GAIRAH TEMAN ISTRIKU

GAIRAH TEMAN ISTRIKU
Masukan Positif


__ADS_3

Siang ini Abian di ajak makan siang bersama Gavin. Dan ini jadi kesempatan bagi dirinya untuk mencurahkan isi hatinya pada pria itu. Sebab Gavin selalu bisa memberinya masukan yang positif.


"Kau bisa memesan makanan apapun yang kau mau, nanti total tagihannya biar aku yang bayar," ucap Gavin pada Abian.


"Ah iya, terima kasih. Tapi sepertinya tidak perlu. Aku masih punya uang untuk membayar makanannya," tolak Abian sopan.


"Oh tidak apa-apa. Simpan saja uangmu. Biar nanti aku saja yang bayar. Tenang saja, ini tidak akan mempengaruhi gajimu. Jadi, jangan menolak, ya."


Abian pun mengangguk. Ia benar-benar beruntung bisa di pertemukan dengan orang sebaik Gavin. Mungkin semua yang terjadi di kehidupan, yang buruk tidak selamanya buruk. Di balik itu semua pasti ada hal baik. Contohnya seperti sekarang ini, ia bisa kenal dengan teman sebaik Gavin.


"Terima kasih," ucap Abian kemudian.


"Sama-sama," balas pria itu.


Keduanya memilih menu makan, sebelum kemudian memanggil pelayan restoran Jepang tersebut.


Sambil menunggu pesanan tiba, mungkin ini saatnya bagi Abian untuk mulai mencurahkan isi hati nya pada Gavin.


"Mmm ... Aku ingin cerita sesuatu padamu," ujar Abian mengawali.

__ADS_1


"Cerita apa?" tanya Gavin penasaran.


"Sebenarnya aku malu jika harus menceritakan urusan pribadi ku padamu. Tapi aku tidak tahu lagi harus cerita dengan siapa. Sebab kau satu-satunya temanku saat ini. Selain itu, kau juga selalu bisa memberiku masukan positif."


Gavin mengulas senyum. "Aku senang jika kau menganggapku sebagai temanmu di luar kantor, sebab aku atasanmu hanya untuk di kantor. Di luar itu, kita teman."


"Ya, oleh karena itu, aku ingin mencurahkan isi hatiku padamu. Itupun jika kau tidak keberatan untuk mendengarkan."


"Aku sama sekali tidak keberatan untuk mendengar setiap keluh kesahmu. Jika itu bisa membuatmu merasa sedikit lebih lega, maka aku siap menjadi pendengar yang baik untukmu."


"Terima kasih, kau baik sekali padaku," ucap Abian.


Abian diam sejenak. Antara bingung dan malu membuatnya sedikit ragu. Tapi ia tidak punya waktu lama, ia harus menceritakan isi hatinya pada Gavin. Sebab ia tidak bisa setiap hari bertemu dengan pria itu.


Abian menarik napas panjang, sebelum kemudian ia mulai bercerita.


"Jujur, aku mulai resah dengan kata-katamu," ungkap Abian membuat Gavin sedikit tidak paham.


"Kata-kataku yang mana?" tanya Gavin.

__ADS_1


"Saat ini Aruna dan putriku sedang dekat dengan pria lain. Namanya Haikal. Dia teman Aruna. Dan yang membuat aku resah, aku takut jika kata-katamu itu akan terjadi. Saat aku sedang berusaha untuk mewujudkan harapan yang dulu sempat aku dan Aruna impikan, aku takut pria itu yang lebih dulu mewujudkannya. Seperti yang pernah kau katakan padaku waktu itu. Menurutmu, sekarang aku harus bagaimana?" ungkap Abian dan meminta solusi dari Gavin.


Gavin menghembuskan napas. Sambil menyusun kata-kata untuk menjawab pertanyaan Abian.


"Abian. Cinta itu tidak hanya tentang memiliki, tapi juga mengikhlaskan. Jika kau sungguh-sungguh mencintai Aruna, kau hanya perlu membuatnya bahagia. Bahagia di sini bukan berarti kau harus bersamanya. Tapi juga dengan siapapun Aruna bahagia, itu sudah lebih dari cukup. Kau tidak bisa memaksa Aruna ataupun dirimu untuk tetap bersamanya. Semakin kau memaksakan diri, maka semakin kau akan merasakan sakit. Jadi mulai sekarang, kau harus mulai mengikhlaskan Aruna. Walaupun itu berat," tutur Gavin bijak.


Abian bergeming. Apa yang di katakan oleh Gavin memang sangat benar. Ia tidak bisa terus menerus memaksakan diri untuk bisa bersama Aruna. Itu hanya akan membuatnya sakit. Ia harus belajar ikhlas mulai saat ini, meski ia masih tidak rela jika ada pria lain yang akan memeluk Aruna dan putri kecilnya.


"Terima kasih atas masukannya, Gavin. Ini yang aku suka darimu. Kau selalu bisa membuat perasaanku jauh lebih lega," ucap Abian.


"Ya, sama-sama, Abian. Jika ada yang ingin kau ceritakan padaku, aku akan selalu wellcome denganmu. Tidak usah sungkan, jika aku bisa memberimu solusi, akan aku berikan. Aku justru senang jika masukan dariku di terima dengan baik."


"Aku terima masukan darimu, dan aku masih butuh masukan-masukan lain darimu. Terima kasih sudah mau mendengarkan curhatan hatiku. Aku lega sekarang. Dan aku bisa mengambil langkah apa yang ingin aku tuju, yaitu ikhlas."


"Semoga kau mampu melewatinya. Semangat, ya."


"Iya."


Obrolan mereka terhenti saat pelayan datang untuk mengantarkan makanan. Tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka. Kedua sibuk menyantap makan masing-masing.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2