GAIRAH TEMAN ISTRIKU

GAIRAH TEMAN ISTRIKU
Elona Yang Bijak


__ADS_3

Aruna mengaduk susu Elona di wadah khusus yang biasa di pakai. Tiba-tiba saja ia kepikiran sesuatu.


"Pihak pengadilan agama sudah memberi tahu jika surat gugatan cerai ku keluar hari ini. Apa Abian sudah menerima surat gugatan cerai itu atau belum ya?" pikirnya.


"Aku berharap Abian sudah menerimanya, supaya dia tidak berpikir jika aku main-main dengan ucapannya. Aku berharap dia menyetujui gugatan cerai ini, agar aku bisa secepatnya terlepas darinya."


"Perpisahan yang aku inginkan bukan berarti aku tidak sayang Elona. Bukan berarti aku memutuskan hubungan ayah dan anak. Tapi aku rasa Elona sudah cukup paham dengan apa yang terjadi, meski itu hanya pemikiran anak-anak, suatu hari Elona akan lebih mengerti, bahwa apa yang aku lakukan sudah tepat."


"Aku sangat beruntung memiliki Elona, dia anak kecil tapi dia bisa merasakan bagaimana perasaan ibunya. Dia tidak merengek saat ayahnya tidak ada di sampingnya. Elona cukup mengerti."


Aruna menghela napas, ia hembuskan secara perlahan. Semoga langkah yang ia ambil sudah sangat tepat untuk ia melangkah ke hal yang lebih jauh lagi.


"Ibu .." panggilan Elona membuyarkan lamunan Aruna.


Aruna menoleh dan membalikan badan.


"Iya, sayang. Kenapa di sini? Ibu kan sudah bilang tunggu saja di kamar."


"Kenapa ibu lama sekali? Aku pikir ibu ketiduran di sini."


"Ah iya maaf, sayang. Tadi ibu mencuci piring yang kotor dulu."


"Bukankah ibu sudah mencucinya tadi setelah selesai makan?"

__ADS_1


"Iya, tapi ternyata masih ada yang belum ibu cuci. Ah ya, ini susumu."


Elona menerima susu tersebut dari tangan ibunya. "Terima kasih, ibu."


"Sama-sama, sayang. Ayo kembali ke kamar!"


"Iya, ayo."


Keduanya kembali ke kamar Elona. Bocah itu meminum susu yang masih hangat sampai setengahnya.


"Kenapa tidak di habiskan?"


"Sebentar, ibu. Ada yang ingin aku katakan pada ibu," jawab Elona.


"Tadi, ayah menemuiku di sekolah," ucapnya berterus terang.


Aruna sedikit kaget, namun ia tidak boleh memperlihatkannya di depan Elona. "Lalu?"


"Ayah memberiku coklat batang kesukaan aku, tapi tidak ku terima. Aku bilang, aku tidak makan coklat lagi, sebab gigiku akan sakit setelah memakannya. Padahal aku ingin sekali menerima coklat itu. Hanya saja, ibu pasti akan kecewa jika aku menerima coklat pemberian dari seseorang yang telah menyakiti hati ibu," jelas bocah itu.


Aruna terdiam dan menunduk. Karena permasalahan rumah tangga nya, Elona yang harus menjadi korbannya. Elona harus ikut terlibat dalam hal ini. Ia jadi sedih mendengar cerita tersebut. Ia berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh. Ia tahu, apa yang di lakukan Abian semata untuk mendapatkan hati putrinya kembali agar tidak membenci dirinya.


Aruna membelai rambut putrinya dengan lembut.

__ADS_1


"Elona, sayang. Elona tidak perlu membohongi perasaan Elona. Jika Elona mau coklat pemberian ayah, ambil saja. Bagaimanapun itu akan ayah Elona. Jangan hanya karena Elona takut karena ibu, Elona sampai membohongi Elona sendiri," tutur Aruna.


"Memangnya ibu tidak apa-apa kalau aku menerima apapun pemberian dari ayah? Aku takut ikut menyakiti hati ibu. Lagipula, aku benci pada ayah."


"Elona boleh marah dan kecewa pada ayah, tapi Elona tidak perlu sampai membencinya, ya. Ayah menyakiti hati ibu, tapi ayah tidak pernah menyakiti hati Elona bukan?"


Aruna ingat jika Abian pernah berpesan untuk tidak lupa menceritakan sisi baik dirinya juga.


"Ayah memang tidak menyakiti hati Elona, tapi dengan ayah menyakiti hati ibu, sama saja dengan menyakiti hati Elona."


"Sayang ..."


"Sudah, ayo kita tidur saja, bu. Jangan pikirkan aku, ibu sembuhkan saja luka ibu."


"Nak-"


"Aku sudah mengantuk, bu. Jangan ajak aku bicara lagi. Ayo kita tidur. Siapa tahu kita akan mendapat kebahagiaan besok."


Elona meminum susu yang masih tersisa setengahnya, kemudian membaringkan tubuhnya dengan kedua mata terpejam.


Aruna menghela napas. Ia jadi terharu dengan semua ucapan bocah itu.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2