
Siang ini Abian mengajak Gavin untuk makan siang bersama. Lantaran ia ingin menceritakan tentang hal yang dia lalui kemarin bersama putrinya.
"Aku senang sekali bisa menghabiskan waktu berdua bersama putriku kemarin. Dan yang membuat aku bahagia, putriku juga sangat senang pergi denganku. Dia sampai mengungkapkan rasa senangnya pada Aruna," terang Abian.
Gavin ikut senang dengarnya. Meski ia tahu jika sepupunya juga naksir pada mantan istri pria yang saat ini ada di hadapannya. Ia berusaha untuk bersikap netral.
"Syukurlah kalau begitu, aku ikut senang juga dengarnya," sahut Gavin.
"Iya, tapi ada yang membuat aku merasakan sedikit kesal juga," ungkapnya lagi.
"Apa?"
"Elona selalu menyebut nama pria yang sedang dengan Aruna dan dirinya. Dia bahkan mengatakan jika dia rindu padanya padaku. Aku jadi merasa cemburu dan sedikit takut kalau nantinya perhatian Elona terbagi dengan pria itu."
"Benarkah?"
"Iya."
__ADS_1
Gavin hanya menanggapinya dengan anggukan kepala. Ternyata putri Aruna begitu merindukan Haikal. Jika Haikal tahu, Haikal pasti akan senang dengarnya.
"Tapi kau bilang kau sudah berusaha untuk ikhlas. Lalu kenapa kau merasa takut?" tanya Gavin kemudian.
"Aku hanya berusaha untuk mengikhlaskan Aruna. Tapi aku masih belum sanggup merelakan putriku jika suatu hari nanti dia harus bersama ayah barunya. Itu yang buat aku sekarang jadi semakin takut. Apalagi Elona bilang jika pria itu membelikan barang-barang keperluan sekolah untuknya. Sementara ketika aku akan membelikannya, dia menolak dengan alasan dia sudah punya karena di belikan oleh orang itu. Itu yang saat ini aku khawatirkan. Ketika putriku nanti tidak lagi membutuhkan apapun dariku, lalu pada akhirnya dia sampai tidak lagi membutuhkan diriku. Aku takut sekali, Gavin," ungkap Abian.
Mendengar Abian bicara seperti itu ia jadi tidak tega mendengarnya. Ia tahu Abian ini sama halnya seperti Ziva. Mengkhianati pasangan dan menghancurkan rumah tangganya sendiri.
"Kau tenang saja, Abian. Kau tidak perlu mengkhawatirkan soal itu. Haikal itu orangnya baik dan aku yakin dia tidak akan tega memisahkan putrimu dengan dirimu."
Gavin tidak sadar dengan apa yang baru saja ia ucapkan.
Untuk nama, Abian sudah pernah mengatakan sebelumnya jika pria yang sedang mendekati keluarga kecilnya itu namanya Haikal. Tapi yang membuat ia bingung, darimana Gavin bisa menyimpulkan kalau Haikal itu orang baik. Apa Gavin mengenalnya?
Gavin diam untuk beberapa saat. Sebelum kemudian ia memilih untuk berkata jujur saja.
"Pria yang selama ini kau ceritakan padaku sedang mendekati Aruna itu ternyata Haikal sepupu. Dan aku juga baru tahu kemarin."
__ADS_1
Pernyataan Gavin sungguh mengejutkan. Hingga membuat iris mata Abian melebar.
"Tolong jelaskan padaku apa maksudmu? Apa selama ini kau berada di pihak pria itu dan berpura-pura untuk menjadi pendengar ceritaku? Oleh karena itu kau sampai mengutus seseorang untuk memberi lowongan pekerjaan untukku di perusahaanmu?"
"Tidak, Abian. Aku tidak seperti yang saat ini kau pikirkan. Aku juga kaget begitu mengetahuinya sama sepertimu. Dan aku baru tahu kemarin."
"Bisa jelaskan padaku sekarang agar aku tidak salah paham denganmu!?"
"Ya, aku akan menjelaskannya padamu."
"Ok, sekarang tolong jelaskan padaku."
"Baik, jadi begini-"
"Permisi ..." Kedatangan seorang pelayan restoran yang mengantarkan makanan memotong kalimat Gavin.
Terpaksa Gavin harus menunda penjelasannya sementara pelayan itu masih ada di sana. Sedangkan Abian sudah tidak sabar mendengar penjelasan Gavin.
__ADS_1
_Bersambung_