
Malam nya Aruna memutuskan untuk tidur di kamar Elona bersama putrinya.
"Ibu, sejak tadi aku tidak melihat bibi Ziva lagi. Apa bibi Ziva pergi?" pertanyaan Elona menciptakan rasa perih di hati Aruna, namun ia harus tetap tenang.
"Dia sudah tidak tinggal lagi di sini bersama kita, sayang."
"Apa ibu benar-benar bertengkar dengan bibi Ziva?"
"Shhttt .. Jangan bahas dia lagi, ya."
"Tapi, ibu-"
"Tidur, ya. Besok Elona sudah harus sekolah kembali. Jadi harus bangun pagi-pagi, ya."
"Baik, bu."
"Sini, ibu peluk."
Aruna membuka tangan nya kemudian Elona pun masuk ke dalam dekapan ibunya.
Aruna membelai rambut Elona pelan. Ia tidak tahu harus memberi jawaban apa pada Elona, jika sampai dia menanyakan keberadaan ayahnya. Rupa nya Aruna harus menyusun alasan dari sekarang.
Aruna ikut memejamkan mata, alam bawah sadar sudah menarik nya pada alam mimpi.
Ponsel yang tergeletak di atas nakas samping tempat tidur putrinya sedari tadi menyala, mengeluarkan nama 'suamiku' di layar.
Di tempat lain, seseorang tengah mengeluh. Sepertinya dia akan tidur di dalam mobil sepanjang malam ini.
__ADS_1
"Aruna, aku mohon jawab telepon nya, sayang. Aku mohon, sekali saja."
Abian terus berusaha menghubungi Aruna sampai baterai HP nya lowbat. Namun Aruna tidak juga menjawab telepon nya. Ia putuskan untuk mengirim chat saja. Siapa tahu Aruna membaca pesan nya.
***
Pagi harinya. Aruna sibuk dengan aktivitas yang menjadi rutinitas nya setiap pagi.
Di meja makan, waktunya sarapan. Hanya ada Aruna dan Elona. Bocah itu menengok ke kiri dan ke kanan. Mencari sosok yang biasanya ikut sarapan setiap pagi.
"Ibu, ayah mana? Kenapa ayah tidak ikut sarapan?" tanya Elona dengan polos.
"Ayah sudah pergi ke kantor, Elona. Ada urusan penting," jawab Aruna terpaksa bohong.
"Tapi ayah sudah sarapan kan, bu? Kasihan, ayah. Pasti ayah akan kelaparan."
"Andai kau tahu, nak. Bahkan ayah mu melakukan hal dengan tidak memikirkan bagaimana perasaan kita. Tidak merasa kasihan terhadap kita," batin Aruna.
Aruna menarik napas panjang. Ia tidak boleh kelihatan sedih di depan Elona.
"Ini, sayang. Makan dan habiskan." Aruna memberikan roti yang baru ia olesi dengan selain coklat kacang.
"Baik, ibu."
Elona pun memakan roti nya. Setelah itu ia berangkat ke sekolah di antar ibunya menggunakan taksi online. Tapi sebelum itu, Aruna sempat berpesan pada tetangga nya dengan menitipkan Elona kembali sepulang sekolah nanti. Beruntung nya tetangga nya baik dan mau menjaga Elona.
"Terima kasih banyak, bu."
__ADS_1
"Sama-sama, Aruna," balas tetangga nya.
Aruna segera menghampiri taksi online nya. Kebetulan Elona sudah ada di dalam.
"Ibu, apa aku akan di titipkan lagi dengan ibu Zahrana?" tanya Elona.
Aruna mengangguk berat. "Iya, sayang. Maaf, ya. Elona tidak keberatan kan?"
"Tidak, ibu. Aku tidak apa-apa."
Aruna mengusap pangkal rambut Elona dan memberi sebuah kecupan singkat di sana.
"Anak, pintar. Elona harus ingat, ya. Jangan sampai merepotkan ibu Zahrana!"
"Baik, ibu," jawab Elona patuh.
Mobil yang mereka tumpangi pun tidak berapa lama berhenti tepat di depan sekolah.
"Belajar yang benar ya, sayang."
"Iya, ibu."
Elona mencium punggung tangan ibunya, setelah itu masuk ke gerbang bersama dengan teman nya yang kebetulan baru datang.
Sementara Aruna masuk ke dalam mobil, untuk melanjutkan perjalanan menuju tempat kerjanya. Kebetulan memang searah.
_Bersambung_
__ADS_1