GAIRAH TEMAN ISTRIKU

GAIRAH TEMAN ISTRIKU
Anak Manis


__ADS_3

Aruna dan putrinya sudah sampai di depan pagar rumah Haikal. Sebelumnya Elona meminta untuk membeli balon di taman dekat rumahnya, hanya saja penjual balon sedang tidak ada. Yang ada bapak penjual bola karet dengan berbagai ukuran. Elona memilih ukuran yang besar dan kebetulan hanya ada satu warna yang tersisa, yaitu hijau.


"Ayo kita masuk, ibu," ajak bocah itu sudah tidak sabar lagi.


"Sebentar, kita chat paman Haikal nya untuk memberi tahu jika kita sudah sampai."


Aruna merogoh ponsel di balik tas kecil yang ia bawa.


"Kemarin-kemarin kita langsung masuk, ibu. Tidak perlu mengabari paman Haikal dulu."


"Itu karena paman Haikal masih belum bisa jalan, sayang. Lagipula paman Haikal juga sudah memberi izin untuk kita langsung masuk saja. Sekarang paman Haikal kan sudah bisa jalan, sudah bisa membukakan pintu pagarnya untuk kita," jelas Aruna dan bocah itu mengangguk-anggukan kepalanya.


Usai mengirimkan pesan berisi info ia dan putrinya sudah sampai, tidak berapa lama pria itu datang membukakan pintu pagarnya.


"Kenapa tidak langsung masuk saja?" tanya pria itu usai membuka pintu pagarnya.


"Karena paman Haikal sudah bisa jalan dan menyambut kedatangan kami," jawab Elona.


"Kata siapa?"


"Ibu yang bilang, paman."


Haikal melirik wajah Aruna yang tampak memalingkan wajah begitu ia berusaha memandang nya.


"Oh jadi mau aku sambut?" goda pria itu.


Aruna menggeleng. "Tidak, bukan begitu. Rasanya tidak sopan saja jika menerobos masuk ke rumah orang begitu saja," jawab Aruna tanpa berani membalas tatapan Haikal.


"Benarkah?"


"Ya."

__ADS_1


"Ini bukan rumah orang lain. Sebentar lagi rumah ini juga akan menjadi rumahmu. Dan kau yang menjadi tuan rumahnya."


Aruna menoleh seketika.


"Maksudmu?" tanya wanita itu tidak paham.


"Aku yakin kau mengerti apa maksudmu, hanya saja kau pura-pura untuk mendengar yang lebih jelas lagi dariku."


Aruna di buat semakin gugup dan salah tingkah, entah kenapa akhir-akhir ini Haikal selalu saja membuat jantungnya tidak aman. Rupanya ia harus periksa kesehatan jantungnya yang kerap kali berpacu lebih cepat di atas normal.


"Ayo, masuk," ajak pria itu kemudian.


"Ayo, paman."


Elona lebih dulu masuk ke halaman rumah Haikal sementara Aruna masih mematung di tempat. Ia berusaha untuk mengontrol dirinya sendiri.


Tenang, Aruna. Tenang. Kau tidak boleh seperti ini. Haikal itu temanmu, tidak lebih. Hanya temanmu.


Aruna bergegas menyusul langkah Haikal dan putrinya masuk ke dalam rumah. Tapi sebelum itu, ia menarik napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Ia juga tidak lupa untuk menutup pintu pagarnya kembali. Takutnya ada orang yang berniat buruk masuk ke sana.


Perhatian seorang pria yang tengah duduk di sofa ruang tamu dan sibuk bermain ponsel seketika beralih pada bocah yang masuk bersama Haikal. Ia langsung bangkit berdiri dari duduknya.


"Kal, kau bawak anak siapa?" tanya pria itu sembari menoleh ke arah belakang Haikal, namun tidak ada siapa-siapa di sana.


"Ini Elona, putri Aruna," jawab pria itu.


"Jadi ini yang namanya Elona?"


Haikal mengangguk membenarkan.


"Manis sekali," puji pria itu kemudian membungkukan badannya mensejajarkan diri dengan Elona.

__ADS_1


Elona sedikit takut dan bersembunyi di lengan Haikal.


"Hei, jangan takut, Elona. Paman ini orang baik."


Elona tetap bersembunyi di lengan paman Haikal nya. Lalu pria itu mengulurkan tangannya pada Elona.


"Perkenalkan, nama paman ini Gavin. Elona bisa memanggil paman Gavin," pria itu mengenalkan diri.


Elona mendongakan wajah dan melihat paman Haikal nya. Haikal memberi sebuah anganggukan sebagai tanda jika pria yang mengenalkan diri padanya itu memanglah orang baik.


Perlahan tangan Elona terulur, lalu menjabat tangan itu.


"Aku Elona," balas Elona dan Gavin merasa senang bisa bertemu dengan anak itu.


"Senang bisa bertemu dengan Elona."


Elona merespon dengan anggukan saja.


Kemudian muncul Aruna dari belakang tubuh Haikal, Gavin segera menegakkan tubuhnya kembali.


"Jadi ini putrimu, Aruna?" tanya Gavin kemudian dan mendapat anggukan dari wanita itu.


"Iya," jawab Aruna.


"Pantas saja Abian begitu takut kehilangannya, ternyata putrinya semanis ini," ucap Gavin tanpa sadar.


"Paman mengenal ayahku?" tanya Elona seketika menyadarkan Gavin.


Pria itu menatap wajah Haikal dan Aruna secara bergantian. Jujur, ia tidak sengaja menyebutkan nama Abian di depan mereka.


Bukan hanya Elona, Aruna pun bertanya-tanya kenapa Gavin bisa berkata demikian. Apakah mereka saling mengenal? Terdengar nya dari kalimatnya seperti dua orang yang saling kenal dekat.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2