GAIRAH TEMAN ISTRIKU

GAIRAH TEMAN ISTRIKU
Berdamai dengan Luka


__ADS_3

"Aku mencoba untuk berdamai dengan lukaku sendiri, Aruna. Banyak yang sudah tahu dan kau mungkin salah satunya jika suamiku dulu meninggalkan aku di saat Cheryl masih bayi. Aku begitu benci dengan mantan suamiku itu dan merasa jika hidup ini tidaklah adil. Tapi seiring berjalan nya waktu, aku bisa menerima takdir yang terjadi pada hidupku dengan hati yang ikhlas. Bahkan di saat mantan suamiku sudah sadar dan mengingat putrinya, aku tidak lagi melarang dia untuk bertemu dengan Cheryl. Aku biarkan mereka bertemu asal dengan batasan yang aku berikan," terang Kanaya.


Aruna mengangguk paham, ternyata memang banyak di luaran sana yang mengalami seperti apa yang ia alami sekarang. Termasuk Kanaya.


"Iya, Kanaya. Semoga aku bisa seperti dirimu. Meski saat ini hati aku masih sangat berat untuk berdamai dengan luka. Tapi aku akan mencobanya."


"Tidak apa-apa, Aruna. Pelan-pelan saja. Sebab tidak semua orang memiliki rasa kuat yang sama. Kuatku belum tentu sekuat kamu dan kuatmu belum tentu sekuat aku. Kita memiliki porsi kuat nya masing-masing," tutur Kanaya bijak.


"Iya, Kanaya. Terima kasih untuk semuanya. Aku benar-benar salut denganmu."


"Iya. Sama-sama, Aruna. Ah ya, kau ada rencana pindah kerja dari tempat ini?"


Aruna menggeleng. "Tidak ada. Jika aku pindah atau resign dari sini, aku harus kerja dimana? Sedangkan aku saat ini memiliki tanggungan hidup yang besar."


"Aku kerja join bisnis dengan pengusaha luar negri, Aruna. Dan jika kau mau, kau bisa ikut join juga. Bagaimana?"


"Aku tidak memiliki cukup uang untuk modal, Kanaya."


"Tidak apa-apa. Biar kubantu jika kau mau."


"Terima kasih atas tawarannya, Kanaya. Tapi sepertinya aku kerja di sini saja. Maaf, ya."


"Iya, tidak apa-apa. Lagipula aku tidak akan memaksamu. Tapi jika kau berubah pikiran, kau langsung saja bicara padaku."


"Iya, Kanaya. Sekali lagi terima kasih."


"Iya, sama-sama."


Kanaya melirik jam tangan mungil nan mewah yang melingkar di pergelangan tangan nya. Sepertinya ia harus segera pulang dan kasihan juga sama Aruna, dia pasti ingin beristirahat.


"Cheryl, Elona, menonton HP nya sudah dulu, ya. Kita pulang sekarang," ajak Kanaya.


Kedua bocah itu mendongak.


"Iya, ibu."

__ADS_1


"Iya, bibi." jawab mereka hampir bersamaan.


Kanaya pun memanggil pelayan di sana untuk membayar total tagihan keseluruhan. Ia membayarnya dengan kartu debit. Setelah itu mereka pergi dari sana.


Di depan resto.


"Kanaya, sepertinya aku dan Elona tidak bisa ikut pulang denganmu," ujar Aruna.


"Kenapa? Mau naik taksi online? Ayo pulang sama aku saja."


"Tidak, Kanaya. Terima kasih. Tapi aku masih ada urusan lain. Maaf, ya."


"Ohh ... Ya sudah kalau begitu aku duluan, ya," pamit Kanaya.


"Iya, Kanaya, hati-hati."


"Iya."


Kanaya pergi duluan untuk mengambil mobilnya di parkiran. Setelah memastikan mobil Kanaya pergi dari sana, barulah Aruna berniat menghampiri Haikal.


"Kita harus ke paman Haikal dulu, sayang."


"Memangnya paman Haikal ada di sini?"


"Iya, ayo ikut ibu."


Aruna menuntun tangan Elona mengajak bocah itu menuju parkiran. Seorang pria tengah berdiri di samping body mobilnya.


"Hai, maaf ya lama," sapa dan ucap Aruna.


Pria itupun menoleh. "Hei. Tidak masalah. Aku akan tetap menunggu kalian di sini."


Aruna tersenyum kecil.


"Jadi paman Haikal menunggu kami? Kenapa tidak ikut bergabung bersama kami tadi?" tanya Elona menatap Haikal dan ibunya secara bergantian.

__ADS_1


Haikal membungkukan badannya, mensejajarkan diri dengan Elona.


"Paman Haikal tidak enak, sayang. Paman Haikal pasti akan mengganggu acara makan Elona dengan ..." Haikal menggantung kalimatnya, lantaran tidak tahu siapa orang yang makan bersama mereka.


"Bibi Kanaya, paman. Itu ibu Cheryl, teman sekolah sekaligus tetangga dekat rumah," jawab bocah itu dengan polos.


"Benarkah?"


"Iya. Jika tidak percaya, tanyakan saja pada ibu."


Haikal menatap Aruna dan wanita itu mengangguk membenarkan.


"Aku pikir dia saudara dari suami Aruna?" batin Haikal.


"Ya sudah kalau begitu Elona dan ibu pulang dengan paman, ya!?" tawar pria itu dan di angguki oleh Elona.


"Iya, paman. Ah ya, aku lupa mengucapkan terimakasih pada paman untuk pensil warna nya. Aku suka sekali."


"Sama-sama. Paman senang jika Elona suka."


"Iya, paman."


"Sekarang pulang, ya. Paman antar."


"Iya, paman."


Haikal mengacak rambut Elona dengan gemas, lalu menegakan badannya kembali.


"Aku antar, ya," ucap Haikal pada Aruna.


Aruna mengangguk. "Iya."


Haikal mengulas senyum kecil sebelum akhirnya membukakan pintu untuk mereka.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2