tapi begitu kaca pintu mobil terbuka, muncul wajah Haikal di baliknya.
"Selamat pagi, Aruna ..." sapa pria itu dengan ulasan senyum yang menyerta.
"Pagi," balas Aruna ramah. "Haikal, wajahmu kenapa?"
Haikal lekas turun dari mobilnya, pandangan jatuh pada bocah kecil yang berdiri di samping Aruna.
"Tidak apa-apa, hanya luka kecil saja. Ah ya, ini putrimu?" tanya Haikal dan mendapat anggukan dari Aruna.
"Iya, ini Elona, putriku."
"Hai, cantik," sapa Haikal.
"Hai, paman," sahut Elona dengan ceria.
Baru pertama kali bertemu dengan Elona membuat Haikal jatuh hati dengan bocah itu. Bocah yang sangat lucu, cantik dan tentunya menggemaskan.
__ADS_1
"Elona mau pergi ke sekolah, ya?"
"Iya, paman."
"Ya sudah, kalau begitu ayo berangkat! Paman antar, ya!? Ini sudah hampir jam tujuh, nanti Elona bisa terlambat. Mau?"
Elona mendongak melihat ibunya.
"Maaf, Haikal. Terima kasih atas tawarannya. Tapi aku sudah pesan taksi online, dan sebentar lagi akan datang," tolak Aruna sopan.
"Cancel saja, kau dan Elona ikut aku saja. Bagaimana?"
"Tidak usah, Haikal. Kau kan harus pergi ke kantor. Jadi kau yang akan terlambat jika harus mengantar kami."
"Its okay, tidak apa-apa. Aku tidak masalah. Taksi online nya cancel saja, ya."
Haikal sedikit memaksa dan membukakan pintu mobilnya untuk Aruna dan Elona.
Aruna masih diam, ia tidak enak jika harus cancel taksi online nya. Sedetik kemudian ia mendapat pesan dari nomer telepon asing.
Pesan tersebut berisi permintaan cancel dari driver lantaran mobil yang sedang berjalan menuju alamat Aruna mengalami kendala. Jadi tidak bisa datang.
Aruna melirik Haikal usai membaca pesan tersebut.
"Ada apa? Apa ada masalah?" tanya Haikal.
Aruna mengangguk. "Iya, driver taksi online yang seharusnya ke sini sedang mengalami kendala."
"Ya sudah kalau begitu ayo aku antara saja. Ayo, Elona."
__ADS_1
Elona kembali mendongakan wajahnya melihat ibunya. "Boleh, bu?"
Aruna pun mengangguk.
"Ayo, paman," jawab bocah itu kemudian.
"Ayo, cantik."
Elona masuk ke dalam mobil bagian jok belakang. Sementara Aruna duduk di bagian jok depan samping kemudi.
Di perjalanan, Haikal mengajak Aruna untuk berbincang-bincang. Supaya keheningan tidak menyelinap di antara mereka.
"Ah ya, kau berangkat kerja jam berapa, Aruna?"
"Hari ini aku cuti. Seharusnya masuk kerja, tapi temanku meminta tukar jatah libur."
"Oh begitu. Ah ya, aku baru tahu kau sudah memiliki putri sebesar ini. Putrimu cantik, sama seperti ibunya," puji Haikal.
Aruna mengulas senyum kecil. "Terima kasih," ucapnya kemudian.
"Sekolah Elona dimana? Aku belum tahu jalan nya."
"Ah iya aku lupa mengarahkanmu. Nanti di depan ada pertigaan, ambil jalan kiri. Sekolah Elona tidak jauh dari sana."
"Ok."
Haikal mengikuti jalan yang di arahkan Aruna. Sementara Elona memilih untuk diam, memperhatikan ibunya dan paman yang baru saja ia kenal secara bergantian.
"Bibi Ziva teman ibu, lalu bibi Ziva ambil ayah. Paman ini teman ibu juga, apa paman ini akan ambil juga?" pikir bocah itu.
__ADS_1
_Bersambung_