
Aruna sesekali melirik ke arah Haikal yang tampak fokus menyetir. Pandangan pria itu lurus ke depan, menatap jalanan yang kebetulan lenggang.
Aruna tahu jika Haikal ini pria baik-baik. Tapi ia takut salah mengartikan kebaikan pria itu padanya. Akhir-akhir ini baiknya Haikal itu serasa berbeda. Entah itu perasaannya saja atau memang ada maksud dan tujuan lain di balik kebaikannya.
Sebelum semuanya terlalu jauh, ada baiknya Aruna menanyakan tentang hal demikian. Ia menoleh ke jok belakang, memastikan Elona. Ternyata bocah itu tertidur.
"Haikal ..." panggil Aruna lirih.
Haikal menoleh. "Hm, iya. Kenapa, Aruna?"
"Mm ... Nyetir nya pelan-pelan ya, soalnya Elona tidur," pintanya.
Haikal melihat Elona dari kaca spion yang menggantung di hadapannya. Benar, Elona tertidur. Ia menurunkan kecepatan laju mobilnya.
"Elona terlihat lelah, sampai dia ketiduran. Kalau kau mau tidur juga, tidur saja. Tidak apa-apa. Kau pasti lelah juga, Aruna."
__ADS_1
"Iya, terima kasih, Haikal. Tapi aku tidak mengantuk. Ah ya, sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan padamu. Tapi janjin ya kau jangan sampai tersinggung."
Haikal mengerutkan dahinya dan menatap Aruna sekilas dengan senyum kecil.
"Memangnya kau mau tanya apa?"
Aruna diam sejenak, sebenarnya ia tidak enak jika harus mempertanyakan kebaikan Haikal. Tapi ini memang sudah seharusnya ia pertanyakan.
"Mmm ... Akhir-akhir ini kau baik sekali padaku, Haikal. Kau beberapa kali mengantarku pulang. Kau sempat mengantar aku dan Elona ke sekolah. Bahkan kau sampai membelikan hadiah untuk Elona. Aku hanya takut salah mengartikan kebaikanmu ini," terang Aruna jujur.
Aruna menggeleng. "Bukan, bukan seperti itu maksudku, Haikal. Kau jangan salah paham dulu. Kau kan tahu jika aku sudah mengajukan gugatan cerai untuk Abian. Dan sebentar lagi kami resmi berpisah. Jadi apa kebaikanmu selama ini ada maksud dan tujuan lain?"
Wajah Haikal berubah serius, Aruna bisa melihat dari pancaran kedua manik matanya.
"Aku hanya berusaha untuk menjadi orang baik saja, Aruna. Tapi jika kau menilai kebaikanku ini berlebihan, dan kau merasa risih dan terganggu, maka aku tidak akan menggangumu lagi."
__ADS_1
Jawaban Haikal membuat Aruna kurang paham. Dan membuat Aruna berpikir jika Haikal memiliki maksud dan tujuan lain di balik kebaikannya.
"Kita ini teman, Haikal. Dan selamanya akan menjadi teman. Aku tidak pernah merasa terganggu oleh kehadiranmu. Aku sangat berterima kasih padamu karena kau begitu baik padaku."
Kalimat pertama Aruna sebenarnya membuat harapan Haikal pupus seketika. Tapi ia tidak boleh menyerah begitu saja, mungkin belum waktunya saja. Kebetulan Aruna juga memang baru saja akan berpisah. Perlu banyak waktu untuk memulihkan luka yang begitu besar.
"Iya, Aruna."
Haikal kembali fokus menyetir. Ia sedikit menunduk agar Aruna tidak bisa melihat perubahan raut wajahnya.
Sementara Aruna menghembuskan napas lega lantaran ia sudah bisa menanyakan dan memastikan langsung tentang kebaikan Haikal. Meski ada yang masih mengganjal dari jawaban yang Haikal berikan. Tapi tidak apa-apa, yang terpenting Haikal bisa mengerti jika selamanya mereka akan tetap menjadi teman. Hanya teman.
Meski kau menganggapku hanya sebagai teman, tapi aku menganggapmu lebih dari itu, Aruna. Aku berharap suatu hari kau bisa mengerti dengan apa yang aku rasakan. Tapi jika pada akhirnya kita hanya di takdirkan sebagai teman, aku tidak apa-apa. Aku masih beruntung bisa mengenal dirimu. Inilah alasan kenapa aku belum menikah sampai sekarang. Aku pernah menunggumu, tapi pada akhirnya kau lebih memilih Abian. Dan sekarang, aku ingin menunggumu lagi. Meski aku tidak tahu apakah penantian ini akan memiliki jawaban yang sesuai dengan harapan atau tidak?
_Bersambung_
__ADS_1