GAIRAH TEMAN ISTRIKU

GAIRAH TEMAN ISTRIKU
Kabar Baik dan Buruk


__ADS_3

Dua bulan berikutnya, Haikal mendapat kabar jika Gavin akan segera melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat setelah menemukan pasangan yang tepat yang akan dia jadikan istri terakhir. Gavin juga memberinya kabar jika dia akan tinggal di luar negeri usai menikah. Haikal bahagia sekaligus sedih, sebab satu-satunya sepupu yang selalu ada untuknya di masa sulit akan pergi jauh dan meneruskan hidupnya di negri orang.


"Jangan bersedih, setiap orang memiliki porsi hidupnya masing-masing. Kita cukup bahagia saja lantaran Gavin sudah menemukan pasangan yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Semoga mereka di limpahkan kebahagiaan." Aruna mengusap bahu suaminya.


"Iya. Tapi tetap saja, aku sedih, sayang. Gavin satu-satunya orang yang ada untuk aku. Bahkan di saat aku tidak jalan, Gavin orang yang selalu ada selain dirimu. Aku bahkan belum sempat membalas kebaikannya."


"Kita bisa balas kebaikan orang-orang dengan do'a. Biar Tuhan saja yang membalas kebaikannya jika kita belum mampu membalasnya," tutur Aruna bijak.


Haikal menatap istrinya lekat. Apa yang di katakan oleh Aruna ada benarnya juga. Ia berharap Tuhan membalas kebaikan Gavin. Dan wanita yang akan bersama Gavin merupakan orang paling beruntung. Bisa mendapat sosok pria seperti Gavin.


"Iya, sayang. Kau benar. Semoga saja Tuhan membalas kebaikan Gavin. Dia orang yang sangat baik dan berjasa di hidup aku."


"Iya. Kita do'akan saja semoga pernikahannya nanti berjalan dengan lancar. Dan dia di berikan kesehatan selalu selama nanti tinggal di luar negeri."


"Aamiin ... Aamiin, sayang."


Aruna lega melihat suaminya sudah kembali tersenyum setelah beberapa saat murung mendengar kabar Gavin yang akan tinggal di luar negeri.


"Kalau begitu aku jemput Elona dulu, ya. Ini sudah hampir jam sepuluh. Sebentar lagi waktunya Elona pulang sekolah," pamit Haikal di angguki oleh Aruna.


"Iya, hati-hati, ya."


"Iya, sayang." Haikal meninggalkan sebuah kecupan di kening Aruna, sebelum kemudian ia bangkit berdiri dan beranjak dari sana.

__ADS_1


Baru beberapa langkah dari sana, langkahnya terhenti begitu ia mendengar Aruna merintih seperti orang yang berusaha menahan sakit.


"Aawww ..."


Haikal sontak membalikan badan dan melihat Aruna memegangi perutnya.


"Sayang, kau kenapa?" tanya Haikal panik dan bergegas menghampiri Aruna.


"Perut aku sakit sekali .. Awwhhh .. Sakit ..."


Haikal di buat cemas dan panik begitu ia melihat cairan putih bening yang di sertai darah keluar mengalir di kaki Aruna.


Pikiran Haikal sudah kemana-mana. Tapi ia berusaha untuk tetap berpikir positif. Ia tidak boleh terlihat panik di depan Aruna.


Dengan cepat Haikal membopong tubuh istrinya dan membawanya menuju mobil. Ia berjalan tergopoh-gopoh saking buru-burunya. Dan begitu sudah masuk ke dalam mobil, ia segera menghidupkan mesin dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, namun ia tetap berhati-hati.


"Bertahan ya, sayang. Aku tahu kau wanita yang kuat. Sabar ya, kita sudah menuju rumah sakit sekarang. Jangan pikirkan apapun, aku yakin tidak akan terjadi sesuatu denganmu," ucap Haikal berusaha menenangkan.


"Aawwhhh ... S-sakiitt ..." Aruna terus saja memegangi bagian perutnya.


Haikal menambah kecepatan laju mobilnya. Sepuluh menit berikutnya, ia sudah sampai di rumah sakit terdekat. Aruna segera di bawa oleh suster dan perawat di sana.


Langkah Haikal beriringan dengan brangkar pasien yang membawa Aruna menuju ruangan khusus. Setelah sampai di ruangan, Haikal di minta untuk menunggu di depan sementara Dokter memeriksa di dalam.

__ADS_1


Haikal menunggu di luar dengan perasaan khawatir. Ia takut sekali sesuatu buruk terjadi pada Aruna.


"Yaa Allah ... Selamatkanlah Aruna dan calon bayiku. Semoga keduanya baik-baik saja dan itu hanya pendarahan biasa," ucap Haikal penuh harap.


Ia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Mungkin ini sudah jam nya Elona pulang sekolah, dan ia tidak bisa menjemputnya.


Haikal mencoba untuk menghubungi Gavin, meminta sepupunya untuk menghubungi Abian agar pria itu yang menjemput Elona.


Usai menghubungi Gavin dan Gavin bilang jika Abian siap menjemput Elona di taman kanak-kanak, Haikal kembali mengantongi ponselnya begitu Dokter yang menangani Aruna keluar ruangan.


"Dokter, bagaimana keadaan istri dan bayi saya? Apa keduanya baik-baik saja?"


Dokter itu menghembuskan napas kecil, dari wajah Dokter itu Haikal merasa jika semuanya tidak baik-baik saja.


"Ibu Aruna mengeluarkan banyak darah, pak. Sehingga ibu Aruna mengalami keguguran."


Kalimat Dokter barusan membuat sekujur tubuh Haikal lemas. Lututnya serasa tidak mampu lagi menopang beban tubuhnya hingga ia jatuh terkulai berlutut ke lantai.


"Yaa Allah .. Kenapa Aruna keguguran?"


Haikal menitikan air matanya, air mata sedih karena ia harus kehilangan buah hatinya yang baru saja berumur tiga bulan di dalam kandungan.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2