GAIRAH TEMAN ISTRIKU

GAIRAH TEMAN ISTRIKU
Makan Pizza


__ADS_3

Abian melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan nya. Jarum jam sudah mengarah ke angka jam sepuluh pagi. Itu artinya ia harus segera menjemput Elona ke sekolah.


Setelah meeting selesai, Abian bergegas pergi. Berharap jalanan tidak macet agar ia cepat sampai di sekolah putrinya. Ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Sementara di sekolah, acara pentas seni sudah selesai. Satu persatu murid yang lain sudah pulang. Dan sekarang, hanya ada Ziva dan Elona di sana. Mereka menunggu di depan gerbang sekolah tersebut.


"Bibi Ziva, ayah aku kemana, ya? Kenapa lama sekali," ujar Elona.


"Tunggu sebentar lagi, ya. Mungkin ayah sedang terjebak macet."


Elona mengerucutkan bibirnya. Sudah hampir sepuluh menit mereka berdiri di sana. Kaki mulai pegal. Namun mobil yang mereka tunggu-tunggu belum juga terlihat.


"Bibi Ziva punya ponsel?" tanya Elona kemudian.


Ziva menggeleng. "Tidak punya. Kenapa?"


"Tadinya aku ingin telepon ayah, untuk menanyakan 'ayah sudah sampai mana. Apa ayah jadi jemput kita atau tidak."


Ziva membelai lembut rambut Elona.


"Sabar, ya. Sebentar lagi pasti datang."


Elona pun mengangguk.


Sepuluh menit berikutnya, Elona mengembangkan senyum begitu kedua matanya melihat mobil yang sejak tadi ia tunggu-tunggu datang.


"Bibi Ziva, itu ayah." Tunjuk Elona pada mobil yang datang ke arahnya.

__ADS_1


Ziva menoleh ke sebelah kiri, dan benar saja. Itu mobil Abian.


Mobil hitam tersebut berhenti tepat di samping mereka. Pria itu turun dari mobilnya dan menghampiri Elona.


"Sayang .. Maafkan ayah. Ayah telat menjemputmu," ucap Abian seraya membungkukan badan nya. Mensejajarkan diri dengan putrinya.


"Kenapa ayah lama sekali? Apa ayah terjebak macet saat di perjalanan?"


"Iya. Tadi ayah terjebak macet, sayang. Maafkan ayah, ya."


"Iya, ayah. Tidak apa-apa. Ayo kita pulang."


"Iya. Ayo, sayang."


Abisan menegakkan tubuhnya, ia melirik ke arah Ziva. Wanita itu tersenyum padanya.


"Terima kasih sudah mendampingi Elona," ucap Abian kemudian.


"Ayah, aku ingin makan pizza," pinta Elona tiba-tiba.


Perhatian Abian kembali teralih pada putrinya.


"Elona mau makan pizza?"


"Iya, ayah. Kita makan pizza, yuk. Sama bibi Ziva juga."


"Bibi Ziva mau, sayang," timpal wanita itu.

__ADS_1


"Makan pizza nya nanti sore saja ya, sayang. Nanti kita makan bersama sama ibu juga."


"Aku mau sekarang, ayah. Kalau ayah tidak mau, ya sudah, tidak apa. Tidak usah beli." Elona mengerucutkan bibirnya.


Abian menghela napas panjang. Ia paling tidak bisa menolak permintaan putrinya.


"Ya sudah, sekarang masuk ke mobil. Kita beli pizza di tempat biasa, ya?"


"Asyiiikkk ..." Elona bersorak senang.


Ziva pun ikut senang. Itu artinya mereka akan bertiga. Dan ini sangat bagus untuk pendekatan mereka tanpa melibatkan Aruna.


Sementara Elona duduk di jok belakang kemudi, Ziva duduk di depan di samping Abian. Pria itu kembali merasakan canggung, tapi ia harus tetap biasa saja lantaran ada Elona juga di sana.


Selama perjalanan, Ziva sama sekali tidak mengalihkan pandangan nya dari wajah Abian. Pria itu di buat gugup dan fokus menyetir nya hilang.


"Berhenti menatapku seperti itu!" pinta Abian dengan nada bicara pelan.


"Memangnya kenapa?"


"Aku tidak suka."


"Kau yakin tidak suka?" Ziva dengan sengaja mendekatkan wajahnya pada wajah Abian, menatap pria itu dengan jarak dekat.


"Tolong jangan seperti ini. Di sini ada putriku," pinta Abian.


Ziva pun menjauhkan wajahnya. "Ok, aku akan melakukan nya lagi setelah tidak ada Elona. Jadi hanya kita saja berdua. Itu maksudmu?"

__ADS_1


Abian tidak menanggapi ucapan Ziva, ia tidak ingin putrinya mendengar apa yang mereka ucapkan. Khawatir jika Elona nanti mengadu pada Aruna.


_Bersambung_


__ADS_2