GAIRAH TEMAN ISTRIKU

GAIRAH TEMAN ISTRIKU
Teman Cerita


__ADS_3

Mobil yang di kemudikan Haikal berhenti di depan gerbang sekolah Elona. Mereka semua turun dari mobilnya.


"Belajar yang pintar ya, sayang. Dan ingat, jangan usil pada temanmu," pesan Aruna.


"Baik, ibu. Ibu tidak usah khawatir, aku tidak pernah usil pada temanku."


"Bagus. Ya sudah, cepat masuk kelas."


"Iya, ibu."


Alih-alih pergi dari sana, Elona menarik tangan ibunya agar badan ibunya sedikit membungkuk. Lalu ia membisikan sesuatu.


"Ibu, jangan terlalu dekat dengan paman itu. Aku takut ibu di ambil olehnya."


Aruna tersenyum. Bagaimana bisa putrinya memiliki pikiran sejauh itu.


"Shhttt ... Elona jangan berpikiran seperti itu. Tidak baik, sayang."


"Maaf, ibu. Aku hanya takut saja."


"Sudah sana masuk kelas, temanmu sudah masuk semua."


"Ok, ibu."


Elona berlari menuju kelasnya.


"Hati-hati, Elona. Nanti kau terjatuh," teriak Aruna, pandangannya terus mengawasi putrinya, khawatir jika Elona sampai terjatuh.


Aruna menghela napas lega, Elona sudah masuk ke kelasnya.

__ADS_1


"Menyenangkan ya punya seorang anak," ujar Haikal.


"Ya, tentu saja. Apalagi Elona anak yang baik, penurut, dan aku sangat bersyukur memilikinya. Dia juga alasan kenapa aku masih bertahan sampai saat ini."


Ungkapan dan perubahan mimik wajah Aruna begitu tergambar jelas jika dia adalah wanita yang tegar, yang mampu menutupi segala kesedihannya dengan senyuman. Haikal memang tidak tahu betul seperti apa permasalahan rumah tangga Aruna, tapi ia salut dengan ketegaran Aruna.


"Aruna," panggil Haikal lirih.


"Hm, ya?"


"Bisa aku bicara denganmu?" tanya Haikal dengan raut wajah serius.


"Bukankah sekarang kita sedang bicara?"


"Ada hal yang lebih penting daripada ini. Itupun jika kau bisa. Jika tidak bisa, tidak apa-apa. Aku tidak akan memaksamu."


Aruna kemudian mengangguk setuju.


"Bagaimana kalau kita mengobrol di taman dekat sini?" tanya Haikal lagi.


"Iya," jawab Aruna setuju.


Keduanya segera masuk ke dalam mobil. Sekitar lima menitan, mereka sampai di taman yang Haikal maksud.


"Ayo," ajak Haikal untuk duduk di bangku yang tersedia di sana.


"Iya."


Aruna mengikuti langkah Haikal, kemudian duduk di bangku yang muat untuk dua orang saja. Kebetulan matahari belum tinggi, jadi pansanya belum terasa terik.

__ADS_1


"Aku tidak bermaksud untuk ikut campur dengan masalah pribadimu, Aruna. Aku juga tidak akan memaksamu untuk menceritakan permasalahanmu padaku. Tapi jika kau butuh teman cerita untuk menumpahkan keluh kesah, saat ini kau sedang bersama dengan orang yang tepat. Tidak baik jika masalah kau pendam seorang diri," ucap Haikal mengawali pembicaraan.


Aruna menatap Haikal sekilas. Ia memang butuh sekali teman cerita. Tapi setelah pengkhianatan yang di lakukan oleh teman yang begitu ia percaya, ia sedikit trauma dan mulai sangat hati-hati.


"Kau teman yang baik, Haikal. Aku juga memiliki teman yang aku anggap lebih baik.


Bahkan aku hidup dengan seseorang yang paling baik. Tapi aku di khianati. Jujur aku masih takut dengan pengkhianatan itu."


Haikal berusaha mencerna maksud perkataan Aruna. Sepertinya masalah yang di hadapi Aruna ini memang bukan masalah spele, tapi masalah besar.


"Maksudmu, kau di khianati oleh teman baikmu yang maaf, selingkuh dengan suamimu?"


Aruna diam, ia tidak menggeleng maupun mengangguk membenarkan. Rupanya Haikal mengerti maksud perkataannya.


Perlahan Haikal mengerti permasalahan yang sedang di hadapi Aruna. Aruna juga perlahan menceritakan kenapa perselingkuhan itu sampai terjadi. Ia memang kehilangan kepercayaan terhadap seseorang, tapi bukan berarti semua orang tidak bisa ia percaya lagi. Termasuk Haikal.


"Sejauh ini aku melihat kau wanita yang kuat, kau wanita yang hebat, Aruna. Kau tetap tenang di situasi berat seperti ini. Belum tentu aku sendiri bisa sekuatmu."


"Sebab aku memiliki tanggung jawab besar terhadap putriku, Haikal. Jika bukan karenanya, aku sudah rapuh. Aku sudah tenggelam dalam keterputukan. Ke dalam lembah jurang kepedihan. Aku juga memiliki tetangga yang jauh lebih hebat daripada wanita yang ada di hadapanmu. Dia mampu berdiri di atas kakinya sendiri, membesarkan putrinya seorang diri, wanita mandiri. Dia juga wanita yang menginspirasiku ketika aku nyaris hanyut dalam kesedihan."


"Bagiku, kau yang terhebat, Aruna."


Aruna menatap wajah Haikal untuk seperkiam detik. "Terima kasih, Haikal."


"Sama-sama, Aruna," balas pria itu.


Entah kenapa, setelah menceritakan apa yang selama ini ia pendam sendiri pada Haikal terasa melegakan. Mungkin ia memang butuh seseorang untuk menumpahkan setiap keluh kesah. Dan beruntungnya ia masih punya Haikal.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2