GAIRAH TEMAN ISTRIKU

GAIRAH TEMAN ISTRIKU
Dilarang Menolak Rezeki


__ADS_3

Haikal meraih tas yang menggantung di atas, lalu ia berikan pada Elona untuk mencobanya.


"Wow, yang ini pas di tubuhmu. Elona tidak seperti kura-kura lagi."


"Benarkah, paman?"


"Iya, kau sangat cantik memakai tas ini. Jika tidak percaya, nanti tanyakan saja pada ibu."


"Iya, nanti setelah ibu kembali, aku akan tanyakan padanya."


Elona melepaskan tas tersebut dari tubuhnya, kemudian ia peluk tas itu dalam dekapannya.


Haikal senang melihat Elona senang. Ia merasa semakin sayang terhadap bocah kecil itu.


"Ah ya, bagaimana hatimu di sekolah tadi?" tanya Haikal kemudian.


"Menyenangkan. Tapi sedikit sedih juga, paman," terang Elona, ekspresi wajah bocah itupun sedikit berubah.


"Sedih kenapa? Apa ada yang menyakiti Elona?"


Elona menggeleng. "Bukan, paman. Lusa, ada kegiatan lagi di sekolah. Ayah dan ibuku di minta untuk datang ke sekolah. Tapi bagaimana ayah dan ibu bisa hadir, sementara ayah dan ibu sudah tidak lagi bersama."


Haikal ikut sedih mendengarnya. Bagaimana bocah di seusia Elona dapat mengekspresikan perasaannya tentang apa yang terjadi pada kedua orang tuanya.


Haikal mengusap puncak kepala Elona dengan lembut.


"Elona jangan sedih, ya. Bagaimana kalau paman yang datang untuk menggantikan ayah Elona? Nanti paman dan ibumu datang bersama untuk menghadiri acara di sekolah Elona."


"Memangnya paman mau?"

__ADS_1


"Tentu saja mau. Itupun kalau Elona mengizinkan paman."


"Aku tidak masalah, paman. Hanya saja, apa ibu tidak keberatan?"


"Mmm ... Coba nanti Elona bicarakan dengan ibu. Tapi di nanti jika sudah di rumah. Kalau ibu tidak mengizinkan, Elona tidak usah memaksa, ya. Nanti ibu pikir, paman yang memaksa Elona."


Elona mengangguk. "Iya, paman. Nanti aku coba bicarakan pada ibu."


"Iya, cantik." Haikal mengacak puncak kepala Elona dengan gemas, andai ia bisa menjadi bagian dari mereka.


Tidak berapa lama, Aruna kembali.


"Sudah dapat tasnya?" tanya wanita itu seraya berjalan menghampiri.


Elona memamerkan tas dalam dekapannya.


"Sudah, ibu. Bagus bukan? Paman Haikal yang memilihkannya."


"Bagus. Elona suka? Sudah di coba?"


"Suka sekali, ibu. Aku sudah mencobanya dan aku tidak lagi mirip kura-kura. Paman Haikal pandai sekali memilihkannya. Terima kasih ya, paman," ucap bocah itu kemudian.


"Sama-sama, cantik."


"Ya sudah, kalau begitu ibu bayar dulu tas nya, ya. Setelah itu kita pulang. Satu jam lagi ibu harus segera berangkat kerja."


Aruna hendak beranjak dari sana, tapi segera di cegah oleh Haikal.


"Biar aku saja yang membayarnya, Aruna."

__ADS_1


"Hm? Tidak, tidak. Tidak usah. Biar aku saja," tolak Aruna sopan.


"Tidak apa-apa, biar aku saja yang bayar. Anggap saja ini hadiah kedua untuk Elona."


"Tidak usah, Haikal. Aku yang akan membayarnya."


"Elona, paman pinjam tas nya sebentar untuk melakukan pembayaran ya."


"Iya, paman." Elona memberikan tas tersebut.


"Elona, berikan pada ibu saja. Jangan merepotkan paman Haikal, sayang."


"Sudah, aku saja yang bayar, ya."


"Tapi, Haikal-"


Pria itu sudah beranjak dari sana. Aruna semakin merasa segan dengan pria itu. Lagi-lagi ia di buat bingung dengan kebaikan yang Haikal berikan untuknya dan Elona.


"Ibu, paman Haikal baik sekali, ya," puji Elona.


Aruna mengangguk. "Iya, sayang. Tapi kita tidak enak jika terus merepotkan paman Haikal. Lain kali, Elona harus bisa menolaknya juga, ya."


"Tapi, ibu. Bukankah ibu yang bilang jika menolak pemberian orang itu tidak boleh? Namanya menolak rezeki. Kecuali jika orang itu jahat. Paman Haikal kan baik. Mana mungkin paman Haikal berani macam-macam pada kita. Iya kan, bu?"


Aruna tidak dapat berkata-kata lagi. Ia hanya bisa mengangguk dan mengiyakan saja.


_Bersambung_


NOTE:

__ADS_1


Jangan lupa mampir di karya baruku yang berjudul JANGAN PAKSA KITA MENIKAH!


Dan jangan lupa untuk tambahkan ke rak favoritšŸ„°šŸ¤—


__ADS_2