
"Senang bisa bertemu dengan Elona."
Elona merespon dengan anggukan saja.
Kemudian muncul Aruna dari belakang tubuh Haikal, Gavin segera menegakkan tubuhnya kembali.
"Jadi ini putrimu, Aruna?" tanya Gavin kemudian dan mendapat anggukan dari wanita itu.
"Iya," jawab Aruna.
"Pantas saja Abian begitu takut kehilangannya, ternyata putrinya semanis ini," ucap Gavin tanpa sadar.
"Paman mengenal ayahku?" tanya Elona seketika menyadarkan Gavin.
Pria itu menatap wajah Haikal dan Aruna secara bergantian. Jujur, ia tidak sengaja menyebutkan nama Abian di depan mereka.
Bukan hanya Elona, Aruna pun bertanya-tanya kenapa Gavin bisa berkata demikian. Apakah mereka saling mengenal? Terdengar nya dari kalimatnya seperti dua orang yang saling kenal dekat.
Melihat situasi tersebut, Haikal mengajak Elona untuk bermain di taman belakang. Sepertinya di antara mereka butuh bicara.
__ADS_1
"Elona, kita main sekarang ke taman belakang rumah paman ya, sayang," ajak pria itu dan di angguki oleh Elona.
"Iya, paman. Ibu, ayo," ajak Elona pada ibunya.
"Kita duluan saja, ibu mungkin mau ke toilet dulu," ujar pria itu.
Elone menoleh ke arah ibunya dan wanita itu mengangguk membenarkan. Ia pun ikut bersama paman Haikal nya ke taman bagian belakang rumah tersebut.
Setelah Haikal dan Elona pergi, kini hanya ada Gavin dan Aruna di sana.
"Kau pasti juga bertanya-tanya kenapa aku bisa mengenal Abian kan?"
Gavin mengangguk. "Iya, hubungan kami bukan cuma atasan dan bawahan saja. Tapi di luar itu kami teman."
Aruna mengernyit. "Jadi dia sekarang bekerja di perusahaan mu?"
"Iya. Aku mengutus seseorang untuk memberi lowongan pekerjaan padanya."
"Maksudmu? Kau tahu jika perusahaannya mengalami kebangkrutan?"
__ADS_1
Gavin menggeleng. "Aku bertemu dengannya secara tidak sengaja. Waktu itu aku sedang bersama sepupuku yang lain dalam perjalanan pulang dari klinik. Aku melihat mobilnya mengalami kendala dan aku mencoba untuk menolongnya. Dia butuh pekerjaan, tapi aku tidak tahu jika dia mengalami kebangkrutan. Maka dari itu aku berinisiatif untuk membantunya, karena kebetulan juga di kantor ku sedang membutuhkan seorang karyawan," jelas Gavin.
"Kenapa melalui orang lain? Kenapa tidak kau sendiri kau memberi dia pekerjaan? Maksud ku kenapa harus sampai mengutus orang lain?" Aruna sedikit tidak paham.
"Jika aku yang menawarkan langsung pekerjaan nya pada dia, takutnya dia menolak karena segan sebab aku sudah menolong dia sebelumnya."
Aruna diam sejenak. Ia pun merasakan hal yang sama seperti yang di rasakan oleh Gavin, yaitu dunia ini terasa begitu sempit.
"Dia banyak cerita padaku tentang keluarga kecilnya, maka dari itu aku bisa mengatakan hal tadi tanpa aku sadari," ujar Gavin lagi.
"Cerita? Cerita apa?" tanya Aruna penasaran.
"Dia sangat menyesali perbuatannya. Jika ada kesempatan kedua untuk dia bisa kembali pada keluarga kecilnya, maka dia tidak akan pernah lagi menyia-nyiakan kesempatan itu," terang Gavin.
"Setiap hari dia menyesali perbuatannya. Bahkan jika ada sesuatu yang bisa membuatnya kembali pada keluarga kecilnya, ia akan melakukannya meski nyawa yang jadi taruhan. Dia benar-benar menyesali perbuatannya, Aruna. Bahkan saat ini dia sedang berusaha untuk mewujudkan impian yang sebelumnya pernah kalian rencanakan. Dia juga sedang berusaha untuk ikhlas jika pada akhirnya dia tidak lagi bisa bersama keluarga kecilnya," imbuh Gavin panjang lebar.
Aruna diam mendengarkan cerita Gavin.
_Bersambung_
__ADS_1