GAIRAH TEMAN ISTRIKU

GAIRAH TEMAN ISTRIKU
Kabar Kehamilan


__ADS_3

Tidak terasa, pernikahan Haikal dan Aruna sudah memasuki usia yang ke empat bulan lebih empat hari. Kabar baiknya, Aruna di nyatakan sedang hamil setelah periksa kandungan barusan. Sebab semalaman wanita itu mual bahkan muntah-muntah.


"Alhamdulillaah .. Terima kasih Yaa Allah. Engkau telah memberi kepercayaan bagi kami dengan di berinya sang buah hati," ucap Haikal penuh rasa syukur.


"Terima kasih Allah. Ini akan menjadi kehamilan kedua ku," ucap Aruna.


"Yeayy ... Asyiikk .. Aku akan punya adik," ucap Elona girang, bocah itu baru saja genap lima tahun dua bulan lalu, dan sudah memasuki taman kanak-kanak.


"Elona senang, nak?" tanya Aruna di angguki oleh bocah itu.


"Tentu, ibu. Aku seeenang sekali ..." ungkapnya.


"Selamat ya bu atas kehamilan nya. Semoga janin nya sehat selalu." ucap sang Dokter.


"Terima kasih, Dokter."


"Ah ya, Dokter. Apa saja yang tidak boleh di lakukan istriku selama hamil?" tanya Haikal ingin memastikan, meski sebenarnya ia sudah tahu larangan apa saja yang tidak boleh di lakukan oleh ibu hamil.


"Yang utama tidak boleh stress, pak. Sebisa mungkin ibu Aruna harus tetap happy. Di jaga baik-baik mood nya. Sebab ibu hamil mudah sekali berubah mood nya. Jangan kecapean. Istirahat yang cukup. Tidak boleh begadang. Dan makan dengan pola teratur. Juga minum vitamin jangan lupa."


Haikal mencoba mengingat apa yang baru saja Dokter itu katakan.


"Baik, Dokter. Sebisa mungkin saya akan menjaga mood istri saya ini."

__ADS_1


"Jika ibu Aruna menginginkan sesuatu, jangan sungkan untuk bilang pada suaminya, ya. Sebab ngidam bagian dari ibu hamil."


"Iya, Dokter. Itu pasti," jawab Aruna.


"Mood itu apa, Dokter?" tanya Elona yang tidak paham maksud perkataan Dokter sejak tadi.


Dokter itu beralih menatap Elona dan mengulas senyum. "Mood itu semacam perasaan, sayang. Jadi perasaan ibu benar-benar harus di jaga. Ibu tidak boleh sedih, ibu harus senang selalu. Agar dedek bayi dalam perut ibu pun ikut sanang," jelas Dokter dengan pemilihan kalimat yang mudah sekali untuk di cerna oleh Elona.


"Oh begitu ya, Dokter. Jadi ibu tidak boleh menangis?"


"Betul, sayang."


"Ok, Dokter."


"Kalau begitu saya siapkan resep vitamin untuk ibu Aruna. Sebentar, ya," pamit Dokter.


Dokter itupun beranjak dari sana. Setelah memastikan Dokter itu pergi, Haikal selangkah lebih dekat pada ranjang pasien tempat Aruna berbaring saat ini. Ia langsung membawa Aruna ke dalam pelukannya. Setitik ari mata penuh bahagia menetes di pipinya.


"Selamat ya, sayang. Sebentar lagi kau akan menjadi ibu dari anak kita," ucap Haikal di antara tangis harunya.


Aruna mengangguk seraya menahan air matanya agar tidak menetes. Elona yang melihatnya ikut bahagia, sebab sebentar ia akan memiliki seorang adik kecil. Dan itu pasti akan sangat menggemaskan.


Di perjalanan pulang, tiba-tiba tatapan bahagia yang terpancar dari kedua manik mata Aruna seketika memudar. Pandangannya kini tertuju pada wanita hamil yang berjalan menyusuri bahu jalan dengan penampilan layaknya gelandangan. Tubuh yang kotor, baju yang robek-robek, wajah yang kusam, rambut berantakan dan bisa di katakan jika wanita itu tidak pernah mandi. Berjalan dengan tatapan kosong.

__ADS_1


Wanita itu tidak asing bagi Aruna. Meski penampilannya jauh dari yang ia lihat sebelumnya, namun tidak sampai membuatnya lupa dengan identitasnya.


Aruna menoleh ke arah belakang, lantaran mobil yang di kemudian oleh suaminya sudah melaju jauh dari tempat dimana wanita itu berjalan.


"Ada apa, sayang?" tanya Haikal ikut melihat ke arah belakang melalui spion yang menggantung.


Aruna menunjuk ke arah belakang.


"Elona tidur. Kenapa, sayang?"


Aruna menggeleng. "Bukan, bukan. Itu tadi aku seperti melihat Ziva berjalan di bahu jalan dan dia sedang hamil."


Haikal mengerutkan alisnya. "Ziva?"


"Iya."


"Mungkin salah lihat. Setahu aku Ziva itu tidak bisa hamil, sayang. Oleh karena itu dia memanfaatkan hal itu dengan bermain banyak pria."


"Tapi aku tidak mungkin salah lihat. Aku yakin dia itu Ziva. Tapi dia seperti seorang gelandangan. Rambutnya berantakan, tubuhnya kotor, kurus tidak terurus."


"Ya kalaupun itu benar, mungkin semesta sedang memberi balasan padanya dari apa yang selama ini di perbuat. Dan dia pantas menerima itu," ucap Haikal.


Aruna menoleh ke belakang sekali lagi. Meski sekarang ia sudah di jalan yang jauh dari tempat tadi melihat Ziva.

__ADS_1


Aruna masih memiliki rasa perikemanusiaan, jadi wajah jika ia masih memiliki rasa kasihan. Tanpa ataupun adanya Ziva, Tuhan Maha Baik padanya. Sama-sama memberi kebahagiaan besar. Tanpa adanya Ziva, mungkin saat ini ia masih berbahagia dengan keluarga kecilnya dulu bersama Abian. Dan adanya Ziva memberinya banyak pelajaran hidup. Menjadikannya seorang wanita kuat, wanita hebat, dan mandiri. Sebelum kemudian ia di persatukan dengan Haikal. Yang memberi kebahagiaan besar padanya.


_Bersambung_


__ADS_2