GAIRAH TEMAN ISTRIKU

GAIRAH TEMAN ISTRIKU
Kabar Baik


__ADS_3

Hari yang di tunggu-tunggu telah tiba. Elona sangat senang begitu ibunya mendapat kabar jika hari ini paman Haikal nya sudah bisa beraktivitas seperti sedia kala. Hanya saja, belum sepenuhnya seperti dulu.


"Ibu, tolong telepon paman Haikal. Aku ingin bicara dengannya," pinta Elona penuh harap.


"Iya, sayang."


Aruna hendak melakukan panggilan telepon pada pria tersebut, namun pria itu sudah lebih dulu meneleponnya dengan panggilan via video call.


"Paman Haikal video call, sayang." Aruna memperlihatkan layar ponselnya pada Elona, bocah itu meminta ibunya untuk segera menjawab telepon tersebut sebelum terlambat.


Aruna pun menggeser ikon berwarna biru sebagai tanda ia menjawab panggilannya. Muncul wajah Haikal dari balik layar.


"Pamaaaann ..." panggil Elona girang dengan raut wajah bahagia.


"Hai, cantik. Sedang apa?"


"Akun sedang duduk, paman," jawab Elona.


"Kenapa Elona yang jawab?" tanya Haikal menciptakan kerutan dalam di kening Elona.


"Lalu siapa yang harus jawab?" Elona balik bertanya.


"Pertanyaan paman untuk ibumu."


Aruna mengambil ponselnya dan memperlihatkan wajahnya pada layar ponsel.


"Hai, cantik. Sedang apa?" ulang pria itu.


Aruna segera memelototi pria itu. Haikal mengulas senyum dari balik layar.


"Mana putriku? Aku ingin bicara lagi dengannya."


"Putrimu? Elona?"

__ADS_1


"Iya, Elona putri kita."


Aruna kembali memelototi pria itu sebelum kemudian memberikan ponselnya pada Elona.


"Aku pikir paman menanyakan aku. Ternyata ibu," ujar bocah itu.


"Itu pertanyaan untuk Elona dan juga ibu. Kalian berdua kan sama-sama cantik. Benar kan?"


"Iya, karena kami perempuan."


Haikal tertawa mendengar jawaban bocah itu.


"Kalau begitu paman Haikal tampan dong ya?"


"Aku tidak tahu, tanyakan saja pada ibu." Elona melirik ke arah ibunya dan wanita itu menggeleng.


"Coba tanyakan pada ibu. Paman Haikal tampan tidak?"


"Ibu baru saja menggelengkan kepala. Itu artinya tidak ya paman."


Elona kembali melirik ibunya. "Memangnya ibu bohong, bu?"


"Sini, ibu pinjam sebentar." Aruna meminta ponselnya dan Elona pun memberikannya.


"Aku tidak bohong, kau saja yang terlalu percaya diri."


"Hahaha ... Benarkah?"


"Iya."


Haikal menahan tawa melihat ekspresi wajah Aruna yang tampak kesal.


"Ah ya, jadi kapan aku bisa bermain dengan Elona?" tanya Haikal mengalihkan topik pembicaraan.

__ADS_1


"Kapan kau bisa nya?" Aruna bertanya balik.


"Sekarang aku bisa. Tapi aku tidak bisa ke rumahmu. Aku belum bisa menyetir."


"Ya sudah, kalau begitu setengah jam lagi aku dan Elona ke sana."


"Kita ke paman Haikal sekarang, bu?" tanya Elona begitu mendengar pembicaraan antara ibu dan paman Haikal nya.


Aruna mengangguk membenarkan. "Iya, sayang."


"Yeay ... Asyiikkk ..." Sorak Elona girang.


"Kalau begitu aku tutup panggilan nya, ya. Aku mau siap-siap dulu."


"Iya, aku tunggu, ya. Hati-hati di jalan."


"Iya."


Panggilan pun berakhir. Elona menarik tangan ibunya untuk segera ber siap-siap.


"Ayo, ibu. Aku ingin cepat-cepat bermain dengan paman Haikal."


"Iya, nak. Kita siap-siap dulu, ya."


"Iya, ayo, bu."


Elona menarik tangan ibunya dan membawanya ke kamar untuk ganti baju.


"Nanti kita beli balon dulu dekat taman, ya, bu. Aku kan sudah janji akan beli balon jika sudah bisa main dengan paman Haikal," pinta Elona.


"Iya, sayang. Nanti kita minta driver taksi online untuk berhenti sebentar."


Elona merasa sangat senang, ia sudah tidak sabar untuk segera bertemu dan main bersama paman Haikal nya.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2