GAIRAH TEMAN ISTRIKU

GAIRAH TEMAN ISTRIKU
Menyatakan Perasaan


__ADS_3

Tiga hari berikutnya, Haikal memutuskan untuk menyetir. Ia merasa sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Dan ia merasa bersyukur sekali, setelah beberapa bulan tidak mengemudikan mobil.


Haikal memutuskan untuk pergi ke rumah Aruna, kebetulan wanita itu sedang libur bekerja. Ia sudah melakukan panggilan telepon sebelumnya.


Sekarang, pria itu sudah berada di ruangan tamu rumah Aruna.


"Yakin kau sudah pulih total?" tanya Aruna memastikan dan pria itu mengangguk.


"Iya, aku pulih, Aruna."


"Syukurlah jika begitu. Aku juga ikut senang dengarnya."


"Terima kasih, ya. Kau merawatku saat ini sampai aku pulih sekarang."


"Iya, sama-sama. Itu juga sudah menjadi kewajiban aku untuk merawatmu."


"Kewajiban sebagai seorang istri?"


"Hm?" Aruna kelihatan salah tingkah. "Bukan. Kewajiban aku karena kau yang menyelamatkan putriku," jawab Aruna kemudian.


"Selalu saja itu alasannya," ujar Haikal lirih.

__ADS_1


"Kau bilang apa?" tanya Aruna tidak begitu jelas apa baru saja Haikal katakan.


Haikal menggeleng. "Tidak, aku tidak berkata apapun."


"Oh ..."


"Ah ya, Elona mana?" tanya Haikal kemudian seraya mencari sosok bocah itu.


"Elona sedang tidur siang. Tadi aku buatkan susu untuknya lalu dia tidur."


"Baguslah kalau Elona sedang tidur."


"Kenapa bagus?" tanya Aruna heran.


"Apa?" Aruna penasaran.


Haikal yang semula duduk di sofa single kini pindah ke sofa panjang di samping Aruna. Wanita itu tampak gugup begitu Haikal tiba-tiba mendekat.


"Kau mau apa?" Aruna hendak menggeser duduknya, namun dengan cepat Haikal menahan dengan cara meraih buah tangannya.


Aruna meneguk salivanya dengan susah. Matanya menatap pada tangan yang di genggam dan menatap wajah pria itu secara bergantian. Wajahnya menegang, jantungnya kembali berpacu di atas normal dan napasnya kini tertahan.

__ADS_1


Haikal menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. Ia tatap kedua manik mata Aruna dalam.


"Aruna, aku tidak ingin menunda waktu lama lagi untuk mengungkapkan perasaan aku terhadapmu. Jujur, aku sangat tertarik menjadi bagian dari dari keluarga kecilmu. Aku ingin hubungan kita tidak seperti yang kamu batasi sebagai seorang teman. Aku ingin hubungan kita lebih dari itu. Aku bersedia menjadi suami sekaligus ayah sambung untuk putrimu," ungkap Haikal.


Aruna menatap manik mata Haikal secara bergantian. Mulutnya serasa di kunci sehingga ia kesulitan untuk bicara. Perasaannya sudah tidak karuan.


"Jika kau tidak keberatan menjadikanku sebagai suami dan ayah sambung untuk putrimu, aku akan sangat bahagia dan bersyukur sekali. Aku akan berterima kasih sekali padamu karena sudah menerima aku menjadi bagian dari keluarga kecilmu. Tapi jika kau tetap kukuh pada pendirianmu, menganggap aku hanya sebatas teman, aku juga tidak akan memaksamu dan kita akan tetap berteman. Selamanya kita akan menjadi teman dan aku akan berusaha mengikis perasaan ini."


Aruna semakin di buat bingung. Di satu sisi ia juga sebenarnya memiliki perasaan lain untuk Haikal, tapi di sisi lain ia masih takut untuk memulai kisah baru.


"Jangan hanya karena satu pria menyakitimu, semua pria kau anggap sama."


Aruna diam, ia bingung harus menjawab apa. Ia masih bingung dengan perasaannya sendiri.


Haikal masih setia menunggu jawaban Aruna, tapi wanita itu diam dan tidak mau bicara. Mungkin selamanya Aruna memang hanya akan menganggapnya sebagai teman.


Haikal melepaskan genggaman tangannya.


"Tidak apa, aku tidak akan memaksamu, Aruna. Aku tidak akan menekan perasaanmu. Kau tenang saja, aku tidak marah. Mungkin aku yang terlalu menaruh harapan besar untukmu. Sampai lupa jika apa yang kita inginkan tidak selamanya bisa dapatkan."


Aruna masih saja diam, bukan karena ia sengaja mendiamkan pria itu. Tapi mulutnya sulit sekali untuk bicara.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2