GAIRAH TEMAN ISTRIKU

GAIRAH TEMAN ISTRIKU
Rumah Impian


__ADS_3

Di perjalanan, Elona bertanya-tanya pada ayahnya soal ayah Haikal nya yang tidak bisa menjemputnya.


"Bagaimana ayah bisa menjemputku? Dan dari mana ayah tahu kalau ayah Haikal tidak bisa jemput?" tanya bocah itu.


"Ayah mendapat telepon dari paman Gavin, jika suami ibumu tidak bisa jemput putri ayah yang cantik ini. Ayah tidak tahu apa yang membuat suami ibumu tidak bisa jemput. Coba saja nanti Elona tanyakan langsung padanya."


Elona mengerutkan alisnya. Ia jadi penasaran, apa yang membuat ayah Haikal nya sampai tidak bisa datang menjemput ke sekolah.


"Memangnya ayah tidak di beri tahu?"


"Tidak, ayah hanya di minta untuk jemput Elona. Itu saja."


"Aku jadi khawatir, ayah. Aku takut sesuatu terjadi pada ibu atau ayah Haikal," ucap Elona khawatir, sedari tadi ia memang sudah sangat gelisah.


"Jangan pikirkan apapun, sayang. Elona berdo'a saja, semoga tidak terjadi apapun pada ibu dan suaminya."


"Semoga saja, ayah." ucap Elona penuh harap.


Di antara mereka tidak ada lagi pembicaraan. Membiarkan keheningan menyelinap masuk di antara keduanya. Sampai akhirnya suara notifikasi pesan masuk ke dalam ponsel Abian.


Abian merogoh ponsel di balik saku jas berwarna navy yang saat ini ia kenakan. Terdapat chat dari nomer asing.

__ADS_1


08xx:


Abian, ini aku Haikal. Terima kasih karena kau sudah mau menjemput Elona. Dan aku minta tolong padamu untuk membawa Elona ke rumahmu dulu saja. Sebab kami sedang berada di rumah sakit dan mendapat kabar duka. Aruna keguguran. Tolong jangan beri tahu Elona dulu soal ini, dia pasti akan sedih.


Kedua bola mata Abian membulat sempurna, ia ikut berduka mendengar kabar kurang mengenakan barusan. Sontak Abian menoleh ke arah putrinya.


"Ada apa, ayah?" tanya bocah itu melihat perubahan raut wajah ayahnya.


Abian menggeleng. "Tidak ada apa-apa, sayang."


"Lalu kenapa wajah ayah berubah tegang? Apa terjadi sesuatu?"


"Rumah impian kita yang besar?"


"Iya, sayang. Aku sudah mampu mewujudkannya, hanya saja ayah terlambat. Impian kalian sudah di wujudkan lebih dulu oleh suami baru ibumu."


"Tidak apa-apa, ayah. Yang terpenting ayah tetaplah ayahku," jawab Elona dan mendapat usapan lembut dari ayahnya di bagian rambut.


"Terima kasih ya, sayang."


"Sama-sama, ayah. Ah ya, jadi ini mobil baru ayah, ya?"

__ADS_1


Abian mengangguk. "Iya, ini mobil baru ayah, sayang. Ayah membelinya satu minggu lalu."


"Pantas saja aku tidak mengenalinya. Rupanya ini mobil baru. Selamat ya, ayah."


"Terima kasih, putri ayah yang cantik."


"Sama-sama, ayah. Aku sayang ayah."


"Love you more, sayang."


Abian memberi sebuah kecupan singkat di punggung tangan mungil Elona, dan kembali fokus memandang ke depan mengemudikan mobilnya.


Sepuluh menit berikutnya, mereka sudah sampai di sebuah halaman rumah besar. Elona turun dari mobil dan menatap takjub rumah di depan matanya.


"Ini rumah ayah?" tanya Elona seakan masih tidak percaya.


"Iya, sayang. Ini rumah ayah, rumah Elona juga. Jadi jika Elona mau main atau menginap di sini, ayah akan merasa sangat senang. Ini rumah impian Elona."


Elona sama sekali tidak percaya jika ayahnya mampu membeli rumah sebesar ini. Tapi sayangnya ayahnya sudah tidak lagi bersama dengan ibunya. Tapi tak apa, Elona sama sekali tidak lagi memikirkan hal itu. Sebab ia juga sudah mendapatkan ayah baru yang tak kalah baiknya. Dan ia senang memiliki dua ayah yang sama-sama baik dan sayang padanya.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2