
Pagi ini kantor Abian terasa berbeda seperti pagi sebelumnya. Biasanya para karyawan nya sudah stay di kubikel masing-masing. Dan beberapa karyawan lain yang berpapasan dengan nya selalu memberi senyum ramah. Tapi kali ini mereka sudah tidak ada lagi setelah dirinya memutuskan karyawan nya angkat kaki dari kantor ini.
Abian masuk ke ruangan nya yang tampak berantakan. Beberapa berkas berceceran di lantai. Perusahaannya benar-benar hancur dalam waktu sekejap. Tiba-tiba saja ia teringat akan seseorang.
"Aku butuh Elona, putriku. Aku rasa hanya Elona lah yang bisa membuat aku tenang."
Meski Elona sudah jelas-jalas mengungkapkan perasaan benci terhadapnya, tapi Abian tidak akan menyerah begitu saja. Bagaimanapun Elona ini putrinya, dan ia ayahnya.
"Aku harus bertemu dengan Elona di jam istirahatnya. Aku harus ke sekolah nya sekarang."
Abian melangkah pergi dari ruangan nya, masuk ke dalam lift yang membawanya turun dari lantai teratas gedung tersebut. Begitu pintu lift terbuka, ia mendapati sosok seorang pria tengah berdiri menunggu.
"Selamat pagi, apa benar anda yang bernama Abian?" tanya seseorang itu.
Abian melangkah keluar dari lift tersebut. Ia mengangguk membenarkan.
"Iya, saya Abian. Ada apa?"
Pria itu memberikan sebuah amplop putih panjang padanya.
__ADS_1
"Apa ini?" tanya Abian sambil menerima amplop putih panjang tersebut.
"Baca saja," jawab pria ituitu lalu pergi.
Abian melihat tulisan di amplop tersebut. Tertulis jelas di sana bahwa itu dari pengadilan agama. Kedua matanya membulat seketika. Wajahnya sedikit tegang.
Abian lekas membuka amplop tersebut. Ia mengambil selembar surat yang di lipat, ia membuka lipatan kertas tersebut. Kemudian membaca isi suratnya.
Dugaan nya tidak salah lagi. Surat itu berisi gugatan cerai yang di ajukan oleh Aruna.
"Ternyata Aruna tidak main-main dengan ucapan nya."
Abian pikir apa yang di katakan Aruna beberapa hari lalu hanya sebuah ancaman untuk memberi rasa efek jera. Tapi Aruna menggugat cerai dirinya sungguhan.
Abian menghembuskan napas. Pagi ini ia kehilangan semuanya. Termasuk kesempatan untuk kembali bersama dengan Aruna.
"Jika ini yang Aruna inginkan, maka aku harus siap melepasnya. Tapi aku akan tetap memperjuangkan maaf darinya."
Kenangan manis yang ia bangun bersama selama lima tahun ini tidak mudah untuk dilupakan. Bahkan Abian berpikir apakah ia sanggup membangun kebahagiaan lagi dengan wanita selain Aruna?
__ADS_1
Abian harus bisa terima apapun keputusan Aruna. Yang terpenting ia harus ke sekolah Elona sekarang.
***
"Elona ... Ayo kita main prosotan!" ajak Cheryl memanggil pemilik nama bocah yang masih duduk di bangku kelasnya.
"Kau duluan saja, Cheryl. Aku masih ingin di sini," sahut Elona.
"Ya sudah, aku duluan, ya."
"Iya."
Cheryl pun berlalu dari ambang pintu, sementara Elona lebih memilih diam di kelas sambil mewarnai gambar menggunakan pensil warna hadiah dari teman ibunya.
"Halo, sayang .."
Sapaan seseorang membuat Elona mengalihkan perhatiannya dari gambar yang sedang ia warnai. Begitu mendongak, sosok orang yang saat ini ia benci berdiri di hadapan nya dengan senyum yang mengembang dengan sempurna.
"Aku sudah katakan sebelumnya, aku tidak ingin melihat wajah ayah lagi. Kenapa ayah masih muncul di hadapanku?"
__ADS_1
Sebuah kalimat yang sangat menyakitkan. Tapi Abian berusaha untuk menunjukan kasih sayang nya yang lebih besar dari pada rasa sakitnya.
_Bersambung_